I've Got You

ARU
Chapter #13

Chapter 13. Lelaki Beraroma Citrus

Yogyakarta, 8 tahun lalu

Dengung mesin kopi dan aroma kopi yang menguar, suara obrolan yang sesekali diselingi gelak tawa ringan, aroma pie yang masih dipanggang dan alunan lembut dari sense of home yang dinyanyikan oleh Harrison Storm mendominasi suasana Serenitycafe tempat Kaira bekerja.

“Terima kasih, kami akan mengantar pesanan kakak setelah siap.” Kaira memberikan senyum bisnis ramahnya pada perempuan yang baru saja selesai membayar.

Sekilas Kaira melirik jam, masih pukul setengah sembilan malam. Jam sibuk baru saja mereka lewati. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum Serenity tutup.

‘It’s like we’re losing our sense of home. Just disappear.’ Senandung lembut lagu itu meleburkan obrolan yang terdengar di dalam Serenity.

Suara hujan yang redup menjadi jelas setiap kali pintu dibuka, membawa aroma hujan dan kelembaban dari luar.

“Selamat data-” Ucapan Kaira terhenti ketika ia melihat lelaki yang familiar memasuki Serenity.

Lelaki itu tampak melihat interior dan mencari bangku yang mungkin nanti akan ia duduki, sebelum berbalik menatap Kaira di kasir. Ia memakai kemeja flanel bernuansa abu-abu gelap yang tidak di kancingkan, dalaman kaus polos berwarna putih yang dipadukan dengan celana jeans hitam dan sneakers putih.

“Liam?”

“Hai.” Ucap lelaki itu begitu sampai di depan counter, bersama dengan aroma citrus dari parfum yang ia pakai.

Kaira seolah melihat ilusi, dimana tatapan lelaki itu sedikit hangat ketika ia bertatapan dengan Kaira.

“Ingin pesan sesuatu?” Kaira mengalihkan tatapannya ke mesin kasir, berpura-pura memastikan angka di monitor kecil di hadapannya sudah benar ‘0’.

Liam tampak berpikir sejenak sembari melihat daftar menu yang terpasang di papan di atas counter kasir.

Salted Caramel Latte, less sugar.

Kaira mengangguk.

Chicken atau tuna pastry?” Tanya Liam. “Menurutmu, mana yang lebih enak?”

Kaira sedikit mendongak dan mendapati lelaki itu tersenyum ke arahnya. Membuat Kaira sedikit menahan napas sembari menggigit bibir bawahnya selama sedetik.

“Tuna.”

“Baiklan, tuna kalau begitu.”

Kaira kembali melihat ke layar dan memasukkan pesanan Liam ke sistem.

“Ada waktu setelah shift mu selesai?” tanya lelaki itu lagi.

“Hah?” Alis Kaira sedikit naik.

“Ada yang ingin kutanyakan soal SPSS yang akan kita pakai untuk analisa nanti. Jadi, ada waktu?”

Kaira mengangguk. “Aku selesai shift jam setengah 11. Sekitar dua jam lagi.”

“Nggak masalah. Aku bisa menunggu.”

Kaira tampak ragu. “Benar? Kurasa itu…agak lama. Jangan bilang kamu ke sini cuma karena mau tanya soal SPSS? Aku bisa mengajarkan itu setelah jam kerja selesai, kamu bisa chat dan kita bisa janjian ketemu di luar. Jadi tidak perlu menunggu lama.”

“Menunggumu adalah dua puluh persen alasanku kemari, sisanya ya karena aku ingin mencoba makanan di Serenity.” Liam mengedikkan bahu.

“Totalnya tiga puluh enam ribu.” Kata Kaira.

Setelah membayar, Liam berjalan ke meja kosong di pojok. Ia mengeluarkan buku sembari menunggu pesanannya datang. The mountain is You. Itu judul buku yang Kaira lihat. Mendadak, Liam mendongak menatapnya.

Kaira yang sedikit panik langsung mengalihkan pandangannya. Wajahnya bersemu merah karena tatapan keduanya bertemu. Mungkin lelaki itu akan berpikir Kaira diam-diam mengamatinya. Meski itu juga benar.

Tanpa Kaira tahu, Liam tersenyum kecil melihat Kaira yang salah tingkah karena tatapan mereka bertemu.

***

Jam menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit saat Kaira selesai, ia berjalan tergesa ke arah loker. Liam menunggu di teras sejak setengah jam lalu. Rasa gelisah karena ia membiarkan orang lain menunggu dirinya membuat Kaira berkali-kali menghela napas.

“Tumben buru-buru?” tanya Mbak Fio, rekan satu shift Kaira.

“Ditunggu teman, mbak.” Jawab Kaira, ia tengah memeriksa apakah semua barangnya sudah masuk ke dalam tas atau belum.

“Cowok di depan itu?” Alis Mbak Fio terangkat naik, cengiran khas ketika ia menggoda lawan bicaranya muncul.

“Iya, teman.” Kaira menggelengkan kepalanya pasrah. Ia sengaja menekankan kata ‘teman’ agar Mbak Fio tidak salah paham, tapi sepertinya percuma.

Kaira berpamitan ke Mbak Fio dan bergegas ke teras dimana Liam menunggu. Tapi mendadak langkah Kaira menjadi pelan. Ia berhenti di balik tembok.

Liam ada di sana, masih dengan buku The Mountain is You yang tadi ia baca. Sebagian besar lampu sudah dimatikan, akan tetapi lampu di atas tempat Liam menunggu masih menyala, begitu pula dengan beberapa lampu temaram di pelataran.

Liam tampak seperti pemeran utama dengan lampu yang seolah fokus meneranginya.

Lihat selengkapnya