I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #6

AGUSTUS 2022 #4

"Kamu pikir aku peduli?" Aku menyilangkan tangan di dada sambil mengangkat alis.

Tiba-tiba saja dia meringis geli. "Kamu memang nggak pernah peduli ya?" katanya diselingi kekehan. Seolah-olah dia sangat memahamiku. Cih. Selat beberapa detik setelahnya, kekehannya pudar. "Tapi aku serius. Aku bisa akting jadi orang yang sangat mudah dipercaya sama orang lain, Abril."

Bahkan dengan memberi pengakuan palsu? Kamu nggak perlu akting. Kamu kan memang jago melakukannya.

Sesuatu membuatnya berkedip untuk menghalau gurauannya tadi. Dia melirik tanganku yang memelintir tali helm cokelatku. "Gimana kalau ... aku minta tolong sama kamu?"

Kubiarkan dia melanjutkan.

"Agar kamu mau bantu aku buat Goals Tracking karena jujur-sejujur-jujurnya, aku nggak bisa menggambar sedikit pun."

"Tapi otakmu udah terbiasa memburu sudut terbaik untuk dapetin foto yang menurutmu sempurna. Itu udah ngebantu banyak loh."

"Aku suka caramu bilang sempurna menurutku." Dia tersenyum. Wajahnya kembali memberengut dan suaranya pun mendesak. "Tapi tahu perspektif aja nggak ngebantu banyak, Abril. Aku tetap aja nggak bisa gambar. Tahu dasar-dasar menggambar kayak bangun datar atau bangun ruang aja nggak."

"Bantu banyak, kok! Setidaknya, kamu jadi bisa nentuin sudut pandang yang mau kamu pakai di GT-mu."

Dia mengernyit. "Itu aja? Udah, itu aja? Abril, kamu lihat sendiri, kan? Nggak ada satu pun GT yang dibuat asal-asalan di ISTB. Kayaknya orang-orang yang berani masuk sini cuma keturunannya da Vinci aja deh. Aku jadi ngeri."

"Leonardo da Vinci nggak menikah, Nelman," kataku dengan sabar.

"Anak-anak saudaranya Leonardo da Vinci."

Aku menghela napas.

"Masa kamu tega lihat aku ngumpulin GT kayak lukisan yang dibuat Cyclop?"

Aku menggaruk telinga yang gatal. "Waktu itu Troll, sekarang Cyclop. Kamu baca apa, sih?"

"Itu rahasia yang cuma mau aku bagi sama orang yang mau bantu aku buat GT aja."

Telapak tanganku terbuka ke arahnya. "Bye, Nelman! Berarti bukan aku. Nice."

Nelman berdecak dan berniat mengacak rambutnya—gerakan refleks yang pasti sering dia lakukan waktu rambutnya masih panjang karena sekarang, dia langsung banting arah jadi menggaruk kepala botaknya.

Karena melihatnya sefrustrasi itu, aku berkata dengan suara tenang. "Coba bayangin skenario ini." Bayangan dedaunan hampir menyatu dengan seluruh permukaan benda, menandakan sinar matahari yang menyongsong makin lemah. "Aku bersedia bantu kamu, tapi aku nggak berhasil ngontrol diri sampai-sampai mencurahkan segenap perhatianku untuk GT-mu. Yang terjadi berikutnya, GT-mu jadi cantiiik banget, sampai-sampai GT-mu diputuskan jadi primadona GT di ISTB. Namamu pun dipuji dan dipuja di seluruh kampus. Padahal ... semuanya hasil karyaku. Apa menurutmu itu nggak rugi di aku? Memangnya kamu nggak bakal merasa bersalah mengakui karya orang lain sebagai milikmu?"

"Nggak mungkin untung di kamu, tapi kan yang penting untung di aku."

Aku menatapnya.

"Cuma bercanda," jawabnya sambil mengangkat telunjuk dan jari tengah tangan ke depan wajah kami, lalu menyilangkannya. Aku tetap diam. Dia akhirnya menyengir dan memisahkan telunjuk dan jari tengahnya. "Aku janji, kalau yang terjadi skenario yang itu, aku bakal kembali menceritakan legenda Abril si Penakluk Teroris Akademik. Kali ini judul legendanya Abril si Generator GT Brilian. Eeeh ... kok generator ya? Aaah ... Abril si Kreator GT Brilian."

"Itu kan cuma kalau GT-mu popularitasnya meledak karena bantuanku. Kalau nggak?"

"Yang penting aku dibantu buat GT." Wajahnya kini memelas. "Swear!"

Lihat selengkapnya