I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #2

JULI 2022 #1

Siang di bulan Juli tidak main-main. Seperti berdiri di tengah-tengah padang penghukuman, matahari cuma sepuluh senti di atas kepala, dan baju apa pun yang dikenakan terasa serba salah. Terlalu tipis untuk melindungi kulit, terlalu tebal sampai bikin kepanasan.

"Peraturan selanjutnya adalah program pasangan berkendara."

Aku menaungi pandangan dengan kedua telapak tangan yang kutekuk hingga membentuk semacam visor di atas dahi. Dengan begini setidaknya bayangan para panitia ospek yang berdiri di teras gedung rektor depan sana terbentuk dengan jelas.

"Oleh karena program ini dinilai efektif tahun lalu, kami, para panitia, dengan antusias mengumumkan bahwa program tersebut akan dilaksanakan kembali tahun ini. Program pasangan berkendara ini menyasar polemik yang biasa timbul pada masa ospek, beberapa di antaranya adalah sumbangan polusi udara di Bali, meledaknya volume lahan parkir hingga menyebabkan kemacetan, pemborosan biaya bahan bakar transportasi, serta penundaan jam pulang karena kemacetan di kawasan kampus. Program ini bersifat wajib, yang berarti kelancarannya akan diawasi secara ketat. Sejumlah panitia yang bertugas akan bersiaga di lahan parkir untuk memastikan para peserta mematuhi aturan yang telah ditetapkan. Berikut akan saya jabarkan lebih lengkapnya mengenai aturan program pasangan berkendara."

"Program pasangan cinlok mungkin maksudnya."

Baru setelah mendengar suaranya, aku menyadari bayangan suatu bentangan lebar di rerumputan di bawah kaki kami. Aku mendongak dan melihat jas almamater sewarna aprikot menutupi kepala kami berdua dari panas sinar matahari, disangga oleh lengan gempal dan panjang milik Winner. "Yang menyasar polemik maba-maba jombloers ISTB," kataku. "Aduh, baiknya panitia kita mau peduli."

Winner menyeringai.

Kemudian, nada jenaka lenyap dari suaraku, senyum mengejek juga tertarik dalam-dalam ke balik wajah ketika mendengar penjabaran panitia selanjutnya.

"Para peserta Ospek ISTB 2022 yang berasal dari satu desa atau desa berdekatan diperkenankan untuk berboncengan berangkat ataupun pulang ke dan dari kampus selama masa ospek."

"Nelman Kialo Sudrajat."

Tadinya aku sedang bermain melumpuhkan jempol tangan dengan Winner. Jemari kami saling bertaut hingga membentuk suatu kepalan erat, menyisakan jempol di udara, yang terangkat dan siap saling menjatuhkan satu sama lain. Tapi begitu mendengar nama itu disebut di auditorium, kepalaku menegak. Aku langsung berpaling dari tangan kami ke lantai satu.

"Nelman Kialo Sudrajat dipersilakan untuk mengambil perlengkapan peserta ospek di meja administrasi."

Sebelum instruksi itu selesai, dia sudah melompat turun dari tribun, seperti kucing hutan yang keluar dari pagar tinggi semak rimba. Aku terlalu kaget mendengar namanya sampai-sampai melihat wajahnya lagi secara langsung setelah selama tujuh tahun hanya memantaunya dari media sosial membuatku terpaku mengikuti langkahnya ke bagian depan auditorium.

Karena seharusnya dia tidak berada di sini.

Winner tadi bertanya sambil melepaskan tautan tangan kami. "Temanmu?"

Aku sempat bingung harus menjawabnya dengan apa. Karena Nelman terasa jauh sekali dari istilah "teman". Tapi aku tetap mengangguk, karena pada dasarnya, mereka menyebut kami "teman sekelas waktu SD".

Dan ketika melihat kepala botaknya melintasi ruangan, aku ingat perasaan tegangku itu berangsur-angsur tenang karena ... ya sudah kami sekampus, tapi fakultas kami berbeda. Kami nggak akan bertemu setiap hari. Aku mendengar namanya dan sudah dipastikan dia mendengar namaku disebut tadi karena fakultasku lebih tua dari fakultasnya sehingga namaku dipanggil lebih dulu darinya. Tapi terus kenapa? Dia juga pasti tahu kami tidak akan berinteraksi, sama saja seperti dulu.

Tapi kemudian program pasangan berkendara itu diumumkan.

Para panitia ospek datang seperti jaksa penuntut.

Suara panitia di atas panggung sana sudah lama hanya menjadi dengung tak berarti, sejak dia berkata program ini diharapkan tetap berlanjut meski masa ospek telah berakhir. Menurutku, itu mustahil. Mereka memasangkan kami berdasarkan zona, padahal mahasiswa dari jurusan berbeda lazimnya akan punya jadwal yang berbeda juga. Program ini hanya akan efektif pada masa ospek. Aku tadi sempat dengar ada opsi membebaskan diri dari program ini di bawah kondisi-kondisi tertentu.

Nama-nama pasangan berkendara mulai dibacakan oleh panitia dari Kabupaten Karangasem. Ada saja yang berminat melakukan perjalanan pulang-pergi dari Karangasem ke Tuban. Niat betul.

"Kamu dengar sendiri program-program yang dicanangkan ISTB sebagai bentuk sumbangsih atau kontribusi untuk masyarakat sekitar, kan? Tapi kenapa kita tetap kehilangan Desain Fashion? Karena kurangnya promosi dari pihak kampus atau karena memang Desain Fashion itu sepi peminat?" tanyaku dengan nada berapi-api.

Institut Seni dan Teknik Badung menjadi pilihan pertamaku karena berdasarkan situs web pertama yang kubaca, kampus ini merupakan satu-satunya kampus negeri yang menyediakan Jurusan Desain Fashion di Bali. Itu sepenuhnya salahku karena lupa mengecek tahun rilis artikel tersebut, yang ternyata ditulis pada tahun 2014.

Pada saat seleksi, aku terus mencari Desain Fashion dan merasa sangat bingung karena tidak juga menemukannya. Akhirnya, karena terdesak waktu, aku menyambar dua jurusan familier yang menurutku punya prospek bagus dan akan sanggup kulalui dengan baik selama empat tahun dengan memanfaatkan beasiswa yang kudapatkan dari pemerintah. Dua jurusan tersebut adalah Arsitektur dan DKV. Namun, setelah selesai, aku segera menanyai teman-teman di ruang seleksi yang sama denganku mengenai apa yang terjadi pada Desain Fashion; mengapa jurusan itu tidak ada di daftar. Tatapan mereka berubah jadi iba padaku. "Jurusan itu sudah lama dihapus dari kampus. Angkatan terakhirnya lima tahun lalu, cuma satu mahasiswa saja." Seluruh darah rasanya langsung terkuras dari kepalaku.

"Aku percaya lebih karena promosi dan edukasi tentang jurusan Desain Fashion dari pihak kampus kepada masyarakat luar kurang sekali. Bukan kurang efektif, tapi kurang saja."

Selagi dia bicara, aku memperhatikan sekeliling kami. Banyak peserta lain yang mengikuti gerakannya; jas-jas almamater kini membentang di udara.

"Kebanyakan orang tua baru akan merasa aman kalau anaknya berkecimpung di bidang medis, ekonomi, teknik, atau hukum, yang kedengarannya paling menjanjikan di Indonesia. Jurusan-jurusan seni seperti yang kita ambil ini dikesampingkan karena kebanyakan penghasilan yang kita dapatkan berasal dari karya kita yang diminati publik. Kalau tidak diminati, habislah kita, begitu tampaknya pola pikir mereka. Mungkin sebenarnya mereka cuma perlu diingatkan program-program di televisi, iklan suatu produk, dan produk hiburan lainnya sekelas lagu, pakaian, teater, film, dan lukisan dihasilkan oleh para seniman dan desainer ini. Lingkup kita di tengah-tengah masyarakat juga makan banyak bagian. Apalagi di era digital seperti ini, yang hampir memanfaatkan media sosial untuk segala hal, kreasi kita sangat dibutuhkan. Sekarang tinggal cari cara mengemas pidatoku barusan dalam interaksi yang interaktif saja untuk memikat orang-orang awam agar mereka tertarik pada seni dan desain. Seandainya itu bisa dilakukan secara efektif oleh pihak kampus, mungkin Desain Fashion sekarang masih ada di sini." Winner mengangkat alis yang tampak seperti pohon runjung padaku. "Dan kamu nggak akan kecewa karena terpaksa memilih jurusan lain yang kurang kamu minati."

Aku mengangguk setuju. Seandainya saja kampus swasta yang memiliki Desain Fashion di Bali menerima beasiswaku.

"Tapi jangan nyesel, Abril. DKV bakal seru, kok, aku jamin."

Begitulah, Arsitektur memutuskan untuk menolakku. Mungkin karena portofolio yang kuserahkan kurang relevan atau malah tidak menarik minat para dosen.

"Apalagi kalau kita sekelas. Aku bakal menemani prosesmu dari bocah linglung yang terpaksa masuk DKV jadi desainer komunikasi visual profesional."

Lihat selengkapnya