"Apa itu kemanusiaan? Apakah itu nyata?"
"Yil-drim! Apa kau tahu? Aku yang memberi nama itu, loh," ucap wanita berjilbab hijau itu dengan ceria.
"Oh," ucapku. Itu menjelaskan semuanya. Bahkan keluargaku pun malas memberi nama untukku.
"Kau tidak tertarik?" Wanita itu mulai panik. Aku tidak tertarik menjawab.
"Yildrim itu artinya sambaran petir. Julukan hebat untuk Sultan Beyazid. Yah, sebenarnya Yildirim, sih. Tapi waktu itu aku masih kecil dan hanya bisa bilang Yildrim," ucap wanita itu lagi.
Oke, namaku itu terinspirasi dari pengucapan salah anak kecil.
"Tunggu dulu, nama itu akan berguna untkmu. Nanti kau akan bisa lari dari kejaran zombie."
"A... Apa?" tanyaku bingung ketika tanah di sekitarku mulai bergetar. Dari dalam tanah, muncul tangan-tangan hijau sayuran yang entah kenapa mengancam.
"Lari Yildrim! Panggil namamu sekeras mungkin!" perintah wanita itu penuh tekad.
Aku mengangguk mantap.
"YILDRIM!" teriakku dan aku pun melesat sampai bulan.
Aku terbangun dengan pemandangan pecah belah yang membuatku begidik. Keadaan di tempat ini terasa sepi dan gelap. Kontras dengan asap dan cahaya kekuningan di bawah naungan bulan purnama.
Aku memandang bulan itu. Mengingat tentang mimpi yang baru aku alami. Nyeri di bahu yang masih merajai. Hanya saja, rasanya waktu sudah lama berlalu untuk menampung seluruh kejadian itu.
"Rupanya ia masih hidup, ya," gumamku.
Sedetik kemudian, aku mengernyit. Eh?