Kedua orang di balik pintu beringsut mendekat sewaktu pintu terbuka.
"Semuanya baik-baik aja?" tanya panitia kelompokku.
"Semuanya baik, makasih, Kak."
Dia mengangguk dan melirik Winner. "Kalau gitu kalian kutinggal ya."
Aku dan Winner melangkah di belakang panitia kelompokku menuju tangga dengan langkah lebih lambat. Nelman masih tinggal di ruang kesekretariatan untuk membicarakan penanggalan GT. Punyaku juga akan ditanggalkan dan kami sudah sepakat untuk memasang yang baru sebelum semester dua dimulai.
"Siapa aja yang ada di dalam sana?" tanya Winner.
Mungkin karena aku tahu Winner telanjur terlibat denganku dan Nelman sejak awal ospek, atau karena aku yakin dia orang yang tulus dalam membantu orang lain menghadapi masalah mereka, ataupun karena kehadirannya membuatku merasa nyaman, aku mulai bercerita tentang kejadian di sekre dalam perjalanan keluar gedung Student Center. Dimulai dari menjelaskan siapa saja kelima orang di dalam ruangan sampai dengan usul Malik tentang kompetisi personal antara aku dan Nelman di pameran seni akbar.
Di akhir ceritaku, wajah Winner diselimuti kemelut sampai membuatnya kelihatan seperti awan mendung. Langkahnya terhenti di teras gedung. Aku ikut berdiri di sebelahnya.
"Dia memainkan satu langkah jitu dengan memanfaatkan isu yang ramai dibicarakan saat ini. Coba baca pergerakannya, amati, dan pikirkan betapa cemerlangnya cara dia berpikir," kata Winner. "Selisih paham di antara kamu dan Nelman akan jadi legenda urban di kampus ini karena terjadi di masa ospek, salah satu masa hangat yang akan diingat sepanjang masa oleh para mahasiswa. Hari Perekatan adalah salah satu hari besarnya kampus, bisa dibilang merupakan ciri khas dari ospek ISTB yang nggak mungkin dimiliki kampus lain. Dan kebetulan, kalian memilih hari itu untuk bertengkar."
Dia pikir bertengkar dengan Nelman itu pilihanku?
"Apa?" Winner sepertinya menyadari kekesalanku. "Aku harus melihat masalah ini secara objektif. Pameran seni akbar ISTB juga merupakan ciri khas ISTB yang nggak akan ditemukan di institusi pendidikan lainnya. Itu aja udah sangat unik, tapi Malik berambisi untuk lebih mempopulerkan pameran ini. Dengan mentransformasikan selisih paham yang terjadi di antara kalian jadi suatu kompetisi di pameran seni akbar, Malik telah menggabungkan dua keunikan ISTB. Nilai pameran seni itu akan meningkat jadi minimal dua kali lipatnya."
Winner menegakkan punggung dan menunjukku. "Dia ini jenius, Abril. Dia bakal jadi kepala penasihat ketua BEM KM yang selalu diingat seandainya, katakanlah, taktik itu berhasil. Tapi ...," dia melirikku dari balik bulu matanya, "pengaruhnya akan sangat terasa di Nelman dan kamu. Karena pertengkaran itu aja kalian udah jadi sorotan teman-teman seangkatan kita, apalagi kalau mereka dengar tentang isu kompetisi kalian yang bakal terjadi di pameran seni akbar .... Selama dua tahun masa persiapan, kalian nggak akan punya hari tenang. Selalu ada orang-orang yang menginginkan kabar perkembangan kalian berdua. Bahkan bisa jadi, daya pikat utama dari pameran seni akbar 2024 itu adalah kompetisi di antara kamu dan Nelman. Dari sana, kita bisa melihat sisi positif dan negatifnya."
Jeda yang dia bubuhkan itu membuatku tahu setelah ini dia akan mengatakan sesuatu yang agak sensitif. "Aku tahu ada masalah serius yang terjadi di antara kamu dan Nelman, sejujurnya, bukan cuma sekadar kamu marah karena GT-mu—yang bisa dibilang adalah buatan kakakmu—direndahkan orang lain sementara GT yang kamu buat untuk Nelman dianggap milik Nelman dan dipuji-puji orang. Tapi aku juga nggak mau kamu merasa terpaksa menceritakan sesuatu yang lebih kepingin kamu simpan sendirian. Kalau kamu memang menginginkan kompetisi besar ini, Abril, sisi positifnya adalah kayak kata Malik, perhatian dan penilaian publik secara objektif yang kamu butuhkan bakal kamu dapatkan. Sisi negatifnya, kalau kamu nggak terlalu nyaman menjadi pusat perhatian, bakal sulit bagimu untuk berkembang, karena kamu takut perkembangan apa pun itu nggak sesuai dengan harapan publik."
Benarkah masalah kami, yang berawal dari masalah personal, bisa berubah jadi masalah yang akan melibatkan ribuan orang di dalamnya?
"Aku punya jalan keluar untuk mengatasi sisi negatif itu, meskipun aku nggak yakin bakalan manjur seratus persen."
Sebelum Winner sempat memaparkan masukannya, pintu kaca di belakang kami terbuka dan Nelman pun melangkah keluar dari antaranya.
"Beres. Ayo kita pulang."
Aku berpaling pada Winner. "Mumpung ada Nelman juga di sini, kamu bisa menjelaskan jalan keluarnya di depan kami berdua."
"Jalan keluar buat apa?" Nelman memiringkan kepala. Rambutnya mulai panjang, bagian yang dekat telinga sudah dirapikan. Sebentar lagi dia akan mendapatkan lebih banyak simpati dari para gadis.
Winner meringkas seluruh penjelasan yang tadi dia berikan padaku. "Kita buat semua mahasiswa ISTB berkompetisi sama kalian. Dengan begitu, kompetisi personal kalian bukanlah satu-satunya fokus dalam pameran seni 2024. Dan supaya pengajuan perubahan besar sistematika ini nggak salah dimengerti anak-anak kampus, kita harus menyampaikannya dalam Kongres September."
Kami berdua menyetujui usulan Winner. Dia selalu bisa berpikir rasional dan menurutku, kalau ada orang yang bisa menyaingi kelicikan Malik di kampus ini, Winnerlah orangnya. Di lahan parkir, setelah diam saja beberapa menit terakhir, Nelman akhirnya memandangku dari sisi kiri motornya, sementara aku berdiri di sisi kanan motor untuk meraih helm di spion.
Tatapannya bicara banyak sekali. Salah satunya ... mustahil dia tidak pernah mengingat hari itu. Atau selama ini dia berharap akulah yang tidak mengingat hari itu pernah terjadi dalam hidupku.
Siang ini Bu Darmani memasuki kelas IV B. Seharusnya kami diajar Bu Seila, guru baru yang masih muda dan lembut, yang akan menunjukkan pada kami dengan sabar cara membentuk pola bunga dari benang wol di kain taplak. Kalau sudah guru tukang marah itu yang masuk kelas, habislah kami. Setelah panjang lebar menasihati kami untuk melanjutkan tugas menyulam, Bu Darmani yang bertubuh bulat seperti roti goreng gula duduk di meja guru.
Aku mengeluarkan peralatan menyulam dan mengangkat jarum besar tumpul. Baru dua kelopak bunga kuning kuselesaikan, Bu Darmani sudah memanggil namaku dengan suara lantang yang mengerikan.
Iya, iya, sebentar! Punyaku pasti jadi, tapi masih banyak kelopak yang belum kubuat. Aku bangun dari kursi dan mengangkat taplakku ke arahnya. "Belum selesai, Bu," kataku setengah jengkel.
"Apamu yang belum selesai? Surat cintamu? Masih mau menulis berapa paragraf lagi? Oh, memangnya kamu tahu apa itu paragraf?"
Aku mengerutkan dahi. Apa katanya? Di tangannya teracung selembar kertas berwarna pink. Aku cuma berkedip-kedip heran.
"Maju ke sini!" perintahnya. Dia menjerit sampai ujung kalimatnya seperti bercabang jadi dua. Dia/beliau kenapa, sih?