"Ezra, turunkan ibu."
"Tapi, ibu..."
"Tidak apa-apa, Ezra. Ibu bisa berjalan sendiri."
Ezra menguatkan genggaman gendongannya. Dari balik punggung, Sang ibu tidak berkata apa-apa. Hanya diam menunggu yang malah meluluhkan pertahanan Ezra. Ezra pun menurunkan ibunya.
"Turun ke kota masih jauh, ya?" tanya ibu Ezra sambil mengamati keadaan sekitarnya dengan berkacak pinggang. Ibu Ezra mengernyit, tempat itu terasa asing meski pada kenyataannya ia jarang menjelajahi hutan.
"Sebenarnya jalan yang Ezra dan ibu ambil berlawanan. Jika ingin ke kota, lurus ke perguruan atau harus memutar kalau ingin sejauh mungkin dari perguruan," ujar Ezra pelan.
"Begitu?" ujar ibu Ezra sambil menaikkan alisnya. Bukannya marah, ibu Ezra malah tertawa kecil. "Jadi tadi ibu mengambil jalan yang salah. Maafkan, ibu ya."
Ezra memandangi ibunya yang terlihat ceria itu. Jika itu pertama kalinya mungkin Ezra akan merasa bingung. Namun pengalaman berkata itu adalah cara ibu Ezra agar keadaan terasa baik-baik saja bagi putranya. Di mana akan tetap ada ketenangan meski keadaan sebenarnya berkata sebaliknya.
"Ti-tidak apa-apa, bu," ucap Ezra sambil menundukkan wajahnya.
"Baik, karena Ezra lebih tahu hutan pegunungan ini dari ibu. Bisakah Ezra menuntun ibu ke kota?" tanya ibu Ezra lembut.
"Apakah di kota... tidak ada ze... Zeo... Zeombieee monster itu?" tanya Ezra mencoba melafalkan kata zombie dengan benar.
"Kemungkinan lebih banyak."
"A-apa?"
"Tapi kemungkinan yang bertahan hidup dan tidak menjadi zombie juga lebih banyak. Lebih banyak dari orang yang ada di perguruan," jelas Ibu Ezra setenang mungkin. Ezra sendiri sudah merasa sedih hanya dengan mendengar kata perguruan. "Di sana nanti, kau akan punya banyak partner untuk bertarung bersama. Tidak seperti ibu yang tidak bisa melakukan apa-apa."
"Ezra akan melindungi ibu. Ezra saja sudah cukup untuk melindungi ibu," tekad Ezra. Meski nada suara dan tubuhnya bergetar hebat.
Melihat hal itu, ibunya tersenyum saja. "Iya, Ezra sungguh sangat kuat, ya! Tapi kita juga harus ke kota. Mungkin saja di sana ada informasi tentang tempat yang aman."
"Baik, ibu," ujar Ezra sambil menuntun ibunya pada jalan memutar yang ia hafal.
"Di hutan ini ada sungai, kan? Apakah ada di sekitar sini?" tanya ibunya lagi.