I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #7

AUSTUS 2022 #5

Lima sketsa yang kubuat tanpa berpikir panjang (berdasarkan tutorial "Loose Sketch Book in 7 Days" yang kutonton di YouTube, aku disuruh berkarya tanpa cang-cing-cong, fokus pada apa yang melintas di benakku pertama kali saja) ingin kurobek paksa dari bukuku. Kalau tidak mulai mengubahnya jadi seni rupa murni, aku akan secara tanpa sadar membuatnya jadi seperti tugas desain busana gagal. Aku bingung meletakkan tujuan dan langkah-langkah mencapainya karena kertas sudah telanjur penuh oleh berbagai elemen. Aku pun mencoba cara lain, melupakan rencana menggambar alam di suatu planet berlangit biru tua, pink, dan ungu. Tadinya aku sempat mencoba kain yang berkibar di suatu langit berlatar cakram galaksi, tapi gambar abstrak itu membuatku seperti hilang pegangan, saking kosongnya sampai membuatku takut sendiri.

Ya sudah, aku menggambar figur saja, berniat menonjolkan minatku terhadap desain busana. Tapi sialannya, gambar figurku tidak proporsional sampai-sampai aku harus kembali menonton tutorial menggambar figur di YouTube. Setelah sekitar 18 kali percobaan gagal, aku menyerah, menyimpan pelajaran menggambar figur nanti saja kalau sudah mulai kuliah, dan banting setir ke wajah yang di-close-up. Siapa tahu aku bisa menggunakan fitur-fitur wajah sebagai bullets untuk menandai setiap tujuan. Masalahnya tidak berbeda dari yang sebelumnya. Wajah yang kugambar di kertas sudah bukan milik manusia lagi, maka dia adalah semacam kudanil dan gorila, sekaligus peranakan keduanya.

Tenang, Abril. Masih tersisa enam hari lagi jika hari ini juga dihitung. Selama itu, kamu pasti dapat ide.

Bersandar pada dinding di bawah jendela kamar, Mula membaca sebuah novel bersampul jingga dengan tenang. Sehari-hari, itulah yang dia kerjakan selain berkutat dengan jurnal hitam dan joging sore. Uangnya kebanyakan berasal dari mengirimkan resensi buku ke suatu situs. Tapi itu pun tidak seberapa, mungkin hanya 75 ribu sekali kirim, sedangkan dia membutuhkan waktu paling cepat tiga hari untuk menyelesaikan sebuah novel berhalaman kurang lebih 300.

Yang membuatku kesal, hobi barunya menulis jurnal itu sepertinya adalah faktor terbesar yang membuatnya berhenti melukis. Siang dan malam dia menulis atau menggambari jurnalnya itu. Aku memandangi peralatan lukisnya dalam keranjang rotan samping televisi dengan prihatin. Entah kapan kalian akan bertugas kembali, anak-anak.

"Aku mau pinjam oil pastel, pensil warna, cat air, spidol, dan ink-mu."

Dia mendongak dan barulah dia sadar aku sedang menggendong ransel di satu bahu. "Mau ke mana?"

"Buat tugas di rumah Nelman."

Mula tertegun. Mungkin sedang membayangkan seandainya dialah yang berkesempatan mengunjungi rumahnya Ludwig. Setelah berhasil menguasai diri, dia mengangguk ke keranjang rotan. "Semuanya di situ, ambil aja."

Aku bisa merasakan tatapannya yang membelai punggung sewaktu aku mengemasi semua peralatan yang kubutuhkan ke dalam ransel. Akhirnya, dia tidak bisa menahan diri lagi. "Jadi, kamu udah tahu apa yang mau kamu gambar?"

Tubuhku menegak. Aku memasangkan tali ransel dengan benar di kedua lengan lalu berjalan melewatinya sampai keluar dari kamar kami dan berdiri di teras. Wajah Mula mengikuti langkahku, menunggu jawaban yang tak akan sudi kuberikan.

"Ma, aku mengerjakan tugas di rumah teman!" kataku sambil menyandarkan dagu di pembatas tripleks antarkamar. Mama memperlebar celah pintunya. Dia sedang duduk di tepi kasur, memijati kaki Ayah yang tergeletak di sebelahnya. Aku menghampirinya. "Nanti siang aku pulang, jangan jalan ya?"

"Nggak usah," dia menggeleng, "nggak apa-apa, Mama mau sambil olahraga."

"Olahraga kok siang-siang. Pokoknya nanti sebelum jam sebelas, aku pasti udah di rumah, kok, tapi cuma anter Mama ambil sisa martabak sama uang aja, habis itu balik lagi, lanjut buat tugas."

"Di rumah Nelman ya?"

"Iya, dekat, kan? Dah, Ma!" Aku mengecup pipi Mama sebelum melompat turun dari teras kamarnya lalu mengeluarkan motor dari lahan parkir indekos yang memanjang.

Rumah Nelman adalah bangunan berlantai dua yang kelihatan tangguh sekaligus punya sisi melankolis karena di antara batuan hitam kasar di dindingnya, terdapat petak bercat putih yang terkesan rapuh. Papan-papan kayu terpasang angkuh pada eksterior lantai dua, berseling dengan balok besi hitam. Jendela panjangnya berkilauan memantulkan sinar matahari pagi.

Aku menekan bel di sebelah lubang selot gerbang. Butuh waktu kurang dari dua menit sampai bagian kanan gerbang itu terbuka ke dalam. Nelman muncul di antaranya, mengenakan celana golf khaki dan kaus kuning cerah.

"Cepetan, Abril, aku udah nggak sabar mau sarapan."

"Iya, iya, kalau tahu dicepat-cepat gini mending aku nggak usah datang."

"Ayo!" Dia berlari menuju pintu tunggal besar bergagang logam panjang yang terbuka. Aku melangkah melewati garasi dan melihat motor Ludwig terparkir di sudut, didongkrak dua. Begitu sampai di pintu, kelengangan rumahnya membuatku terpana.

"Di rumah sebesar ini, kalian tinggalnya cuma bertiga aja?" tanyaku, melewati lorong pendek yang memuat dua ruangan. Pintu ruangan di sebelah kiri lorong tertutup, sedangkan di sebelah kanan tidak berpintu, hanya ada ambang yang melengkung, menjadi batas masuk ruang makan. Setelah melewati dinding ruang makan, dari ruang tamu aku dapat melihat dapur yang terhubung langsung dengan ruang makan.

Lihat selengkapnya