Hutang dari Toko Waktu

Authorpemalas
Chapter #22

Bagian III : Kubu para Predator dan Sang Beruang yang Hibernasi

[Senin, 8 September 2014]

Kelompok Ben pagi-pagi sudah disibukan dengan persiapan presentasi Etika dan Kewarganegaraan, Yuna sibuk dengan laptopnya di meja guru ditemani oleh Ben dan Kirana yang berdiskusi. Padahal jam pertama adalah pendidikan Jasmani, tapi mereka sangat profesional ketimbang kelompokku minggu lalu yang baru menyiapkan presentasi saat pelajaran dimulai.

"Guys, hari ini olahraga Jogging kata bapa, yuk siap-siap," Clarissa membawa kabar ke seluruh kelas. Para murid perempuan pergi ke kamar mandi untuk menukar pakaian mereka dengan baju olahraga, sementara yang lelaki langsung ganti pakaian di kelas.

Yuna menutup laptop miliknya, meninggalkannya di meja guru lalu pergi membawa pakaian ganti. Ben menghampiriku. "Gua deg-degan presentasi nanti, lu minggu lalu lancar banget."

"Udah santai," tukasku, mencoba menenangkannya. "Kalau gugup, liatin cicak aja."

Beberapa anak perempuan yang selesai berganti pakaian tidak langsung ke lapangan mereka sibuk berfoto dengan kamera kecil yang dibawa oleh Luna. Gadis berambut pirang itu sempat memotretku dan Ben tanpa alasan yang jelas.  

Sebenarnya hari ini aku seharusnya tidak pernah masuk sekolah, itu karena Jum'at minggu lalu, di timeline sebenarnya adalah hari di mana Ben pergi, aku sakit selama lima hari karena kejadian itu. Tapi itu tidak terjadi sekarang, sehingga aku di sini sekarang.

Guru olahraga sudah menunggu dengan wajah yang judes, meski sebenarnya ia tidak marah tapi ekspresi diamnya sangat menyeramkan. Laki-laki tua itu tinggi tapi perutnya terlihat agak menggelembung, aku rasa guru olahraga yang atletis itu cuma mitos, bahkan di sekolah elite ini.

Ada dua orang yang belum berganti pakaian yaitu Nadya dan Bowo, si perempuan beralasan lupa bawa baju olahraga karena hampir terlambat datang ke sekolah, sementara Bowo si tukang molor mengaku sakit dan izin pergi ke UKS. Meski mereka kena marah dulu, tapi tetap diizinkan.

Di bawah pimpinannya kami pemanasan sekitar 10 menit, dan selepasnya, dia membawa kami ke luar sekolah, masuk ke wilayah komplek. "Oke hari ini Jogging, start-nya di sini, untuk laki-laki 5 putaran dan untuk perempuan 4 putaran." Guru itu berlari duluan. "Ikuti bapak, kita kelilingi komplek."

Kami menurut, mengekor lelaki itu dari belakang. kuncinya adalah menjaga stamina, dan lari secara perlahan. Beberapa anak laki-laki ada yang malah lomba lari seperti Theo yang langsung adu sprint dengan Rey. Bodoh! 

Kelompok perempuan jauh lebih kompak mereka lari di belakang barisan laki-laki dengan ritme yang pelan. Aku menarik Ben untuk tetap santai, dibanding ketika mengajak jogging dulu, staminanya jauh lebih baik.

"Asset anak perempuan bergerak waktu mereka lari," Bisik Ben sambil sesekali menoleh ke arah belakang. 

Tahan, tahan aku sudah dewasa. mereka bukan tipeku lagi. Ben bukan satu-satunya anak laki-laki yang melakukannya, Jose, bahkan Daniel ikut-ikutan.

Udara komplek begitu sejuk, aku lebih baik menikmati pemandangan ini daripada yang di belakang, jejeran rumah mewah nan megah dengan pohon-pohon yang berbaris rapi di tengah jalan. Beberapa petugas kebersihan sudah hadir di sana.

 Dadaku merasa kagum ketika melihat seorang lansia masih berusaha bekerja di sana .Ketika dewasa rasa sulit mencari nafkah baru kurasakan. Beberapa petugas kebersihan itu ada yang menyapu, memungut sampah, atau menyirami tanaman.

Guru Olahraga membentak Theo dan Rey, sehingga mereka melambat, kemarahannya merusak suasana nyaman yang menyelimutiku tadi. 

Satu putaran sudah dilalui, aku melihat guru olahraga sekarang duduk di tempatnya. "Udah kalian lanjutin larinya, ikuti jalan yang tadi saya tunjukin."

Baru berlari beberapa meter ke depan, di belakang terjadi kegaduhan, laki-laki bernama Tom yang berada di depan berlari cepat ke belakang. Aku dan Ben refleks berhenti lalu menoleh ke sumber kegaduhan. 

Ternyata perempuan bernama Hanna jatuh, sikut tangannya berdarah. Tom langsung minta izin untuk membawa perempuan itu ke UKS, bernegoisasi dengan si Guru. siswi lainnya hanya berteriak "cie" melihat pemandangan romantis itu.

"Iri gue, semoga aja gue bisa pacaran sebelum lulus," seru Ben.

"Mimpi aja," ledek Jose.

Aku ingat Tom dan Hanna memang pacaran di masa depan, namun potongan memoriku juga mengindikasi mereka cepat berpisah juga. Namanya juga cinta monyet, cepat datang namun juga cepat kandas

Lihat selengkapnya