[Jumat, 5 September 2014]
Dalam hinduisme ada sistem kasta yang disebut Catur Warna, aku tidak bermaksud menyamakan, namun ada empat tingkat yang menggolongkan siswa di sekolah ini, pertama adalah kasta Raja atau Ksatria, ini diibaratkan siswa yang memiliki hirarki tertinggi dalam kelas, bisa jadi karena penampilan atau kekayaan, tingkat selanjutnya adalah Brahmana, aku menganalogi sebagai kelompok siswa yang ambis dalam belajar, sangat fokus pada bidang akademik. Lalu kasta pedagang, aku ibaratkan orang-orang biasa yang harus menjual nilai mereka kepada dua kasta di atas, terakhir kasta budak, orang-orang yang direndahkan atau pesuruh, sepertiku atau Ben, juga orang-orang di kelas ini.
"Gimana kita coba nobar Highschool dxd aja, senpai?"
"Lu gila? itu anime ecchi bego, ketahuan guru yang ada dimarahi," kakak kelas bernama Rudi menolak permintaan Rakun.
Di kelas ini hanya ada kami berempat, dua anggota lainnya adalah kelas dua belas yang seperti tidak hadir. Rudi adalah senior dari kelas sebelas, dia memimpin pertemuan kali ini. Dibandingkan dengan Ben dan Rakun, dia tidak terlihat seperti otaku. Rambutnya dipotong cepak, kulitnya putih, namun masalahnya dia itu pendek dan kurang berisi.
"Hari ini kita gak nobar dulu...." Rudi mengeluarkan ponselnya, menunjukan sebuah foto perempuan mengenakan kaos olahraga. "Lu semua kenal bule ini gak?"
"Oh, dia sekelas sama kami, senpai!" Ucap Ben sambil memukul lenganku, aku hanya mengusap bekas hantaman pria disampingku. Jujur, pukulannya lumayan sakit, mungkin karena dia akhir-akhir ini melatih ototnya. "Namanya Luna, senpai."
"Luna itu bulan, memang kecantikannya seperti rembulan malam," Si senior berseri-seri, seperti membayangkan bahwa kasta bawah seperti kami punya kesempatan untuk mendekat, bukan, lebih tepatnya untuk berbicara dengan perempuan kelas atas.
"Senpai, mungkin kita harus menganalisis apakah ia tipe Tsundere atau bukan," Ujar Rakun dengan pose memperbaiki kacamata. "Riset dalam PDKT itu penting."
Laki-laki dengan rambut cepak itu memegangi dagunya, lalu menatap ke arah Ben. "Dia udah punya pacar belum?"
"Kayaknya udah, rumornya kenceng banget di kelas kami, ya kan Gon?"
Jangan lempar sesuatu yang bahkan aku tidak peduli. Aku menggaruk pipi, melempar pandangan ke sembarang arah. "Mungkin, gak tau juga."
"Sayang sekali, padahal dia sangat cocok dengan senpai!" Ujar Rakun, aku tidak tahu dia mengatakan itu sebagai sarkasme atau serius, dari raut wajahnya sepertinya serius. Senior itu mengangguk-angguk, seakan-akan bangga akan sesuatu. "Kalian tahu Elisabeth?"
"Siapa itu senpai?" tanya Ben.
"Seangkatanku, dia cewek paling cantik, kutolak dua kali!"
Ben dan Rakun matanya berbinar-binar setelah mendengar itu.
"Sugoi!" Puji Rakun.
"Ajari aku Rudi-Sensei!" Ben menimpali.
Aku bersyukur pernah menjadi orang yang skeptis saat dewasa, dibandingkan ucapan kakak kelasku, konspirasi pria jerman berkumis mati di garut jauh terdengar masuk akal.
"Kalau cewek yang manis ini udah punya pacar belum?" Rudi menunjukan foto perempuan lain dengan baju olahraga yang sama dengan Luna memegang bola Voli. "Dia manis banget."
Aku penasaran bagaimana orang ini punya foto-foto perempuan. Jangan-jangan mereka punya grup khusus yang berisi informasi tentang perempuan di sekolah.
"Itu juga sekelas denganku senpai, namanya Hanna, orangnya sih agak pendiam." Ben terdiam sebentar. "Aku gak tahu, tapi gak ada rumor soal dia!"