Ezra bangun pagi seperti biasa hari itu. Tapi ia termenung sementara di ranjangnya. Memikirkan apa yang dikatakan oleh Masternya semalam.
Ezra lalu mendongak, menatap pantulan samar wajahnya di kaca. Ia lalu menarik napas dalam dan segera bangun. Bersiap melakukan banyak hal dari jam 03.30 am ini.
Ia bertemu dengan beberapa seniornya yang juga melakukan hal yang sama. Mereka segera bersih-bersih perguruan yang seluruh bangunannya dari kayu tersebut. Tidak lupa, mereka juga bergantian melakukan banyak keperluan lain.
Saat mau mencuci beberapa alat bersih-bersih, Ezra melewati keramaian dapur. Para perempuan dari perguruan itu juga tidak kalah untuk bangun pagi. Pagi-pagi sekali sudah banyak kegiatan dapur yang mereka kerjakan.
Ezra mencoba mengintip ke arah dapur. Mencari seseorang yang tidak terlihat.
"Ada apa, Ez?" tanya temannya sambil membawa pel yang mau dicuci.
"Aku tidak melihat ibuku," aku Ezra.
"Titipkan saja lap yang kau bawa padaku dulu," tawar temannya.
Ezra segera menitipkan lap yang ia bawa. Dengan cepat Ezra segera menuju dapur. Ia segera dihadang oleh gadis yang lebih muda setahun darinya. Gadis itu memakai kerudung cokelat daun kering seperti biasanya saat jadwal paginya.
"Nona Umayi, apa ibu saya ada di dalam?" tanya Ezra pada gadis tersebut.
Umayi menghembuskan napas berat. "Nyonya Miranda tidak bilang padamu, ya?"
Ezra langsung mengerti apa yang terjadi. Dan bisa dibilang seluruh perguruan juga tahu akan hal yang pasti terjadi sebulan sekali itu. "Ibu sakit? Tapi bukankah seminggu lalu ibu baru sakit?"
Umayi memperhatikan dengan saksama kecemasan di wajah Ezra itu. "Aku akan mempersiapkan air hangat dan bubur untuk Nyonya Miranda. Sekarang kau selesaikan tugasmu yang hampir selesai itu. Setelahnya bicaralah pada teman-temanmu. Mereka pasti mengerti."
Ezra tersenyum. Merasa sedikit lega. "Terima kasih, Nona Umayi. Anda memang orang baik."
Umayi memutar bola matanya ketika Ezra berbalik pergi. "Sama-sama."
Ezra sampai di kamar ibunya ketika Umayi baru saja selesai mempersiapkan banyak hal. Dengan cepat, Umayi segera undur diri. Segera, Ezra dengan cekatan mengurus ibunya itu. Membersihkan kamar ibunya, memijit sang ibu, menyuapinya makanan, dan banyak hal lainnya.
"Ezra masih ingin di sini?" tanya ibu Ezra. "Bukankah setelah ini kau harus segera menebar kail pancing sambil bermeditasi?"
"Ah, soal itu," Ezra tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya.
Ibunya mendekat sedikit ke arah Ezra. Ia paham betul gestur putra semata wayangnya itu. "Ada sesuatu yang mengganjal, ya? Bisa ceritakan pada ibu?"