“Terima kasih. Saya akan memindahkan barang akhir pekan ini.” Kaira menatap lampu di atas meja kerjanya. Pendarnya sedikit menyakitkan. Dia baru saja menyelesaikan keperluan administrasi unit apartemen barunya. Kaira memutuskan untuk meninggalkan apartemen yang sudah empat tahun dia tempati.
Ini adalah langkah pertama.
Meninggalkan semua kenangannya bersama Liam di sana.
Kaira sadar, dia harus melangkah maju. Berada di apartemen yang penuh dengan kenangannya dan Liam hanya akan membuatnya menolak kenyataan kalau mereka berdua sudah tidak bersama lagi.
Setelah meletakkan ponsel, Kaira meraih setangkup sandwich yang pagi tadi Kaira beli di minimarket lalu melahapnya. Meski sudah berusaha mengabaikan bagian dirinya yang tidak menyetujui keputusan untuk pindah apartemen, sekelumit penyesalan masih menelusup ke dalam diri Kaira.
Menepis semua itu, Kaira berusaha fokus menelan sandwich—yang lupa ia makan siang tadi—lalu meraih selembar surat cuti dari laci mejanya. Dia harus menyerahkan ini pada Glenn besok atau dia tidak akan bisa menyelesaikan kepindahannya tepat waktu.
Sebenarnya Kaira bisa menyerahkan surat cuti itu pada Glenn Siang tadi. Tapi kilasan balik tentang Glenn yang memeluknya malam itu menghentikan semua usahanya untuk menemui Glenn. Bahkan Jaket yang lelaki itu pinjamkan sudah terbungkus rapi di totebag di bawah meja.
“Kaira.”
Kaira tersentak. Lelaki yang beberapa menit ini menyita pikirannya, berdiri tepat di depan meja. Sepasang alisnya berkerut.
“Ya, Pak Glenn.”
“Kamu lebih keras kepala dari perkiraan saya, ya. Ada sesuatu yang mendesak sampai kamu pulang lebih larut dari saya?”
Kaira tampak berpikir sejenak. “Saya akan cuti lusa, jadi ingin memastikan kalau target laporan minggu ini selesai besok.”
Glenn menyadari form cuti tergeletak di atas meja Kaira. Ia meraih lembar itu, cuti dua hari untuk Hari Kamis dan Jum’at, alasan keperluan pribadi. Meski tidak tahu keperluan pribadi apa yang akan dilakukan Kaira, tapi lelaki itu merasa lega. Gadis itu akan menjauh dari urusan pekerjaan sejenak.
“Aku akan menandatangani ini kalau kamu pulang dan beristirahat sekarang.”
“Hah?”
Dengan cepat lelaki itu meraih lembar cuti Kaira dan mengibaskannya di udara.
“Bukankah seharusnya anda mendukung pegawai yang berusaha bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu?” bantah Kaira.
“Sayangnya, saya bisa membedakan mana pegawai yang berusaha bertanggung jawab dan mana yang hanya ingin menjadikan tanggung jawab sebagai pelarian.”
Kedua alis Kaira berkerut menatap Glenn. Ia mulai jengah dengan tindakan lelaki itu yang seolah ingin menghancurkan tembok yang Kaira bangun semenjak Liam pergi.
Kepedulian.
Kepedulian yang ditunjukkan Glenn terasa menyakitkan. Kaira hanya ingin sendiri dan diabaikan. Dia tidak akan merasakan apapun jika orang lain mengabaikannya.
Rasa mual perlahan naik ke tenggorokannya, perlahan berubah menjadi kelu. Dia ingin orang lain memperlakukan Kaira seperti tidak terjadi apa-apa. Dengan begitu Kaira juga akan mengatakan pada dirinya sendiri kalau semua akan baik-baik saja.
Berhenti memberi simpati dan mengasihani, itu yang Kaira inginkan.
“Lalu setelah ini apa? Anda akan memaksa mengantar saya pulang? Memastikan saya masuk ke rumah dan tertidur lelap?” suara Kaira terengah, seperti menahan sesuatu yang ingin ia ucapkan.
“Dan memastikan kamu menghabiskan makan malammu.”
Kaira menggeleng. “Berhenti mengasihani saya, Pak.”