I'm not a Zombie

Za Zlyn
Chapter #12

7a. Yildrim

"Konspirasi? Kemanusiaan? Bukankah lebih mudah tak perlu mengharapkan?"

Kereta apalah itu rupanya lebih lama sampai dari yang kukira. Permasalahan zombie ini begitu dahsyatnya hingga benda yang katanya sangat cepat dan disiplin itu bisa macet. Kemacetan yang begitu parah hingga memakan waktu hampir 10 hari lebih.

Selama berhari-hari ini asupan harianku adalah cari makan gaya tikus. Ke kamar mandi gaya tikus—walau aku lebih sering hanya menggunakan air saja saat mandi, sabun terlalu licin untuk tanganku yang masih sok bayi. Segala hal bergaya tikus dan manusianya adalah zombie. Saat zombie menyadari keberadaan kita, kita akan lari terbirit-birit menyelinap ke berbagai gang ala tikus juga.

Ngomong-ngomong soal lari, aku sudah bisa berlari dengan cukup baik. Hanya saja setelahnya aku langsung pegal-pegal seperti baru kena baku hantam masa hingga sulit berjalan. Untungnya level baku hantamnya setara dengan maling ayam atau uang recehan. Jika levelnya maling sapi mungkin aku sudah benar-benar lumpuh kembali.

Aku tengah tertidur malam itu di sebuah dapur bersama Sada, Fikar, dan beberapa manusia tersisa lain. Kami berdelapan penuh sesak di sana. Terlebih karena dapur itu berantakan dan dipenuhi bahan makanan yang membusuk. Belum lagi interior tren baru kota ini yang menyukai bekas percikan darah.

Mengenai jaga malam, tidak ada. Aku, Fikar, dan Sada hanya kebetulan bertemu rombongan lain. Terjerat masalah di tempat yang sama. Melarikan diri dari zombie meninggalkan beberapa orang yang terinfeksi. Karena lelah bersamaan, kami semua memutuskan untuk menginap dadakan di dapur setelah menetapkan lemari piring raksasa sebagai penghalang. Dalam rasa lelah dan ketakutan, kami semua dengan cepat masuk ke alam bawah sadar.

Aku terduduk dan memandang seluruh orang yang masih tertidur. Usia mereka bervariasi. Kurasa Sada yang paling muda dan yang paling tua adalah ibu-ibu 30 tahunan itu. Kurang lebih, ekspresi dan igauan mereka sama. Tapi baru kali ini aku mendengar igauan serempak seramai ini.

Selama awal-awal mengikuti Sada dan Fikar, aku tidak mendengar apa-apa saat tidur. Namun seiring pendengaranku yang membaik, aku jadi sering terbangun oleh igauan tangis mereka. Yang paling aktif mengigau adalah Sada meski pada kenyataannya ia hanya sering berkata satu dua patah kata. Fikar sendiri paling sering menangis dalam tidur padahal aslinya secerewet dan seceria itu. Hal yang cukup menarik, aku jadi penasaran bagaimana versi diriku saat mengigau.

"Tania!" raung Sada yang membuatku mengambil lap dapur asal. Menyumpal mulutnya karena ditakutkan mengundang erangan lain dari zombie yang mungkin ada di seberang sini.

Fikar yang masih tertidur tiba-tiba tersedu. "Tania...Vikri...Marlo..."

Aku melotot pada Fikar, berpikir apakah rintihan ini cukup keras untuk disumpal juga.

"Ya... Tania kasihan."

"Hm... Kasihannya masih muda."

"Tania pasti tenang."

Aku memandang terperangah pada orang-orang lain tersisa. Apakah igauan memang bisa menyambung seperti ini? Dan apakah hal ini punya resiko bahaya? Akh, sudahlah! Jika zombie menyadari keberadaan kami. Aku bisa menganggap hal ini sebagai orkestra terakhir sebelum aku mati.

Lihat selengkapnya