Keesokan harinya saat mengantre untuk inspeksi dan mengisi kolom kehadiran, seorang panitia keamanan yang mengenali kami langsung memberengut. "Kalian bertiga dapat perintah untuk melapor ke Pos Sanksi di jam istirahat makan siang nanti."
Ternyata kesalahan kami cuma disimpan, bukan dilupakan.
Sirine istirahat berbunyi nyaring. Aku dan Nelman melompat ke teras auditorium. Sungguh janggal rasanya melihat langkah kami seragam, seperti sepasang agen CIA. Kanan, kiri, lompat, kanan, kiri, hap!
Kemarin, dia melotot padaku sambil tersenyum lebar sekali di lapangan parkir pada jam pulang ospek. "Aku mau diajari yang kayak siang tadi."
"Apa? Cara memakai otak sebagaimana seharusnya?"
"Bikin panitia trauma." Lalu Nelman terbahak-bahak sambil menyambar helm di cermin spion.
Dari lapangan utama, kami bertiga bergerak menuju Pos Sanksi. Tendanya kosong, kecuali dihuni seorang laki-laki berambut keriting tebal dan dicukur model undercut yang tengah duduk santai. Kakinya diluruskan di rangka bawah meja hingga celana kain hitamnya menggantung di atas tanah. Kedua alis gelapnya yang kelihatan seperti stiker bulu kaki laki-laki terangkat melihat kehadiran kami. Kunyahannya melambat. Jambu biji di tangannya berhenti tepat di depan bibir yang terkatup.
"Halo! Kalian datang."
Lucu sekali karena aku merasa seperti ada sesuatu dalam diri Rambut Jewfro ini yang membuatnya tampak seperti punya kuasa untuk mengatur pemerintahan di Bumi. Mungkin dari gestur santai tubuhnya, atau tatapan memaklumi yang dia anugerahkan pada kami (benar, anugerah, hebat, kan?), atau malah sikap tersembunyi bahwa seolah-olah dari tadi inilah yang dia tunggu-tunggu, tapi melihat kehadiran kami sungguhan tetap membuatnya ingin tersenyum penuh kemenangan.
"Kemarin aku dengar ada yang bersikeras merasa nggak melakukan kesalahan apa pun?" Dia pura-pura melirik ke langit-langit tenda. "Atau aku yang salah tenda? Ini benar Pos Sanksi, kan? Aku disuruh berjaga di sini."
"Kami disuruh datang ke sini untuk melapor," jawabku.
"Melaporkan apa?"
"Entahlah, melaporkan ketidaksalahan kami, mungkin?"
Kurasa aku tidak salah kalau mengatakan Rambut Jewfro sedang mati-matian menahan tawa.
"Sudah datang melapor," katanya sambil mengangguk padaku. "Lalu?"
Mataku sontak menyipit, membalas tatapan jenakanya yang lagi-lagi kelihatan seperti menunggu-nunggu sesuatu. "Kembali." Aku kemudian menjawab.
"Kembali?" Dia tersenyum tak percaya.
"Kembali." Aku menjawab lebih tegas.
Maka Rambut Jewfro mengangguk-angguk setuju. "Kembali."
Lagi-lagi, kejadian ini membuat Nelman takjub. Dia menolak berhenti bertepuk tangan dalam perjalanan kami kembali menuju auditorium. Teman-teman yang kami dapatkan dari rombongan pelanggar aturan hari pertama juga duduk dengan patuh saat mendengarkan cerita Nelman mengenai interaksi yang terjadi di antara aku dan panitia Rambut Jewfro. Sebagian dari mereka ikut membawa makanan lebih yang lagi-lagi kami bagikan pada pelanggar aturan hari kedua dan seterusnya. Dan Nelman tak akan pernah mau melewatkan kesempatan untuk menyebarluaskan cerita mengenai keberanianku menantang si Rambut Jewfro.
"Hebat! Kalau nggak lihat sendiri, rasanya kayak lagi menceritakan ulang Mitologi Yunani." Tepuk tangan. "Kejadian kayak gitu nggak masuk di akalku." Tepuk lagi (kali ini lebih banyak!). "Aku yang lihat sendiri aja masih heran." Tepuk tangan yang meriah.