Guru Etika dan Kewarganegaraan selau menjadi jam pelajaran yang membosankan, namun itu dulu, sekarang aku menikmati ceramah orang tua di depanku.
Guru Pelajaran ini adalah Pak Herbert, dia selalu meracau tentang logika aristotelian dan betapa hebatnya buku republik karya plato, bahkan hari ini dia masih membicarakannya. Pria yang rambutnya memutih sering melempar pertanyaan filosofi, semua murid hanya membisu. Aku melihat Ben di depanku menguap beberapa kali, beberapa murid ada yang bermain ponsel diam-diam, mungkin cuma Yuna yang sibuk mencatat—Lagipula aneh , ngapain di catet? yang keluar di ujian bukan fisalfat juga, tapi nomor undang-undang.
Ketika masuk ke fase mahasiswa akhir dibandingkan buku komputer atau metode penelitian, aku lebih suka membaca buku fisalfat. Stoikisme adalah cabang fisalfat pertama yang ku pelajari, mungkin karena seorang Youtuber —yang tidak mau aku sebutkan namanya— mempopulerkan stoik, sebenarnya di tahun 2018 ada buku yang mega best seller karya Henry Manampiring yang cukup populer juga.
"Saya ingin kalian membedakan logika dan kebenaran, apakah logis itu sama dengan benar?" Dia mengajukan pertanyaan sambil tersenyum. "Kamu!" tiba-tiba menunjuk Kirana, gadis berkacamata itu sedikit tersentak.
"Iya pak, logis itu mu-mungkin sama dengar benar."
Laki-laki tua itu tidak memberi sanggahan, ia malah menunjuk siswa yang lain. "Kamu yang kayak bule!" seisi kelas tertawa, gadis itu adalah Luna.
"Saya tidak tahu, bapua," jawab gadis pirang itu dengan logat bule yang polos.
Bukannya marah, pria itu masih menunjukan raut ramah, kemudian matanya mengawasi lagi target berikutnya. Aku memaku pandangan berharap ditunjuk, mata kami bertemu saat ia sedang menyeleksi.
"Kamu," dengan santai ia menunjuku.
ah, memang harus sepuh sepertiku yang harus menjawab.
Aku berdiri dari kursi, menarik nafas terlebih dahulu. "Logika belum tentu kebenaran, Logika berkaitan dengan aturan dalam penalaran, pak!"
Rasa percaya diri meningkat drastis, meskipun bahasaku mungkin terlalu formal. Di depan pak Herbert memegang dagunya. "Bapa merasa penjelasanmu kurang lengkap, beri sebuah contoh!" Ujarnya sambil tersenyum tipis.
"Mungkin dalam silogisme pak, saya bisa membuat premis contohnya semua manusia itu bewarna hijau, John adalah manusia, maka John bewarna hijau, ini sesuai dengan aturan logika, namun kita tahu 'manusia yang bewarna hijau' bukanlah kebenaran."
Pak Herbert menepuk kedua tangannya secara berirama pelan, dia berjalan ke meja guru mengambil kertas absen, lalu kedua matanya kembali ke arahku. "Nama kamu siapa?"
"John, pak." Selepas aku menjawab ia seperti menulis sesuatu, selesai melakukannya ia pergi ke papan tulis, menulis sesuatu.
"Tugas kelompok untuk presentasi minggu depan, pilih salah satu topik yang di sini," tangkasnya sambil menunjuk whiteboard, dia berdeham sebentar. "Untuk kelompoknya kalian yang tentukan sendiri, karena ada 21 orang di kelas ini, 1 kelompok 4 orang, ada satu kelompok yang lima orang, ada pertanyaan?"
Kelas membisu, namun tangan Yuna terangkat untuk memecah keheningan.
"Bapak, izin bertanya."
"Iya, kamu?"
"Kenapa di kelas etika dan kewarganegaraan, kami diajari logika?"