Jadwal kuliahku dan Mula berbeda. Terkadang dia terpaksa berangkat pagi walau kelas pertamanya dimulai pukul satu siang agar aku bisa mengantarnya ke Bukit Jimbaran lebih dulu karena kelas pertamaku biasanya dimulai paling lambat pukul sembilan. Aku selalu membawa motor kami karena dia bisa pulang naik Trans Metro Dewata. Atau lebih praktis seperti hari ini. Sahabat Mula sejak SMP yang bernama Fajar sedang libur dari pekerjaannya sebagai drafter. Aku pun disuruh berangkat duluan saja karena Fajar bilang bersedia mengantar-jemput Mula kuliah.
Selama minggu pertama perkuliahan, aku mengetahui gambaran silabus setiap mata kuliah yang akan kupelajari satu semester ke depan. Banyak tugas teknis yang harus kuhadapi sehingga saran Winner untuk meletakkan seluruh perlengkapan gambar di indekosnya atau indekos Rosi langsung kupatuhi. Sayangnya, Rosi terpencar di kelas A bersama Petra dan Rere, sementara aku dan Winner berhasil terhindar dari mulut-mulut pedas itu di kelas B.
Kecuali keharusan untuk aktif dalam kegiatan kepanitiaan dan organisasi, tugas-tugas ospek jurusan tak jauh berbeda dari tugas ospek fakultas dan institut. Setiap minggu kami diberi tugas besar dengan tema-tema tertentu yang seluruh progres dan hasil akhirnya harus diunggah ke media sosial, tak lupa menyertakan tagar-tagar yang telah ditentukan. Sebagai portofolio kalian, kata panitia ospek, biar calon-calon klien di luar sana nemuin karya kalian.
Tapi mengatur waktu untuk bekerja, berkuliah, mengerjakan tugas kuliah, menyelesaikan tugas ospek jurusan, menghadiri rapat, dan melaksanakan tugas-tugas kepanitiaan membuatku kewalahan. Satu hal yang kutahu: aku tidak boleh menelantarkan terjemahanku. Di antara kesibukan baru sebagai mahasiswa, aku harus pintar-pintar melakukan tawar-menawar dengan editor dalam tim agar dia tidak mengenaiku penalti kalau aku terlambat mengirimkan bagianku padanya.
Aku juga tidak boleh melewatkan tugas kuliah dan ospek karena jujur saja, tugas-tugas teknis itu sepenuhnya membantu. Sangat membantu. Aku jadi punya alasan dan tujuan yang tepat untuk mengasah kembali kemampuan menggambar. Karena itu juga aku mulai belajar mendesain. Kalau ada beberapa tools yang tak kupahami fungsinya di aplikasi-aplikasi Adobe, aku akan meminta tolong pada Fajar untuk mengajariku. Mula pandai melukis, tetapi tidak pandai mendesain. Begitu sebaliknya dengan Fajar.
Aku bisa membayangkan kesibukan yang sama tengah dialami Nelman. Dia harus melakukan manajemen terhadap cabang-cabang Laveland Laundry yang sudah mulai diserahkan padanya, padahal dia masih harus berkuliah dan mengerjakan tugas ospek serta aktif dalam kepanitiaan atau organisasi. Kami bertiga belum sempat mengatur jadwal untuk berdiskusi sehingga Kongres September pun terlewatkan.
Malam ketika kami menyesali kealpaan kami di Kongres September, Winner mengajakku duduk di aula gedung pembelajaran DKV dan melakukan panggilan video dengan Nelman. Sudah pukul sebelas malam, aku dan Winner baru saja menyelesaikan laporan untuk mata kuliah Sejarah DKV yang harus dikumpulkan besok. Koneksi internet di kampus hampir selalu bagus, kami memanfaatkannya untuk membuat tugas. Pantaslah kampus tak pernah sepi pengunjung.
Nelman tengah berjalan di suatu lorong. GT-GT dalam bingkai terpasang di kedua dinding krim lembut yang mengapit lorong. Lampu-lampu kecil bercahaya kuning dalam tudung hitam menerangi bingkai-bingkai foto itu setiap beberapa meter, seperti halnya di Jurusan Sastra Inggris. Bedanya, lampu di tempat Nelman lebih minimalis.
"Kenapa, Winner? Tumben nelpon, pakai acara video call lagi."
"Kita melewatkan Kongres September."
Nelman mengangguk. Rambutnya yang sudah panjang jatuh menutupi dahi, mengayun lembut seperti tangkai ilalang. "Ya, sayang banget, tapi kita semua memang lagi sibuk-sibuknya, kan?"
"Aku punya ide."
Kedua alis Nelman terangkat. Mata belonya kelihatan seperti menuduh. "Kamu selalu punya ide." Sesuatu berkilauan di telinga kanannya. Ah ... jadi dia sudah kembali memasang anting satu permatanya. "Ide apa itu, kalau aku boleh tahu?"
"Kita harus melakukan survei lokasi dan situasi."
"Survei kongres?" tanyaku.
"Ada Abril di situ?"
Aku memang sengaja tidak memperlihatkan diri di kamera depan ponsel Winner.
"Nggak, bukan survei kongres. Dan ya, ada Abril di sini."
"Halllooo, Abril."
Robot pun tidak akan terdengar sekaku itu kalau disuruh menyapa manusia. Telingaku panas sekali. Aku mengabaikan Nelman dan membujuk Winner melakukan kontak mata hanya denganku. "Jadi maksudmu, survei lokasi dan situasi pameran seni akbar?"
Winner langsung mengangguk. "Kita harus mengetahui sistematika dasarnya terlebih dahulu sebelum melakukan modifikasi. Aku yakin panitia dan peserta pameran, keduanya bersedia bantu kita menjawab sejumlah pertanyaan."
"Tapi dengar sendiri, kan? Ada yang nuduh kita semua lagi sibuk banget, padahal dia sibuk sendiri? Mana mungkin dia punya waktu buat pergi ke pameran seni?"