I'm not a Zombie

Za Zlyn
Chapter #8

4b. Yildrim

Aku kesulitan untuk bangkit kembali ketika suara langkah semakin jelas. Getarannya menandakan bahwa yang datang manusia. Tambahan tidak ada getaran lain yang mungkin artinya tempat ini cukup aman.

Aku melirik sebentar pada tempatku tadi bersembunyi dan mendapati baju lamaku yang terpampang. Koyakkan dari zombie itu cukup jelas hingga membuatku reflek bergerak cepat. Menabrak tong sampah dan membuat getaran langkah kaki menjadi lari.

Dalam keadaan badan sakit karena tubrukan aku segera menutup baju itu dengan korden. Menutup-nutupi secara asal dan mendudukinya.

Aku sempat mendengar beberapa ocehan kata yang sulit kupahami. Tapi setelah getaran langkah berhenti, suara itu menjadi cukup jelas. Tepat di samping telingaku.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Fikar membuatku hampir terlanjak.

Aku segera memandang Fikar. Dari nada suara dan tatapannya... Yah, biasa saja. Sama saat ia mengobati telinga kiriku.

Mengambil beberapa detik. Aku menyimpulkan bahwa masalah tingkah lakuku bukan masalah bagi mereka. Atau mungkin... Ada masalah lain yang lebih penting.

Sada mengatakan sesuatu. Wajahnya yang memang biasa diam terasa kaku dan memerah. Tapi kurasa itu bukan marah. Sada segera memalingkan dirinya.

Aku memandang pada Fikar yang membalas ucapan Sada. Ia lalu diam dengan wajah yang memerah juga. Mencoba memainkan tangannya yang bergetar pada ponsel dan sesekali mengusap setitik air di sela matanya.

Aku diam selama beberapa saat. Begitu juga mereka.

Hingga pada akhirnya Fikar bangun. Mendiskusikan sesuatu dengan Sada. Aku hanya menangkap detailnya sedikit-sedikit. Kurang lebih, mereka akan segera pergi dari tempat ini.

"Yildrim!" panggil Fikar yang sudah berada di sampingku. "Ayo kita pergi dari sini?"

"Pergi?"

Fikar mengangguk. "Kita tidak bisa terus di sini."

"Ke mana?"

Fikar mengecek ponselnya lagi. "Di Dzava hanya Bumen dan Awi yang aman. Dan kurang lebih bisa kita raih dengan kereta. Ada laporan tentang Citan sih. Tapi tidak ada jalur kereta. Sada, mau ke mana?"

Aku mengamati Sada lekat untuk menebak apa yang ia katakan. "Bumen, lebih dekat."

"Benar," ujar Fikar. "Kita harus menyidikitkan zombie yang kita temui."

Aku mengernyit tidak mengerti banyak hal. Saat Sada dan Fikar mengajakku pergi. Aku hanya iya-iya saja terlebih aku ingin segera dua orang ini berjarak dengan bajuku yang terkoyak.

Lihat selengkapnya