Hutang dari Toko Waktu

Authorpemalas
Chapter #16

Bagian V : Bunga yang Mulai Kembali Mekar

[Senin, 25 Agustus 2014]

Masa SMP mungkin adalah gambaran ideal diriku, seorang ranking pertama, memenangkan banyak lomba level nasional, dan ditawari beasiswa oleh berbagai tempat les major dan minor. Ayahku mengenakan jas kebanggaannya ketika mengambil rapor, dan setelahnya kami makan es krim bersama. Aku bukan tipe orang yang mudah berbaur saat SMP, namun orang-orang mendekatiku, sosok itu adalah bunga di mataku. 

Sangat berbeda jauh ketika aku masuk SMA internasional, orang-orang yang kompetitif dan jenius lebih banyak, bersosialisasi menjadi lebih penting, dan aku merasa mulai layu ketika dihancurkan oleh orang sekitarku. Ayahku tidak lagi mengenakan jas kebanggaannya itu lagi, ada kejadian yang membuat beasiswa mencabut permanen program mereka.

Di timeline yang baru, aku berusaha untuk menjadi bunga mekar dan indah, seperti saat di SMP. Meskipun banyak hal yang justru merugikan, contohnya Gamaliel si preman mungkin akan jadi perundung baru, karena aku mengusik Clarissa. 

Kemarin setelah dihajar habis-habisan, rasa sakitnya jadi lebih parah. Ayah menyuruhku memulihkan diri dan jangan memaksakan ke sekolah, dari tanggal 19-22 agustus aku tinggal di rumah, hanya belajar. Aku ingin ke warung internet mencoba mengasah skill Codingku lagi, namun dilarang. Bahkan aku melewatkan kerja paruh sabtu-minggu di tanggal 23 dan 24. Gamaliel bajingan.

Saat ini aku datang paling awal, duduk di bangku sembari mengerjakan soal matematika di kelas—masih ada sekitar 40 menit sebelum bel berbunyi. 

Aku berhenti mencatat saat mendengar suara langkah kaki, menoleh ke pintu untuk melihat siapa yang datang. Itu adalah Yuna yang datang dengan jaket bewarna hitamnya, mata kami bertemu tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Dia hanya terus berjalan lalu duduk di bangkunya.

Aku melanjutkan kesibukan dengan soal matematika, sambil memangku dagu di tangan. Tempo hari Yuna mengatakan dia benci orang yang melakukan kekerasan, mungkin itu alasannya dia tidak menyapa atau memang dia kaku saja, karena sejak kapan ia menyapa kalau tidak ada keperluan. Aku tidak memahami perempuan itu. 

Kemarin, Ben berkunjung ke rumah untuk memberi tahu tugas selama aku tidak masuk dan menceritakan kelas kami benar-benar batal ikut lomba drama kabaret, selain itu ia menjelasakan beberapa cerita 'penting' seperti Yuna menghindari Zio karena terlibat kekerasan, Ben yang dibully namun melawan balik walaupun berujung kekalahan atau Gamaliel yang selalu mencariku saat tidak masuk. Perhatian sekali pria itu.

Suara pensil yang bergesek mengisi ruangan, dan gerimis di luar membuat udara semakin dingin. Aku mengenakan kembali jaket yang ku lepas saat aku datang kemari, mengosok-gosokan telapak tangan. 

Kali ini suara berlari datang, agak terdengar gaduh dan berat. Di pintu Ben datang, membawa payung yang tertutup. Benda itu bergambar angry bird, ia sering kenakan saat SMP. Serius dia tidak mau menggantinya?

"Pagi Yuna!" sapa dia. Gadis itu hanya membalas dengan mengangguk lalu kembali sibuk membaca buku. Ben duduk di kursinya dan menghadapkan badannya ke mejaku.

"Gon, gue kemarin nonton The Guardians of Galaxy, pecah banget tu film padah superhero-nya gak terkenal, tapi gue gatahu ini nyambung ga yah sama The Avengers, karena katanya musuhnya sama, gue gamau spoiler!"

Spoiler? dia tidak tahu aku sudah menonton sampai End Game, dan itu peak marvel. Jangan khawatir. Aku hanya mengganguk ketika Ben menceritakan semuanya dengan heboh, dia memang aneh tidak mau spoiler, ujungnya mencertitakan alurnya. 

Namun rasanya senang, akhir-akhir ini aku berpikir apakah melawan Rey dan Theo saat itu tidak ada gunanya? Tapi melihat Ben yang sekarang, ia berusaha melawan balik meski terus kalah, dan dia datang dengan menceritakan dengan ceria apa yang dia lakukan di akhir pekan. Aku merasa sosok pemurung Ben di timeline dulu mulai terkikis.

"—Dan Gon kayaknya gue mau nge-gym!"

Lihat selengkapnya