"Mungil banget. Ada berapa nih? Cukup memangnya buat kami semua?"
Suaranya seolah diucapkan oleh orang yang berada di ketinggian 15 meter. Salah satu pelanggar aturan yang memang bertubuh tinggi—mungkin cuma lebih pendek 3 cm dari Winner yang tingginya mencapai 180 cm. Dia punya wajah yang kuasosiasikan dengan keahlian pandai menipu karena lirikan matanya yang cepat dan cermat, juga bibirnya yang gampang mengumbar senyum miring. Tapi secara keseluruhan, dia mirip John Kransinski.
John Tinggi menjimpit cup kertas dan membaui aroma cinnamon roll sambil melirik Nelman.
"Ada segini," Winner yang menjawab, "nggak terlalu banyak, tapi kalau kita berbagi mungkin cukup."
"Pagi tadi aku memanggang 40 roti." Aku menyahut saat seorang gadis bergigi kelinci mendekatiku dan tanpa malu-malu menarik satu kotak bekal dari tumpukan. "Yang nggak dapat roti bisa makan ayam, Winner goreng 4 kg, kok. Lumayan."
Mereka mengamati satu sama lain, mungkin menghitung jumlah mereka sendiri. Aku tertawa dan diam-diam merasa berdosa karena bersyukur beberapa orang lebih memilih untuk mengabaikan kami. Mungkin kalau mereka masih di sini, ada yang harus makan satu ayam atau satu roti dibagi dua.
Sambil makan, kami semua berkenalan dan malah tertawa-tawa karena merasa cocok satu sama lain. Mereka tersebar dari berbagai jurusan. John Tinggi anak Fotografi dan namanya adalah Kafka, Gigi Kelinci anak DKV yang bernama Rosi—untung juga menyelenggarakan bakti sosial kecil-kecilan begini. Ada yang bilang lupa pada peraturan itu, ada juga yang bilang bekalnya sudah siap, tapi tertinggal di indekos, ada yang mengaku masa bodoh, kalau dihukum ya sudah. Yah ... sudah, dia dapatkan apa yang dia mau besok.
Suaranya yang mendayu-dayu dalam ketukan berat mudah sekali dibedakan dari yang lain sehingga aku berhenti menahan diri dan akhirnya menoleh ke kanan, melihatnya melintas dengan satu panci ayam goreng sambil tergelak. "Tapi ini nggak digigit Devan, cuma dicongkel-congkel dikit lah." Dia menjelaskan pada seorang laki-laki yang tadi melambai padanya.
"Dicongkel dikit apanya, ini kelihatan bekas dikokop."
Gelak tawa Nelman makin parah sampai dia membungkuk dan menepuki lutut.
Langkahku di dekat pintu terhenti karena ada yang memanggil namaku. Suara ibu-ibu, tukang marah, jutek, kalau teriak, pipi tembamnya bergoyang-goyang. Aku mendesah sebentar sebelum berbalik. Tuh kan benar, yang memanggilku dia. Beliau sih kalau kata Mama.
Bu Darmani menekuk-nekuk telapak tangannya sambil mengangguk padaku. "Sini, Abril, Ibu minta tolong padamu."
"Ya, Bu?" Kakiku terseok-seok menghampirinya.
Bu Darmani mengambil setumpuk kertas di atas meja kayu berlapis kacanya. Ada angka merah yang melingkari bagian atas kertas teratas. O-ow. Sepertinya ini ulangan Matematika kami. Aku menggigit bibir. Helmi Januar mendapat 45. Harus ambil punyaku duluan nih. "Tolong berikan pada Nelman. Abril dengar saya, ya? Berikan pada Nelman. Biar Nelman yang membagikan hasil ulangan Matematika di kelasmu."
Aku menatap bingung padanya. "Saya bisa membagikannya, Bu."
"Berikan pada Nelman saja. Ibu percayakan pada Nelman. Kalau kamu yang bagikan, nanti malah kamu jadikan bahan candaan." Sekarang, tatapannya seperti mau mengubahku jadi hamster. Jadi aku berhenti membantah dan balik kanan keluar kantor guru.
Heran deh. Dengan memberikanku setumpuk kertas ini kan juga berarti dia percaya padaku? Kenapa malah tanggung sekali? Pak Gede saja percaya padaku untuk membawakan tasnya dari lapangan ke kantor guru, kenapa sih Bu Darmani tidak bisa begitu padaku?
Sebelum masuk kelas, aku tidak lupa mencari hasil ulanganku dan melipatnya jadi kecil supaya bisa masuk kantung celana olahraga. Nilainya lebih kecil sepuluh dari Helmi, nice.
Nelman, seperti biasa, sedang duduk di bangkunya yang terletak di depanku, jadi murid pertama yang sudah mengganti pakaian olahraga dengan seragam batik biru. Aku memukulkan tumpukan kertas itu ke mejanya sampai dia terlonjak. "Bu Darmani bilang harus kamu yang membagikannya." Karena dia diam saja dan cuma melirik kertas-kertas itu, aku menambahkan. "Aku nggak mau ya, Nelman, kalau kamu mengoper tugas ini ke orang lain dan Bu Darmani sampai tahu terus menyalahkanku lagi. Kalau sampai itu terjadi ... lihat aja. Olahraga minggu depan jadwalnya basket dan aku bakal lempar bola-bolaku ke kamu, bukan ke ring!"
Pelajaran berlanjut ke Bahasa Bali. Saat bel istirahat berbunyi, aku buru-buru keluar kelas, menolak ajakan Gilang untuk main Bom-Bom-Yes bersama yang lain. Ketika selasar kelas sudah sepi, aku berjingkat-jingkat ke jendela terpojok yang dekat dengan pintu kelas untuk memantau Nelman. Dia keluar dari bangkunya. Kertas ulangan teman-teman masih terletak di sana. Aku merapatkan diri ke balik pintu yang terbuka ke arah luar kelas. Dengan santai dia meninggalkan kelas, tanpa sadar melaluiku dan berjalan menuju perpustakaan.
Tanganku mengepal. Uh! Selalu saja dia cari gara-gara padaku. Awas saja ya bocah itu.
Rafael lalu masuk. Si ketua kelas melihat kertas ulangan di meja Nelman, dia pun berinisiatif meletakkannya di laci meja guru. Begitu Rafael keluar lagi, aku masuk dan membagikan setiap kertas di bangku masing-masing anak sambil mencak-mencak.
Aku harus percaya dia sudah berubah. Seratus persen malah. Tapi rasanya malah seperti berkenalan dengan orang baru dan itu aneh karena kenyataannya, kami "teman lama".
Makan siang bersama selesai. Ayam dan cinnamon roll ludes. Aku dan Winner pun menagih rantang kami lalu menyegelnya kembali. Kami dan rombongan pelanggar aturan bergegas menuju auditorium. Lenganku ditepuk-tepuk. "Apa?" tanyaku pada antara Winner atau Nelman yang sedang berjalan di belakangku. Tapi kemudian lenganku dicengkeram dan ditahan dengan kuat hingga aku menghentikan langkah lalu berbalik.