Intuisinya bagus. Tak heran dia selalu berhasil menentukan sudut dan komposisi yang tepat untuk foto-fotonya. Nelman mencari referensi sudut pengambilan gambar kamera di Pinterest. Begitu menemukan yang sesuai dengan keinginannya, dia mengambil kameranya di kamar dan memosisikan kamera itu sedemikian rupa seperti foto preferensi.
"Ini gimana, Abril? Abril?" Nelman meluruskan punggung dan memandangku. Tangannya melambai. "Kamu belum dapat ide?" Aku menggeleng. Dia memutar bola mata ke langit-langit ruangan sambil berdengung. "Basket? Gimana sama bola basket?"
"Mau dibuat gimana biar kelihatan menarik?" Meski sejujurnya aku sama sekali tidak terpikirkan itu sebelumnya.
"Kayak efek blur motion? Ceritanya bolanya lagi melintas mendekati kamera. Otomatis fokus kita bakal ada di bolanya, kan? Jadi bolanya jernih, tapi di luar itu blur motion."
Bagaimana caranya mengatakan pada Nelman bahwa aku tidak mengerti cara melukis efek seperti itu tanpa membuatku kelihatan bodoh? "Iya, aku coba di buku sketsa dulu."
"Oh, ya, tadi aku mau tanya pendapatmu. Ini gimana? Udah kelihatan kayak kamera, belum?"
Dia mengetuk-ngetuk kertasnya. Seketika aku tertawa. "Kayak TV tabung." Garis Nelman kasar sekali dan patah-patah. Dia membuat kameranya jadi berbulu.
"Yeee malah diledekin. Dikasih tahulah yang benar gimana kalau gitu."
Tanpa pikir panjang, aku mengangkat pensilku sendiri, melupakan janjiku padanya untuk mencoba menggambar bola basket, dan mulai membuat sketsa kamera di kertas A3 miliknya.
GT Nelman kami selesaikan pada hari Selasa. Karena tidak menguasai teknik mewarnai yang bisa menimbulkan efek 3D, aku menyarankannya untuk menerapkan teknik potongan kertas berlapis. Kami menumpuk lensa eksternal untuk ilustrasi kameranya sampai sembilan lapis. Kamera itu berwarna seperti baja gelap, aku membantu memberi efek kilau di beberapa titik untuk menyempurnakan tampilan 3D-nya. Seperti ideku kemarin tentang fitur wajah yang akan kumanfaatkan sebagai bullets setiap tujuan, aku mengarahkan Nelman untuk memanfaatkan fitur kamera sebagai bullets setiap tujuannya.
Selasa ke Jumat tersisa tiga hari. Kami hanya membutuhkan dua hari untuk menyelesaikan GT Nelman. Kurasa aku bisa santai walau konsepku belum ada yang matang. Ide tentang bola basket itu sebenarnya lumayan, tapi bola basket kan terlalu ... bola. Apa sih yang bisa dinikmati dari tampilan bola? Coba lihat kameranya. Ada lensa, tombol shutter, flash light, tombol opsi lain. Bola punya apaaa? Selain warna jingga bersemangat (kalau itu basket) dan bilur-bilurnya?
Aku menyimpan ide tentang desain busana itu di buku sketsa dan berharap akan bisa menyempurnakannya sebelum Kamis.
Tapi kemudian, rasanya aku baru selesai berkedip setelah bicara begitu, sekarang sudah Rabu pagi. Nelman menjemputku, kami menebak-nebak akan seheboh apa Hari Perekatan, apakah ospek institut masih akan lebih seru dari ospek fakultas, dan bagaimana kami akan menghadapi ospek jurusan selama enam bulan. Kami pun sampai di parkiran.
"Abril, ini udah Rabu." Kayak aku perlu diingatkan saja deh. "Kenapa kamu belum unggah progres GT-mu ke Instagram?"
Bukankah jawabannya sudah jelas karena aku belum membuat progres apa pun? Dia melepaskan kait helmku dan bergerak menarik helm dari kepalaku, tapi aku menjauhkan diri darinya.
"Ke sini, jangan mundur-mundur, nanti orang jadi roboh kena tabrak kamu."
Aku kembali maju sambil menoleh ke belakang. Sialnya, dia benar. Seorang perempuan melirik tajam padaku. "Sori," kataku. Perempuan itu cuma berdeham dan cepat-cepat pergi dariku. Aku merasakan kepalaku dijumput ke atas dan selat sedetik baru sadar kalau helmku sudah lepas dari kepala. "Heh, Nelman, jangan sembarangan pegang-pegang aku, dong!"
"Aku cuma pegang helmmu, kok. Masuk sekarang yuk, Abril. Antre inspeksi."
Rabu akan segera berganti Kamis. Waktunya mengeksekusi konsep GT. Jemariku mengetuk-ngetuk tulang pipi dengan tidak sabaran. Rasanya seperti melihat fried chicken yang belum laku di etalase berlampu kuning. Figur yang kulukis di tengah kertas A3 lanskap ini mengenakan gaun pink dengan rok mekar menjuntai di lantai marmer yang mengilap karena kilau lampu ruangan di atas tubuhnya. Aku jadi bingung. Dia kan sedang memeragakan busana di suatu ruang ganti, seperti mainan fashion bocah gadis yang marak di Playstore, lantas langit galaksinya mau kutaruh di mana?
Aku membawa masalah ini tidur. Tapi sampai Mama terbangun untuk menggoreng adonan martabak eceran, mataku masih saja menatap langit-langit kamar yang lampunya sudah dipadamkan sejak pukul sebelas. Berkas cahaya lampu teras kami membentuk bangun segi empat mencong di atas sana. Bagaimana kalau otakkulah yang sekarang ini mencong?
Lewat pukul 12 malam, berarti sudah ganti hari lagi, kan? Kenapa rasanya waktu cepat sekali berlalu, sih? Aku jadi yakin waktu memang dengan sengaja menyusut dan mengembang sesuka hati. Ini adalah hari terakhir yang kupunya untuk menyelesaikan GT-ku, Tuhan. Tolong bantu aku sedikiiit saja, tapi kalau mau banyak juga bowleee. GT harus direkatkan besok pagi, menghabiskan durasi sesi pertama. Apakah aku mampu menyelesaikan GT dengan waktu yang tersisa? Nanti sore aku pulang pukul empat, kira-kira sampai di rumah pukul lima. Waktunya mepet sekali. Sial, jadi aku harus menggunakan sketsa figur yang seperti fried chicken itu? Tapi kalau tidak, apa lagi?