Dunia terasa sunyi dan jantung Kaira diremas kuat sampai remuk tak bersisa hanya dengan satu kata. Tunanganku. Apa yang lelaki itu katakan? Semua kenangannya bersama dengan Liam berkelebat menusuk Kaira. Liam harus menarik kata-kata menyakitkan itu, karena kalau tidak, kalau tidak —
Kami benar-benar sudah tidak bisa kembali lagi.
Yang menyadarkan Kaira adalah remasan tangan Glenn di pundaknya. Ketika Kaira mendongak lelaki itu tersenyum tipis ke arahnya, berusaha menguatkannya.
“Halo.” Suara wanita itu terdengar sebelum Kaira mencerna keberadaan Glenn. Sesuatu kembali menekannya.
Kaira tidak ingat apa yang ia katakan. Yang dia ingat adalah dia berusaha menjawab wanita itu dengan segala yang ia miliki.
Sementara itu Liam menatap Glenn. Dia belum pernah melihat lelaki ini sebelumnya. Keduanya bertatapan selama beberapa detik. Tangan lelaki itu masih berada di pundak Kaira dan dia seolah menahan sesuatu.
“Kamu mau masak bareng pacarmu juga?” pertanyaan itu mengembalikan kesadaran Kiara.
Wajah Sita berbinar penuh antusias saat menanyakan itu. Dia berharap Sita adalah wanita kasar yang suka mencemooh, tipe yang tidak disukai oleh Liam. Tapi wanita itu berbeda. Dia seperti memiliki aura hangat. Kaira tidak bisa membenci perempuan itu, perempuan yang diterima oleh Liam dan Ibunya.
“Nggak, dan dia bukan pacarku.” Kaira menggeleng. Menelan semua rasa pahit.
“Aku Glenn. Teman sekantor Kaira.”
Atasan, lebih tepatnya. Tapi kaira tak ingin mengoreksi ucapan Glenn. Dia hanya ingin pergi dari tempat menyesakkan ini.
“Oh, maaf, aku kira kalian ada hubungan spesial.” kata Sita.
“Nggak apa-apa.” Jawab Kaira, dia berusaha memaksakan seulas senyum.
Liam menyelesaikan urusannya di kasir tak lama kemudian. Lalu keduanya pamit pergi, dia bisa melihat Sita bergelayut manja di lengan Liam.
Tempat Kaira dulu menyandarkan kepalanya untuk mencari ketenangan.
***
Perjalanan dari kasir menuju parkiran terasa lama. Glenn melirik Kaira, tatapan gadis itu masih sama. Lurus ke depan tapi kosong. Bahkan tidak sepatah katapun keluar dari bibir Kaira setelah lelaki itu pergi. Mendadak Kaira terasa begitu jauh dan muncul kegelisahan di dalam diri Glenn.
Bagaimana kalau dia tak lagi bisa menjangkau Kaira?
Kepala Glenn penuh dengan pertanyaan tentang apa hubungan Kaira dengan lelaki itu, siapa namanya? Liam?
Meski sebenarnya Glenn bisa menduga jawabannya, tapi dia tak ingin mengakui jawaban itu.
“Kaira, belanjaanmu?” Glenn membuka pintu tengah mobilnya lalu memasukkan kantung belanjaannya yang penuh. Ia mengulurkan tangannya ke arah Kaira setelahnya. Tapi gadis itu tidak merespon dan malah melamun.
“Kaira,” kali ini Glenn menepuk pundak Kaira. Gadis itu sedikit terkejut tapi ia tidak bereaksi, tatapannya masih kosong. “Belanjaanmu. Biar kutaruh di tengah saja.” Kata Glenn.
Biasanya, Kaira akan protes dan berkata tidak perlu, tapi kali ini Ia memberikan kantung belanjaannya pada Glenn. Ia kembali menatap langit malam di luar parkiran setelahnya tanpa antusias.
“Kaira, kamu…” Glenn tampak ragu, tapi dia meneruskan pertanyaannya. “kamu baik-baik saja?”
Kaira bergeming selama beberapa detik sebelum akhirnya ia berjalan perlahan ke pintu penumpang, berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Glenn.
“Jawab aku Kaira.” kali ini Glenn menarik tangan Kaira untuk mendekat ke arahnya. Gadis itu tampak terkejut dengan tindakan Glenn dan berusaha melepaskan dirinya, tapi Glenn tak membiarkan itu.
“Lepas.”
“Jawab aku.”
Persetan dengan batasan antara rekan kerja. Glenn tak bisa lagi mengabaikan Kaira yang sedang tidak baik-baik saja di hadapannya.
Kaira berhenti berontak, tapi dia masih menolak menatap Glenn. Dia hanya ingin pergi dan sendirian. Dia tidak ingin siapapun melihat sesuatu yang bisa meluap sewaktu-waktu dari dalam dirinya.
“Laki-laki tadi,” tanya Glenn lagi.