I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #3

AGUSTUS 2022 #1

Mata Mula membeliak ketika melihat sekelumit diri Ludwig muncul kembali di hadapannya dalam tubuh Nelman. Mata belo mereka yang sayu, hidung bangir dan bercuping lebar, telinga besar. Padahal semalam aku sudah memberitahunya mengenai pasangan berkendara dengan harapan sesuatu semacam ini tidak terjadi. Aku tidak terlalu ingin mengejutkan kakakku yang sensitif ini. Harapanku tidak tinggi-tinggi amat, hanya agar Mula bisa mengendalikan diri setiap kali berjumpa dengan Nelman, yang tentunya akan sangat sering terjadi bulan ini. Tapi semalam, dia malah membuat beberapa spekulasi mengenai kehadiran Nelman di ISTB.

"Dia pasti lulus seleksi masuk di pilihan pertama, Abe. Dia—"

"Nggak pasti. Alasan dia ke aku sih baru ingat kalau di ISTB ada Fotografi, makanya dia ikut ujian mandiri di ISTB." Aku mencebik. "Tapi aku yakin, sebenarnya dia ikut ujian mandiri karena dia nggak lolos di Udayana, Sistem Informasi maupun Informatikanya."

"Tapi dia Nelman," katanya. Mata cokelat beningnya menghunjamku. "Dia kapabel untuk masuk Sistem Informasi Udayana. Apalagi sama kayak kamu, dia ambil gap year tahun kemarin, dia punya banyak waktu untuk mempelajari ulang mapel-mapel saintek."

Aku mengangkat bahu dan menggeleng. "Temenku yang ambil kelas khusus seleksi masuk PTN 30 juta aja cuma lolos di pilihan ketiganya. Ludwig juga bilang Nelman cuma belajar autodidak kayak aku, kan? Aku aja nggak lolos Arsitektur ISTB." Bahkan sebelum kami benar-benar bisa merenungi kata-kataku barusan, diam-diam suara kecil di balik kepalaku menyangkal. Ya kalau kamu yang nggak lolos memang udah biasa, kan? Jumlah nilaimu di rapor dulu kayaknya nggak sampai setengah jumlah nilai rapornya Nelman.

Dan saat aku kembali menatap Mula, aku tahu bahwa kami sedang memikirkan jawaban yang sama. Kami sama-sama memilih diam. Mula pun memutuskan untuk menunduk dan kembali mengisi buku jurnalnya.

"Kami berangkat dulu, Tante, Kakak." Nelman berpamitan sebelum kembali ke atas jok motor yang berwarna hitam. Bukan motor Ludwig.

Sains bukan ranah yang kukuasai, harus kuakui. Dari dulu, itu sudah menjadi keahlian Nelman, tapi aku tidak mengerti kenapa setelah lulus SMP, dia melanjutkan ke SMK dan bukannya mengambil jurusan IPA di SMA. Padahal dia itu mirip sekali dengan Mula yang selalu masuk kelas pembinaan untuk persiapan olimpiade sains waktu SD dulu. Aku lebih mirip Ludwig, kami pernah menjadi atlet basket Badung ....

Aku mengembuskan napas. Tidak adil membayangkan masa itu lagi. Sementara Nelman bebas menambah berapa pun minat yang ingin dikuasainya sambil mempertahankan apa yang sudah dimilikinya, aku dipaksa melepas keahlian yang seperti sudah mengalir di sepanjang nadiku. Tahun ini dia mengambil Fotografi, ilmu yang pasti sudah dikuasainya sejak SMK. Aku mengambil DKV dan hanya samar-samar mengingat caranya menuangkan suatu desain ke atas media.

Basket, desain ....

Uap mengepul di dalam helm yang kacanya kututup. Haaah ... udara pukul enam pagi terasa ringan dan bersih. Embun seolah menghambur di udara, terjaring masuk ke hidungku di antara wangi lavender yang ditawarkan tubuh Nelman. Wanginya begitu lembut, seperti belaian air. Walau tidak pernah menitipkan pakaian kotor di penatu Nelman, tetapi aku yakin, tepat seperti inilah aroma ruangan puluhan cabang Laveland Laundry, salah satu usaha yang membuat kekayaan keluarga Nelman awet. Laveland Laundry menyebar seperti air dalam sistem perpipaan industri rumahan di Bali. Pertambahan cabangnya konsisten, serupa dengan reputasinya.

Itulah yang membingungkanku ketika Mula bilang Ludwig menolak untuk mewarisi seluruh cabang Laveland Laundry. Seandainya Ludwig menerima bagiannya, Nelman yang akan melanjutkan tiga cabang Sudjati Furniture. Jumlahnya memang sedikit, tetapi distribusi produknya bisa mencapai luar negeri sehingga pasar yang dirambahnya lebih luas daripada Laveland. Itu adalah pembagian yang adil sampai hari ketika Ludwig lebih memilih untuk berangkat ke Italia demi mewujudkan mimpinya membangun merek dagang es krim sendiri. Aset gabungan Laveland Laundry dan Sudjati Furniture pun akan jatuh ke tangan pemilik tunggal.

Aku melirik Nelman lewat cermin spion kanan. Hanya sebagian rahangnya yang tampak. Bibir merah pucatnya terbentang datar. Aku ragu dia tahu apa yang kurasakan terhadapnya selama sembilan tahun belakangan. Sepertinya Nelman tidak pernah membayangkan menjadi seseorang yang terus dipikirkan oleh orang lain. Namanya masuk dalam doa orang tersebut. Dia adalah bagian dari mimpi yang ingin diwujudkan orang itu.

Orang itu adalah aku.

Tidak pernah semalam pun aku berhenti memikirkan cara untuk membuktikan kepada dunia sehingga Bu Darmani juga akan tahu bahwa aku bisa menang dari Nelman. Dalam doaku, aku akan bisa membangun rumah produksi busana yang dipuji-puji oleh seluruh umat manusia, terutama Nelman dan Bu Darmani. Mimpiku tentu saja menjadi seorang jenius dalam bidang desain busana yang mampu membuat Nelman meringkuk malu dan merasa hina di sudut Bumi, bersama Bu Darmani yang selalu saja membelanya.

Kemudian, waktu menampar pipiku. Aku ditarik paksa untuk menghabiskan lebih banyak waktu hidup dalam kenyataan dan bukannya imajinasi. Waktu menyusutkan diri, membawa Nelman bersamanya dan melemparkan Nelman ke arahku. Rasanya menjengkelkan sekali.

Kami kembali lagi berdiri di ring tinju yang sama, padahal aku belum sukses, seperti rencana awalku.

Tapi sebenarnya ... bukankah itu bagus? Kalau dia ada di sini saat ini, aku jadi tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk membuktikan diri.

"Turun, dong, Abril. Ini kamu minta digendong aku apa gimana?"

Aku menunduk, mendapati tanah yang keras dan berselimut debu putih. Segera kutimpuk bahunya dengan bogem lalu turun dari motor Nelman. Sambil menyampirkan helm di cermin spion, aku meliriknya.

Lihat selengkapnya