Peserta yang membuat GT 3D bisa dibedakan dengan mudah dari yang membuat GT 2D. Mereka membawa tas map besar, sedangkan tas tabung saja cukup bagi kami yang GT-nya bisa digulung tanpa membuatnya rusak. Setelah mendengarkan seminar mengenai program Tabungan Daur Ulang yang sudah dijalankan BEM selama tujuh tahun terakhir, kami akhirnya diminta untuk mempersiapkan GT masing-masing.
Aku menghela napas dalam-dalam sewaktu teman-teman di barisan kursiku minta izin untuk melewatiku. Tanganku pun meraih tas tabung. Otomatis aku menjadi orang terakhir yang berdiri di area tribun ini.
"Siap?"
Oh, tentu saja aku bukan orang terakhir. Mana mau dia meninggalkanku sendirian saja?
"Ayo," kataku, kemudian berlari di gang antara kursi tribun. Di pintu sudah ada Winner yang melambai waktu melihatku.
Oleh panitia, kami dibebaskan memburu dinding mana pun yang kami inginkan di sepenjuru kampus. Dinding itu akan menjadi rumah bagi GT kami selama kurang lebih empat tahun. Namun, Winner terus mengingatkan kami untuk memilih dinding yang memiliki tiga kolom kosong berturut-turut. Kami melewati lorong berbagai fakultas dan memandangi para peserta ospek mendorong tangga beroda untuk membantu mereka mencapai dinding yang tinggi. Secara alami, mereka pun membentuk kelompok untuk bergotong royong merekatkan GT, yang membuat istilah Hari Perekatan disematkan pada hari ini.
Berkali-kali aku dan Nelman menunjuk dinding yang memiliki ruang kosong bahkan untuk lima sampai tujuh GT sekaligus, tetapi Winner menolak dengan alasan terlalu tinggi, terlalu rendah, terlalu gelap, terlalu kotor, terlalu ramai, dan terlalu-terlalu lainnya.
"Heran," kata Nelman sambil terus jalan di lantai dua lorong gedung Teknik Mesin, "kamu niat banget jadiin GT kita tontonan orang ya, Winner?"
Winner menjawab dengan lebih giat menjulurkan leher besarnya ke dinding-dinding di kiri dan kanan kami. Matanya yang sipit menyambar dengan liar. Kami pun tiba di fakultas sastra, membelok ke kiri, melalui ekosistem kolam buatan di depan gedung Jurusan Sastra Inggris, dan masuk ke lorongnya yang lebar. Langkah Winner mendadak terhenti di bawah dinding sebelah kiri, tempat ada banyak sekali kolom kosong, seperti gigi monster yang ompong. Dinding di sini tampaknya didominasi oleh GT-GT anak Sastra Inggris sendiri. Ada daftar karya Shakespeare yang paling terkenal, sejarah penciptaan karya fiksi, gambar ulang sampul novel A Tale of Two Cities, adegan-adegan Harry Potter, blocking color wajah Sherlock Holmes.
Winner meraba lampu dekorasi jalanan Kota London yang dipasang di dinding itu setiap jarak dua meter. Dinding sebelah kiri ini cuma tertutup sepanjang delapan meter karena di depan kami, lorong menjadi hanya terbuka di satu sisi. Cahaya pagi membanjir dari sana ke lorong masuk ini. Akibatnya, setiap garis dan warna dalam GT-GT di sini mendapatkan asupan cahaya yang cukup, mereka kelihatan sehat dan bahkan berkilau.
"Nelman, coba tolong berdiri di sini dan mendongak 45 derajat ke atas. Di situlah kita akan merekatkan GT kita. Sudut paling tepat kalau kita mau orang-orang memperhatikan GT kita. Aku terlalu tinggi dan Abril nggak terlalu tinggi—"
"Makasih, Winner," selaku.
"Tapi tinggimu tepat." Winner masih melanjutkan untuk Nelman.
Bersama Winner, kami tidak ribet melakukan diskusi panjang ini-itu. Arahannya jelas sekali dan dia pandai mencontohkan. Selagi kami memastikan paku beton di dinding masih tertancap kuat dan membongkar GT dari tas masing-masing, peserta ospek lain masuk seperti air yang mengucur keluar dari lubang kendi. Kami berhasil menyelesaikan perekatan GT saat yang lain masih sibuk berkoordinasi dalam kelompok mereka sendiri.
Setelah mengemasi peralatan, kami meraih tas masing-masing dan melangkah mundur sampai hampir menyentuh dinding seberang, tapi tetap memastikan posisi kami tidak mengganggu teman-teman lain yang masih merekatkan GT.
Di sebelah kanan terpampang GT Winner, yang dilukis dengan campuran cat minyak dan pasir silika berwarna monokrom. Tekstur pasir silika masih tampak hidup walaupun di kejauhan. Pola-pola segi empat yang saling bertumbukan membangun suatu fokus relatif di bagian tengah kertas, yang tampak seperti gedung tinggi di kota, dengan cahaya matahari persegi kecil yang hendak terbenam di belakang gedung itu. Sebentuk persegi panjang dalam berbagai ukuran (pendek, tinggi, lebar, ramping) berhamburan di hadapan gedung itu. Tujuan-tujuan Winner ditulis di sekeliling gedung dengan font tipis dan bullet berupa huruf-huruf yang menyusun namanya, W-I-N-N-E-R.
Di sebelah kiri ada GT kamera berwarna seperti baja gelap milik Nelman yang tampak menjorok keluar dari dinding, seolah berusaha menjangkau kami.
Dan di antara keduanya, tenggelamlah GT-ku yang hanya mengandalkan teknik mewarnai untuk menciptakan kesan kedalaman—
Yang sudah pasti gagal apabila dibandingkan dengan dua GT yang mengapitnya.
Kerja Mula sudah sangat bagus. Luar biasa bagus malah. Tapi aku tidak bisa tidak membandingkannya dengan lukisan-lukisan Mula yang lain. Dia tidak akan melukis sesuatu seperti itu. Model yang tampak seperti Barbara Palvin dan dirinya itu cukup kecil jika dibandingkan dengan latar panggung di belakang, yang menggunakan warna langit galaksi. Kalau tidak benar-benar memperhatikan dengan jeli, mereka tidak akan melihat hamparan permukaan Bulan yang dilukis tipis di langit. Hampir seluruh ilustrasi Mula menonjolkan karakter sampai sebatas pinggang saja, karena fokus utama biasanya merupakan wajah atau apa yang dikenakan dan dibawa karakternya di bagian torso. Model GT-ku itu jadi tampak seperti terasingkan dalam semesta yang berbeda dengan semesta tempat dia seharusnya berada.
"Aku sengaja memilih tempat yang strategis agar GT kita bisa dijadikan contoh sama adik-adik tingkat nanti. Bahwa GT seharusnya menggambarkan fungsi yang membantu kita mencapai tujuan-tujuan yang tertulis di dalamnya. Aku puas sekali karena GT kalian sanggup menjelaskan maksud dan tujuan yang kukatakan tadi dengan sangat baik. Fashion dan Fotografi."
"Tapi aku nggak paham sama GT-mu," kata Nelman, "pasti banyak filosofinya. Kayaknya kamu kelewat pintar deh, Winner."
Kelewat tinggi, kelewat rendah, kelewat gelap, kelewat kotor, kelewat ramai, kelewat pintar, kelewat-kelewat lainnya.
Muncul senyum di bibir Winner. "Geometri dan rutinitas."
"Oh ...," kata Nelman. Jelas-jelas masih menerka-nerka makna GT Winner. Tapi kemudian dia sepertinya menyerah. "Aku mau jujur. GT-ku itu bukan aku yang buat. Aku cuma ikut arahannya Abril aja."
Aku bisa merasakan tatapan Winner padaku, tapi tatapanku tetap tertuju pada kedua mata Barbara Palvin dan Mula Tassia. Fungsi untuk membantuku mencapai tujuan-tujuan yang kutulis dalam GT. DKV digabung desain busana. Aku merasa telah melakukan hal benar karena kata-kata Winner. Imbesil sekalipun akan tahu aku mencoba mengilustrasikan suasana fashion show. Kecuali yang mengilustrasikannya bukan aku, melainkan Mula.
Ungu, biru tua, dan pink. Akhirnya palet warna itu kembali pada pemiliknya.
Mula berdiri di balkon beranda rumah kami. Kepalanya mendongak. Ketika aku mendekatinya, aku melihat arah tatapannya. Matanya berkilauan oleh bintang-bintang yang berhamburan di langit. Malam ini listrik mati. Tidak ada satu pun lampu di sekitar sini sehingga bintang-bintang keluar dari persembunyian mereka. Hanya ada sinar bulan yang datang dari suatu tempat di belakang rumah kami.