"Saat manusia berani mengharapkan."
Aku mendengarkan suara samar-samar. Tapi aku tidak tahu tepatnya suara itu berasal dari mana. Bisa depanku, belakangku, kiriku, kananku, atau bahkan arah yang tidak aku duga. Yang kutahu, itu bukan suara zombie. Jadi mata dan tubuhku yang berat tidak tertarik untuk bergerak lebih jauh.
"Hei, kau—ja?"
"Bukan begitu ca—cara yang—nar, Sada. Tampaknya gendang telinga kanannya—" orang ini terus mengoceh dengan kejelasan yang rendah. Kepalaku terasa semakin lelah saja.
Ada getaran yang timbul di samping kananku. Terasa lebih lembut dari zombie, jadi kemungkinan ini manusia. Dengan berat aku menoleh ke kanan. Membuka mataku.
Di hadapanku berdiri anak bertubuh kecil. Mungkin seumuran denganku. Tapi tubuh kecilnya itu sudah pasti genetik dari orang tuanya. Pakaian yang ia kenakan bersih. Sekilas tampak seperti orang kaya yang berwisata pada wahana serangan zombie.
Mata cokelat kehijauan anak itu melebar. Tampak terkejut. Dia lalu memegang kepalaku dan menghadapkannya lagi ke depan. Aku seketika merintih karena ia mengenai erat pada telinga kiriku.
Tampaknya anak bernama Sada mengatakan sesuatu tapi aku tidak jelas mendengarnya. Sada sendiri berperawakan besar dengan mata sipit. Sekilas seperti ras china yang memakai pakaian kotak-kotak.
"Maaf, a—" Anak laki-laki mata hijau kecoklatan itu tampak kelabakan. Ia tampaknya mengatakan sesuatu kepada Sada dan segera dua orang ini membuka tas besar yang mereka bawa.
Selanjutnya, aku telah duduk di ujung tangga. Anak laki-laki dengan mata hijau kecokelatan itu rupanya bernama Fikar. Ia tengah melakukan perawatan pada telinga kananku yang robek karena bom kemarin.
Sebelumnya, Fikar memberi penjelasan dengan hati-hati dibagian telinga kiriku. Dia bilang dia anak palang merah. Aku tidak begitu tahu apa itu palang merah. Tapi mungkin artinya orang yang melihat ponsel dan mendapatkan kekuatan pengetahuan beserta keterampilan dokter mungkin.
Sada sendiri menjadi semacam satpam yang melihat ke sana kemari. Mengantisipasi jika tiba-tiba ada zombie datang.
Setelah selesai merawat telinga kananku, Fikar bergeser ke telinga kananku.
"Apakah ada luka lain?" tanyanya hati-hati.