Umayi mengulurkan tangannya sebagai salam perkenalan. Dia tersenyum ramah namun tampan tidak sukses meredakan kegugupan anak perempuan itu. Ibu dan Ayah anak itu mengatakan sesuatu pada putrinya. Yang entah kenapa, terasa seperti menekan mental putrinya itu. Meski begitu, sang putri akhirnya dengan enggan mengulurkan tangannya. Berusaha dengan tidak tenang untuk menjabat tangan Umayi.
Saat anak perempuan itu menjabat tangan Umayi, tiba-tiba seperti tersambar petir saja. Si anak perempuan itu segera bertindak heboh, menarik Umayi dengan keras dan menggigit tangan gadis itu. Keadaan seketika semrawut.
Master Aksa dan istrinya tentu saja segera menarik Umayi menjauh. Kakak Umayi sendiri berusaha melepas gigitan itu yang berakhir dirinya sendiri di gigit. Si anak perempuan akhirnya di tarik orang tuanya yang juga di balas digigit sampai berdarah-darah. Saking kewalahannya para bodyguard juga ikut membantu walau mereka juga tergigit.
Beberapa ahli tabib di perguruan itu segera mendatangi Umayi dan kakaknya. Umayi sendiri terlibat terengah-engah kesulitan bernapas pada awalnya. Kedua orang tuanya memegangi putri mereka dengan khawatir. Namun kegaduhan berikutnya berlanjut ke Kakak Umayi yang menggigit sang tabib. Dan entah kenapa, Umayi juga mengikuti jejak kakaknya sekaligus anak perempuan tadi. Membuat keadaan semakin pecah dan membuat orang-orang mendekat.
Ezra pada awalnya juga bersiap untuk melangkah maju. Namun ia segera dicekal ibunya yang langsung menyeretnya pergi. Sang Ibu terengah-engah dan berkeringat banyak karena berlari dari sisi perempuan ke sisi laki-laki untuk mengejar putranya. Belum lagi mengingat kondisinya yang sedang sakit hari ini.
"Ibu, apa yang terjadi?" tanya Ezra mengikuti langkah kaki ibunya.
"Kita pergi dulu, Ezra," ucap ibunya. Ekspresinya benar-benar terlihat cemas. Ekspresi yang sudah lama Ezra tidak temui sejak mereka masuk ke perguruan ini.
"Tapi master dan lainnya sedang kesusahan," ujar Ezra sesekali melirik ke belakang saat mendengar suara gaduh dan raungan di aula.
"Itu di luar kehendak kita, Ezra."
"Maksudnya apa ibu?"
"Akan ibu jelaskan nanti. Sepaham ibu saja," ujar ibu Ezra mempercepat langkahnya dan genggaman di tangan Ezra.
Selama beberapa saat, Ezra dan ibunya berlari memasuki hutan. Membiarkan kaki mereka yang tidak beralas kaki menembus ranting-ranting, batu, dan akar-akar pohon yang kasar. Namun belum begitu jauh mereka berlari, ibunya ambruk terjatuh.
"Ibu! Ibu baik-baik saja? Badan ibu sangat panas!" ujar Ezra namun ibunya tidak segera menjawab. Ia pingsan.
Ezra memandang sekitar. Keadaan hutan begitu sepi di sekitarnya jika mengecualikan suara geraman dan teriakan di kejauhan.
Ezra memandang jalan menuju perguruannya lalu berganti memandang ibunya. Dalam hati, Ezra ingin sekali membantu orang-orang di perguruan. Namun pemandangan tadi, nalurinya, dan tingkah ibunya menunjukkan bahwa kembali ke sana adalah hal buruk.