I'm not a Zombie

Za Zlyn
Chapter #15

8b. Yildrim

"Padahal sedikit lagi," ucap Fikar di dalam lemari gelap itu. Aku tidak bisa melihat ekspresinya. Tapi nada suaranya jelas-jelas bergetar secara serak. Mungkin saja ia sudah tidak berminat untuk bersuara lagi selamanya.

"Aku keluar. Aku tidak akan jadi zombie. Pintar-pintar ambil kesempatan dan kabur!" tegasku berniat mendorong pintu yang ditahan Fikar.

"Apa maksudnya itu?" tanya Fikar agak keras. Bukan kemarahan, tapi nada suara yang kehilangan patokan normalnya.

"Aku juga tidak tahu. Begini, aku pernah beberapa kali digigit zombie dan aku tetap manusia," jelasku secepat mungkin.

"Beberapa kali?"

"Itu bukan masalah kita sekarang. Yang penting, kau bisa kabur," jelasku.

"Kau? Yildrim, bagaimana denganmu! Zombie ini itu gila!"

Aku tidak begitu yakin akan penjabaran zombie gila itu. Kami bahkan tidak tahu batasan pasti kewarasan dan kegilaan zombie. Misalnya melakukan voting mayoritas saja mereka pasti akan mengabaikan voting itu. Tampaknya hanya manusia yang menarik di mata mereka.

Sebentar...

"Zombie putar-putar itu sebenarnya apa?" tanyaku.

"Dia ballerina. Ballerina sering berlatih menari dengan berbagai musik termasuk yang kita matikan tadi," jelas Fikar.

"Bukan atlet angkat besi dengan kaki? Atau ahli bela diri kaki? Rok aneh mereka itu agar bisa luwes menendang orang, kah?"

"Mereka hanya pena—rii!" ujar Fikar sembari sekuat mungkin menahan pintu. Aku tidak membantu karena memang tidak tersisa ruang untuk tangannya mempertahankan pintu lemari. Lagipula, tanganku kembali kuletakkan ke dekat telinga agar suara sekitar tidak terlalu menggangguku.

Napas Fikar mulai tidak beratur dampak menyalurkan seluruh energinya untuk menahan pintu. Belum lagi keleluasaan di tempat sempit itu yang terasa semakin berkurang.

"Tapi, yah... kekuatan kaki dan kelenturan mereka tidak kaleng-kaleng," lanjut Fikar lagi.

Mendengar kelenturan membuatku terbayang memegang lele belum lama ini. Kami sampai pada rumah dengan kolam berisi ikan berkumis itu. Untuk mengenyahkan rasa lapar kami berusaha menangkap lele itu. Hasil akhirnya, kami kelaparan karena tidak bisa menangkap hewan licin itu.

"Kau ingat tips menangkap lele belum lama ini?"

"Kau tiba-tiba bertanya lele di saat seperti ini?" nada suara Fikar entah kenapa terasa melengking bagiku.

"Licin dan lentur tidak beda jauh, kan? Terlebih kekuatan zombie selama ini tidak masuk akal dibanding saat mereka manusia. Kemungkinan kelenturannya juga seperti itu," argumenku. Tapi kemudian aku terdiam menyadari sesuatu.

"Aku bersyukur lele tidak menjadi zombie," gumam Fikar tiba-tiba. Hampir melepas pertahanan pintu ini karena kewaspadaannya yang mengendur.

Lemari itu terus bergetar hebat. Bukan karena zombie itu juga pintar mendorong, tapi karena pukulan kaki kuat yang berkemungkinan membuka pintu ini.

"Apakah zombie ini sudah dari awal di sini?" tanyaku.

"Kemungkinan ya!" teriak Fikar membuat telingaku berdenging kembali.

"Kalau begitu kebiasaan."

Lihat selengkapnya