Sirine tanda berakhirnya kegiatan ospek hari ini hampir-hampir membuatku berteriak lega. Aku masih belum terbiasa melihat tatapan kagum yang dilemparkan teman-teman ospek berubah jadi suatu penghakiman. Sekeluarnya dari auditorium setelah mengambil ransel di tribun kelompok, aku hendak berlari menyeberangi lapangan utama.
"Abril Gabrina!" Tapi panggilan yang berasal dari sebelah kanan gedung auditorium membuat kaki-kakiku terpaut di lantai. Panitia kelompokku. Helai rambut keriting memantul-mantul di bahu kurusnya. "Ada yang mengharapkan kunjunganmu ke sekre BEM KM."
Ada yang mengharapkanku. Kunjungan. Sekre BEM KM. Aku menghitung dengan cepat arti kata-kata itu. "Maksud Kakak, saya dipanggil untuk menghadap ke sekre BEM sekarang?"
Tatapannya yang layu pura-pura dia buat tangguh. "Ayo, aku bisa menuntunmu ke sana."
Mataku terpejam erat. Dengan Nelman melapor kepada panitia bahwa GT miliknya itu hasil arahanku, sudah pasti namaku diseret paksa dalam masalah ini.
"Abril!"
Kami berdua menoleh ke arah bilik ATM. Winner membetulkan letak tali ransel denim di bahu sebelum berlari menyeberangi jalur antar-jemput.
"Winner boleh ikut?" Aku bertanya pada panitia kelompokku.
"Boleh, kalau cuma mengantar aja."
Itu sudah sangat cukup bagiku. Tiga pasang kaki melangkah ke tengah area kampus, melalui gang-gang kecil yang menyambungkan tiap-tiap fakultas hingga kami berhasil menembus belantara gedung dan pepohonan, sampai di tempat terbuka lalu berjalan menuju sebuah gedung yang dibangun di tengah-tengahnya. Balok-balok huruf bertuliskan STUDENT CENTER yang berkilau terpasang di atas pintu masuk kaca. Panitia kelompokku mendorong pintu itu dan sedikit berlari menaiki tangga. Dari sana kami membelok ke kiri, menyusuri pembatas akrilik berkerangka logam, lurus hingga ujung. Ada satu pintu kayu berpanel kaca vertikal di sana, panitia kelompokku berhenti di depan pintu itu sambil berdiri menghadap kami, menghalangi pandanganku ke kaca vertikal.
"Kami tunggu di sini." Dia menekan gagang pintu. Wangi pengharum ruangan langsung menghambur lewat celah kecil pintu. Dan samar-samar ... wangi lavender. Aku melangkah masuk.
Kehadiran lima orang yang mengelilingi Nelman secara longgar di ruangan membuatku bertanya-tanya, pengakuan apa yang disampaikan Nelman? Namaku masih bagus atau sebaliknya? Teringatlah aku mata-mata menghakimi yang menatapku seharian ini. Oh, Abe, bagaimana bisa kamu melewatkan fakta sepenting itu? Tentu saja, mereka tidak akan menatap penuh dendam pada orang yang mereka bela.
Jadi, di sini aku adalah penjahatnya.
Dua orang duduk di sofa, satu duduk di hadapan Nelman di balik meja, dan dua sisanya mengapit orang yang duduk itu. Salah satunya menatap jenaka padaku. Bibir tebalnya yang semerah buah rasberi tersenyum miring.
"Halo, Abril Gabrina!" sapanya. "Kita ketemu lagi. Kalau aku nggak salah tebak, ada Sebastian Winner juga di luar sana? Karena kalian bertiga nggak mungkin terpisah."
Tatapanku meruncing. Sepertinya, itulah yang membuat senyumnya makin lebar.
"Selain kamu dan Nelman, ada lima orang lain di ruangan ini." Dia segera melanjutkan. Tubuhnya menegak. Satu tangan terangkat dari tepian meja berpermukaan kaca untuk menyentuh bahu laki-laki yang duduk di hadapan Nelman.
Laki-laki itu lantas menunjuk ke sebelah Nelman. Barulah aku sadar bahwa ada kursi kayu lain di situ.
"Oh, maaf, aku seharusnya berlaku sopan padamu." Laki-laki berkacamata bingkai tipis di sofa bangun dan menarik kursi untukku. Satu-satunya gadis di ruangan ini selain aku, yang tadi duduk dengannya di sofa, terkikik.
Aku menoleh ke arah laki-laki barusan untuk mengangguk dan mengucap terima kasih. Dia membalasku dengan senyum. Oleh karena bagian atas bibirnya yang lebar dan pucat ditumbuhi kumis tipis yang agak panjang di kedua ujung, senyumnya jadi tampak manis.
"Baiklah." Laki-laki yang kini duduk di hadapanku dan Nelman berkata. Dia juga berkacamata, tapi tangkainya lebih tebal dan bentuk bingkainya kotak besar. Di balik kacamata itu, matanya kecil sekali. Segaris janggut tipisnya mengingatkanku pada Shaggy Rogers, padahal rahangnya lebih mirip Peter Griffin. "Abril Gabrina dan Nelman Kialo Sudrajat. Pertama-tama, izinkan aku memperkenalkan diriku dan teman-temanku. Aku Fahri, ketua BEM KM ISTB. Yang tadi bicara denganmu, kupikir kalian sudah mengenalnya? Dia Malik, Kepala Penasihat Ketua BEM KM ISTB."
Ah ... semuanya jadi masuk akal kini. Lagaknya yang seperti penguasa, kebebasan pergi ke mana pun yang dia suka, kewenangannya untuk melepas kami dari sanksi waktu itu. Dia sedang menggodaku dengan senyum miringnya lagi sekarang.
"Yang berdiri di sebelah kananku adalah ketua panitia ospek institut, Rehan. Yang tadi berlaku sopan padamu, namanya Delio, ketua DPM KM. Dan yang paling cantik di antara kami ini ... dia sekjen BEM, Samantha, dan dia punya hubungan khusus dengan kepala penasihatku."