"John, kerjamu lambat, senin ini harusnya sudah masuk ke fitur empat!"
Pria yang sedang marah di depanku bernama Fadil, Seseorang project manager dengan rambut panjang sebahu, agak bergelombang dan berkacamata. Dia sedang mengutak-atik laptop di depannya melihat kode pemrograman. Saat ini aku berada di ruangannya yang sempit, menghadapi laki-laki yang sedang mengeluh.
Aku mengutuk perusahaan startup ini, bayangkan dokumentasi pengembangan software tidak jelas dan terlambat dikirimkan, lalu jobdeskku bukan hanya seorang frontend developer, kadang sebagai UI/UX Design, QA Engineering, bahkan Technical Writer, namun karena aku belum pernah terjun ke industri profesional, terpaksa ku ambil pekerjaan ini, murni hanya untuk mencari pengalaman.
Aku bekerja dengan seorang fullstack developer, bernama Aufa, si brengsek itu bukan membimbingku sebagai juniornya malah menyusahkanku dengan kelakuan seenaknya yang membuat naik darah.
"Pak maaf , kemarin kak Aufa salah mengirim dokumentasi, jadi saya agak stuck saat mengerjakannya," Ucapku dengan nada yang sesopan mungkin.
Pria di depanku menatap tajam, memperbaiki posisi kacamatanya. Ia mendecak.
"Butuh berapa lama sih kamu untuk ngelakuin debugging? dan baru sadar kesalahan sepele ini sampe seharian? kamu ini lulusan SMK emangnya?"
Benar kesalahannya sepele, aku tidak bisa menyangkal itu, namun ini dimulai dengan senior brengsek itu! lagipula aku masih fresh graduate! mana aku tahu dia bisa-bisanya salah mengirim dokumentasi ini.
"Ma-maafkan saya pak," ucapku tergagap, kepalaku tertunduk sambil memainkan jari. "Aku akan selesaikan fitur empat hari ini," ungkapku berharap dia segera berhenti menegur.
Ah, ujungnya lembur tidak dibayar lagi! jika sudah setahun bekerja di sini, aku bersumpah akan resign, perusahaan kecil ini hanya akan jadi batu loncatan untuk menghiasi resumeku.
Dia tidak berbicara apapun setelah aku meminta maaf, dia hanya menggerakan dagunya menginstruksikan aku untuk keluar dari ruangan, seperti biasanya. Aku menurut untuk meninggalkan ruangannya.
Mejaku berada di dekat seorang senior lain yang bekerja sebagai Devops, namanya Ryan kalau tidak salah, seseorang yang senang mengoleksi ganchi yang digantung di ranselnya.
Aku kembali dengan perasaan gusar, membuka laptop, kembali membaca dokumentasi yang baru dikirimkan.
"John umur lu berapa?" Ryan, si pria dengan tahi lalat di dagu tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
"24 tahun, kak."
"Kita cuma beda 2 tahun, gak usah panggil kak." dia berhenti dari aktivitas mengetik dan melempar tatapan. "Gua gamau sok menggurui ... cuma jangan terlalu polos di tempat kerja, emm jangan terlalu percaya rekan kerjamu intinya!"
Aku hanya mengangguk, melihat responsku dia kembali sibuk dengan laptopnya. Sejujurnya hanya dia yang aku hormati di kantor ini sejak pertama kali masuk. Lalu nasihat itu akan selalu aku ingat seumur hidupku.
── ⋆⋅☆⋅⋆ ──
[Senin, 1 September 2014]
Aku memasang kabel HDMI ke laptop milik Vero, Kami berkumpul di meja guru, menyiapkan presentasi, pak Herbert duduk di kursi paling belakang memerhatikan. Bowo yang santai di hari sebelumnya, sekarang terlihat pucat. Ini kelompok memang sampah semua anggotanya!
"Loh, kok slide gua nambah?" bisik Theo sambil mengeraskan rahang.