I've Got You

ARU
Chapter #15

Chapter 15. Kaira & Layla

Semarang, 8 tahun lalu

Dengung itu masih terdengar. Suara-suara di sekeliling Kaira terdengar samar karena dengung itu. Pundaknya berdenyut sakit. Ia yakin setelah ini akan ada bekas memar baru di sana. Saat ini dia tengah terduduk di ruang makan rumahnya. Tubuhnya berat dan dia berusaha bangkit.

“Kak!”

Suara itu terdengar jauh dan bias, seperti suara di atas air.

Belum sempat Kaira mendapatkan keseimbangan ia merasa rambutnya di tarik ke belakang dengan kasar, begitu perih sampai siapapun akan percaya kalau kulit kepala Kaira terlepas.

“Hentikan! Sudah hentikan Bu!!”

Kaira merasa tubuhnya didekap erat. Ia tidak tahu, siapa yang gemetaran, mungkin dirinya, mungkin Layla yang sedang mendekapnya erat.

“Hentikan, Bu. Kakak salah apa!? Kenapa Ibu selalu nyiksa kakak kayak gini?!”

Dengusan kesal menjawab permohonan Layla. “Dia hidup dengan wajah itu saja sudah dosa, Layla.” Ibu kedua gadis itu berbalik perlahan tanpa mengatakan apa-apa lagi.

“Astaga, kenapa selalu seperti ini?” Lirih Layla. “Pelan-pelan, kak. Ayo kubantu berdiri.”

Kepala Kaira sakit, ia yakin rasa sakit ini akan bertahan beberapa hari. Tapi tidak masalah. Ia masih memiliki sisa dua minggu lagi sebelum kuliahnya di mulai.

Setelah berjalan dengan susah payah, ia sampai ke tempat tidurnya. Persendiannya dan beberapa bagian tubuhnya terasa nyeri tiap kali ia bergerak. Perlahan Layla membimbingnya untuk berbaring.

Pandangannya yang kabur, perlahan kembali. Ia bisa melihat raut wajah Layla. Kesal, khawatir, sedih dan begitu sengsara. Perasaan Kaira campur aduk melihat wajah cantik adiknya, semua ini karena dirinya.

“Harusnya kakak pergi saja. Nggak usah kembali. Tidak usah mikirin keluarga ini.” Genangan air mata mulai nampak di pelupuk mata Layla.

Kaira berusaha meraih wajah Layla, tapi ia tak memiliki cukup tenaga karena ia tak makan apapun sejak kemarin.

“Harusnya kakak nggak perlu ngalamin semua ini. Harusnya kakak bisa hidup lebih baik daripada di sini.”

Kaira hanya tersenyum.

“Dimanapun, akan lebih baik dari tempat ini.” Layla membuka Laci Kaira. Ia meraih kotak obat yang disimpannya di sana, khusus untuk Kaira.

Perasaan gadis itu terkoyak tiap kali melihat ibu mereka menyiksa kakaknya, hanya kakaknya dan selalu Kaira. Ia bersumpah, suatu saat nanti ia akan segera hidup mandiri dan meninggalkan rumah ini, agar Kaira juga tak perlu kembali ke rumah ini.

“Karena aku..” Layla mulai terisak.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri Layla.” Jangan menyalahkan dirimu sendiri, maka aku akan baik-baik saja.

Hanya karena memiliki mata dan wajah yang mirip dengan ayah, Ibu mereka begitu membenci Kaira. Kalau Kaira melakukan kesalahan sedikit saja Ibu akan langsung menghajarnya seperti tadi, bahkan bisa lebih parah kalau ibunya tengah mabuk.

Semua ini bermula ketika Kaira berumur sepuluh tahun. Ketika tiba-tiba saja dunianya berubah. Ia masih bisa mengingat pagi itu semua masih baik-baik saja, ayahnya masih mengantar dia dan Layla ke sekolah, Ibu masih membawakan bekal dengan menu kesukaannya, ia masih bisa mengingat pujian dari ayahnya, betapa putrinya tumbuh dengan baik.

‘Cantik sekali putri papa.’

‘Nanti pulang sekolah Kaira mau es krim ya, pa. Kemarin Kaira ulangan dapat nilai bagus.’

Tapi hari itu ayahnya hanya tersenyum, tidak mengiyakan ataupun menolak permintaan Kaira.

Lalu lelaki itu pergi begitu saja. Kaira kira, itu adalah perpisahan yang biasa, dimana dia akan ke sekolah dan ayahnya berangkat kerja. Kaira tidak pernah mengira itu adalah kali terakhir ia melihat lelaki yang ia panggil ayah.

Sore itu, Kaira menunggu lama sekali sebelum akhirnya salah seorang tetangga Kaira menjemputnya pulang, dengan raut wajah yang tak bisa ia jelaskan saat itu.

Lihat selengkapnya