"Kita lewat mana?" tanyaku pada Fikar dan Sada yang tengah mengecek ponselnya. Karena jujur, semakin ke pusat kota keberadaan para zombie semakin terasa ramai saja.
"Ada beberapa pilihan beberapa jalur yang aman. Hm... Kalian mau pilih yang mana?" tanya Fikar tidak melihat wajahku yang aslinya tidak memperhatikan ponselnya.
"Yang paling dekat saja. Jalan Kenangan itu. Lagipula kereta akan sampai sekitar jam sebelasan," ujar Sada. "Dari gedung itu pun hanya belok kanan, kiri, kanan lagi lalu lurus."
"Oh! Jalan itu! Sebentar, info bagus Sada! Gedung Swanlake berstatus aman," lapor Fikar ceria. Sada mengecek ponselnya dan tersenyum puas.
"Ge-gedung Swa-swadaya? Gedung apa itu?" tanyaku tidak mengerti. Menyipitkan mata kepada kedua orang ini.
"Swanlake! Itu balet sejenis tarian, lah. Thania dan Eca sangat suka latihan tiga kali seminggu ke sana," ujar Fikar seakan-akan aku mengenal Thania dan Eca. Padahal aku hanya tahu itu adalah jenis igauan kedua orang ini saja.
Tiba-tiba air mata mengucur deras dari mata Fikar. Ia segera mengusapnya namun hal itu tidak ada habisnya saja.
"Begini, sebentar. Kita bahas hal lain saja," ujar Fikar terbata-bata sambil memainkan ponselnya dengan cepat. "Ada kabar baik, Sada dan Yildrim. Kemungkinan kita semua bisa naik kereta. Zombie di jembatan kemungkinan bukan ancaman besar."
Aku tidak menjawab. Begitu juga Sada. Entah kenapa, aku dan Sada seperti sepakat membintangi Fikar berceloteh ria.
"Ada pendekar ahli pedang yang katanya sangat dahsyat, wow! Beberapa orang bilang bahwa sudah ada banyak zombie yang takluk di bawah pedangnya! Mereka bilang dia adalah utusan dari perguruan di atas gunung itu," ujar Fikar.
"Perguruan itu? Aku dengar isi perguruan memang orang-orang ahli dan berbudi luhur," ujar Sada berusaha menimpali sembari tersenyum.
"Benar, sayangnya mereka hanya mengirim satu utusan. Dia bahkan tampaknya lebih muda dari aku. Wow! Hebat sekali!" timpal Fikar membuatku berpikir keras.
Hanya ada satu utusan? Lebih muda dari Fikar itu artinya sekitar umurku atau bahkan lebih muda lagi.
"Siapa yang bilang itu utusan?" tanyaku merasa curiga.
"Entahlah? Ini cuma foto sembunyi-sembunyi dari artlovelife. Mau lihat?" tunjuk Fikar.
Aku melihat foto itu sekilas. Tidak begitu jelas tapi laki-laki itu tampak tersenyum. Bukan jenis senyum senang untuk diri sendiri. Lebih ke senyum untuk menyenangkan orang lain. Aku cukup sering melihat gurat tipis itu pada cermin dulu sekali.