Pelajaran pak Herbert masih menyisakan waktu 10 menit sebelum jam istirahat dimulai, setelah dua kelompok presentasi dia langsung pergi, pak Herbert memang tipe guru yang kadang semangat mengajar kadang tidak. Untung saja yang bertanya pada sesi presentasi kelompok kami hanya Clarissa.
'bagaimana cara mencegah bullying?', dia tidak sadar seorang pelaku juga, aku hanya menjawab pertanyaan itu secara normatif seperti lapor ke guru, orang tua, mencari dukungan ... bla bla bla.
Tidak ada satu jawaban pun yang benar, guru di sekolah ini? lebih banyak yang bersikap menghindar, hanya sedikit guru yang berani menghukum anak-anak orang penting di sini! Kasus Rey? itu mungkin saja karena ayahnya tidak ingin masalah ini melebar, dia meminta sekolah untuk menghukum anaknya. Hal yang kusadari juga adalah ayahnya berhasil menutupi perkelahian Ben dengan Theo di hari itu. Sungguh gila powernya!
Aku harap Theo mulai terpukul dan sadar aku tidak pernah takut padanya, saat ini dia sedang mengobrol dengan Rey yang sudah selesai dari masa skornya. Aku kadang melirik circle Clarissa yang diisi anak-anak kampret.
"Lu gila, ternyata dari kemarin minjem Hp gue buat ngerekam?" Ben berbisik pelan, wajahnya yang bulat mendekat.
"Iya," jawabku singkat. "Mau perpus gak? katanya mapel habis istirahat jamkos," aku mengalihkan topik pembicaraan.
"Gak, wifinya lelet, waktu lu gak masuk dulu gue udah coba, udah di sini aja perpus gak boleh bawa makan anjir!"
Seingatku dulu, perpustakaan sekolah ini cukup besar, aku merasa tidak ada gunanya juga di sini, bulan oktober sudah masuk UTS, jika nilaiku tidak mencapai target, beasiswa akan menunda pembayaran untuk semester selanjutnya.
Ngomong-ngomong beasiswaku berasal dari pihak ketiga, bukan langsung dari sekolah. Mereka punya kontrak yang berisi target nilai dan beberapa aturan seperti etika sebagai penerima beasiswa, contohnya berkelahi, mereka tidak segan mencabut permanen. Maka dari itulah aku selalu menghindari perkelahian fisik. Kalau nilai turun mereka hanya menunda pembayaran sampai nilai naik kembali, jika pelanggaran berat, tamat sudah!
"Yasudah, kalau nyari gue ke perpus aja!" aku membawa buku dan alat tulis lalu mulai melangkah meninggalkan kelas.
Aku jadi teringat, beasiswaku dicabut saat kelas dua, karena sebuah kejadian yang melibatkan Yuna. Masih banyak waktu sebelum kejadian. Aku hanya akan fokus pada nilai sekolah, kupikir Ben sudah mulai percaya diri untuk menghadapi orang-orang yang tidak menyukai, ketika aku tidak masuk ke sekolah rasanya sangat khawatir, namun ternyata ia bertahan bahkan melawan. Ketika aku membocorkan rahasia Ben ke Clarissa, dia akan keluar empat hari dari sekarang, namun itu tidak akan terjadi lagi.
Perpustakaan berada di lantai dua, namun yang mengganggu ada langkah kaki yang mengikutiku dari belakang. Jika langkah itu milik Ben, dia seharusnya memanggil langsung, jika itu milih Theo hal yang aku terima adalah pukulan dari belakang.
Aku berhenti melangkah, tangga ke lantai dua tinggal beberapa meter lagi. Suara yang mengikutiku ikut berhenti. Hanya ada satu orang gila yang bisa bertingkah seperti ini.
Kuputar kepalaku, seorang gadis yang tadi bertanya saat aku presentasi berdiri di hadapanku, memeluk buku sambil mengukir senyum tipis di wajahnya. Mau apa coba perempuan jahanam ini.
"Nih buatmu!" dia menyodorkan permen. Aku melihat di telapak tangan yang putih, sebuah bungkus warna hijau.
Apa sih cewek dodol! dari kemarin ngasih ginian mulu, mana rasanya pahit.
"Gak, makasih."
"Lho, kenapa?" Perempuan itu memiringkan kepalanya. ku balas dia dengan tatapan malas.
"Permenmu rasanya pahit!"