"Di saat kepergian itu dipeluk. Di saat itu juga dunia mempertahankanmu dengan keruntuhannya."
{15 hari yang lalu}
"Ah, menyebalkan. Harus merawat anak ini setiap hari. Akan lebih baik jika ia mati saja."
Yah, aku pernah mendengar keluhan seperti itu satu juta kali.
"Tenanglah, Amora. Sebentar lagi usianya tujuh belas. Haknya habis."
"Baguslah karena peraturan sekarang membatasi umur hidup orang terlantar sepertinya. Peraturan sungguh sangat menguntungkan bukan, Nella?"
Menguntungkan sekali. Bilang seperti itu lagi jika kalian merasuki posisiku.
"Eh, ngomong-ngomong, Amora. Dimana keluar anak ini?"
"Kaburlah. Coba kau bayangkan, Nel. Keluarganya saja tidak mau mengurusnya apalagi aku."
"Kasihan sekali. Tapi bukankah gajimu sebagai perawat anak ini cukup besar?"
Gaji? Uang-uang itu? Jika keadaanku yang seperti ini dapat memberi uang. Orang-orang akan berbondong menciptakan orang yang ada di posisiku.
"Yah, mengurus pasien Juvenile ALS memang sangat ber-uang, sih. Jalan-jalan dan-"
Aku rasa tubuhku oleng dan membentur tanah. Hm... cukup kasar tapi aku benar-benar tidak bisa merasakan apa pun dari pikiranku.
Seluruh polanya cukup terlihat jelas, aku tidak bisa berbicara, bergerak, atau memberi isyarat apa pun. Kemudian, sisa hari ini akan terus berjalan tanpa ada yang mempermasalahkan hal ini.
Meski ada perubahan pada dunia ini pun. Itu tidak akan ada bedanya. Aku akan tetap diam seperti ini. Tanpa bisa melakukan apapun. Tanpa bisa berpengaruh apapun.
Waktu terus berjalan dengan diriku yang terus diam. Begitulah cara dunia berjalan. Dunia tidak akan pernah peduli sekalipun kau benar-benar tokoh utama.