"Kamu ambil apa memangnya sekarang?" tanya gadis berbibir pucat.
"DKV."
"Oh," katanya.
"Kenapa nggak menghubungkan tujuanmu sama DKV aja? Desain poster, misalnya, atau desain tipografi," saran laki-laki baru.
"Kamu pikir desain fashion nggak perlu dikomunikasikan ke penjahit untuk mewujudkan fisiknya? Lantas kamu menyebut kertas desain visual yang harus dikomunikasikan itu apa?" Aku membantah. "Kenapa kita nggak boleh berpikiran luas? Aku pernah lihat ilustrasi GT semangkuk pasta. Apa hubungan ilustrasi itu sama tujuan-tujuannya? Biar bisa mencapai tujuannya, perutnya harus kenyang mewah gitu?"
Beberapa anak lagi tertawa. Laki-laki baru tadi melirik lantai.
"Aku yakin GT yang kamu bicarakan itu punyanya Kak Afsya dari DKV angkatan 17." Entah siapa lagi gadis yang bergabung dalam diskusi ini. "Kalau kamu mau mengobservasi lebih tajam lagi, sebenarnya dia membuat banner iklan, contoh proyek yang pernah dia kerjain sewaktu masih SMA."
Itu ... yah, bisa membalikkan keadaan dengan dramatis.
Pinokio Berponi tersenyum bangga, seolah-olah gadis yang menjawab tadi dibesarkan olehnya sejak bayi. "Konsepnya adalah tujuan-tujuan yang mau kamu capai dengan berkuliah di sini," katanya, "seharusnya dengan mencamkan petunjuk itu, kamu akan bisa berpikir bahwa ilustrasi dalam GT itu harus berhubungan dengan apa yang kamu akan pelajari di ISTB. Contohnya padahal ada di GT temanmu sendiri. Lihat kameranya."
"Bukannya dia udah bilang akulah yang mengarahkan dia membuat GT itu?"
"Terus kenapa punyamu nggak menerapkan konsep yang digunakan dia?"
"DKV dan ilmu desain busana bisa dikolaborasikan karena pada dasarnya semua ilmu itu saling terintegrasi satu sama lain, kecuali kamu berpikir ada ilmu yang nggak berguna di dunia ini."
"Kalau kamu bilang gitu, DKV lama-lama juga bisa dikolaborasikan sama pertanian atau fisika nuklir." Dia memutar bola mata.
Bagus sekali. Aku diejek bocah tengil berponi ini. "Memang bisa, kan? Edukasi lewat buklet atau ilustrasi yang didesain anak-anak DKV, contohnya. Ayo dong, pikirannya diperluas, jangan sempit-sempit gitu ah, nggak enak sama dosen-dosen ISTB, nanti jadi ngomong sendirian di kelas karena kata-katanya nggak bisa masuk otak-otak bervolume kecil gitu."
Matanya yang sempit tapi panjang itu semakin memipih. "Kamu pikir dengan memperluas semua jenis masalah itu bagus? Otak kita diprogram untuk mengerjakan hal satu per satu, secara bertahap. Kenapa malah cari masalah baru dengan berusaha mengambil semua hal sekaligus? Aneh deh. Semakin kamu fokus sama satu bidang, semakin ahli kamu jadinya di bidang itu, paham nggak, sih? Kalau semua pekerjaan diambil tapi keahliannya cuma setengah-setengah, apa fungsinya?"
"Fungsinya banyak. Jadi seorang multitalent itu bawa keuntungan bagi banyak orang."
"Oh, ya jelas, kalau dari GT-mu sih aku lihatnya kamu bisa bangun roket untuk mengangkut orang-orang di Bumi buat nonton fashion show-mu di Galaksi Andromeda!" Tawa kembali pecah, kali ini lebih heboh dari sebelumnya. "Oh ya, bukan cuma itu aja, kan? Ilmu komunikasimu pasti bagus juga karena penonton yang hadir banyak dari golongan Hutt, Wookie, dan Gamorrean."
Dia jelas-jelas sedang menyerangku secara personal. Dia ingin aku merasa kesal padanya. Dan dia berhasil. Tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya terang-terangan dan membiarkan semua orang tahu bahwa aku telah kalah karena ranah kami berbeda sekarang. Dia mencari kelemahanku, sedangkan aku berusaha membuatnya berpikiran terbuka.
"Tapi apa fungsinya memberikan tanggapan yang nggak relevan kayak gitu?" Di tengah gemuruh tawa, suara Nelman terdengar lantang. Tenang dan berkuasa, seperti humvee di antara sedan. "Kita semua di sini adalah seniman, nggak harus belajar mengapresiasi di bangku akademik untuk tahu cara yang benar melakukannya. Kita ingin mendapatkan apresiasi yang layak dari orang lain, itu yang membuat kita mengapresiasi orang dengan baik."
"Sebenarnya ...," gadis berbibir pucat menengahi, "jadi agak sulit percaya bahwa GT Nelman itu hasil arahanmu, Abril."
Siapa juga yang minta dia percaya? Memangnya tujuan hidupku untuk menjawab semua kebingungan rohaninya? Dikira aku pendeta seni yang diturunkan Tuhan khusus untuknya?
"Karena ... dua desain yang bersebelahan itu kelihatan timpang sekali."
"Timpang apanya? Aku nggak paham, apa sebenarnya yang kalian kritisi dari GT yang udah sespesifik kayak punyanya Abril? Jawaban dia juga udah koheren, desain busana dan DKV bisa dikolaborasi, hubungannya sedekat nadi dan kulit." Nelman menelengkan kepala.
"Tapi, kalau kita semua mau jujur, perbedaan eksekusi proyek keduanya kelihatan jelas sekali memang." Surya menanggapi kembali. "Punyamu, Nelman, kelihatan lebih punya tujuan. Kamu jelas tahu apa yang kamu inginkan dan cara paling tepat untuk mengeksekusi ide itu."
"Secara keseluruhan, fungsi tujuan yang mau kami komunikasikan sudah berhasil tersampaikan, terbukti dengan kalian bisa menyebutkan fokus ilustrasi GT kami. Kamera, fashion show, dan geometri. Semua orang punya pendapat masing-masing, yang harus disampaikan secara bertanggung jawab." Winner melirik Pinokio Berponi sejenak. "Sudah jelas sekarang, kan? Nggak ada masalah tambahan? Kecuali memang sengaja ditambah-tambahkan?"
Secara ganjil, semua orang mendadak jadi sepemikiran setelah mendengar Winner berbicara. Keheningan lah tandanya. Dia kemudian memberi isyarat mata padaku dan Nelman untuk beranjak dari lorong masuk Sastra Inggris.
Aku tidak menoleh ke belakang sampai kami tiba di ekosistem kolam buatan. Langkahku terhenti dan aku berdiri menghadap Nelman yang ikut terdiam. "Puas kamu? Dipuja-puja orang sekampus? Itu kan yang memang kamu niatin waktu minta bantuanku?"
Kedua alisnya menukik turun. Bibir bawahnya yang tebal jatuh, membentuk gua gelap penasaran.
"Udah ya, Nelman, cukup segini aja kamu manfaatin aku—"
"Abril ...."
"Kamu nggak perlu antar-jemput aku lagi, biar nanti aku yang mengajukan pembebasan program pasangan berkendara ke panitia."
"Abril, programnya nggak bisa berhenti di tengah jalan kecuali alasannya mendesak."