I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #15

OKTOBER 2022 #1

Sebelum mengikuti ospek, aku masih bisa menyempatkan diri untuk joging sore bersama Mula di Lapangan Puputan Badung. Kami memilih Trans Metro Dewata yang lebih praktis daripada motor. Tidak ada perdebatan siapa yang harus menyetir, tidak repot-repot mengisi bensin motor kami yang boros itu, kami bisa tersesat sesuka hati saat mendengarkan lagu di perjalanan pulang. Dan itulah yang selalu terjadi pada Mula.

Dia terhanyut dalam lagu-lagu pilihannya, berlama-lama menatap tombol STOP di atas pintu keluar, dan tak jarang aku mendapati matanya berkaca-kaca, sebelum sesuatu menariknya kembali ke dunia nyata dan dia pun menegakkan punggung di kursi biru lalu mengulangi siklus penghayatan yang sama.

Aku tahu dia teringat Ludwig. Beberapa kali dia bilang, "Gimana kehidupannya di sana? Aku nggak tahu apa aja yang udah dilaluinya. Siapa aja yang jadi teman atau lawannya, nyaman nggak dia tinggal di sana, bisa nggak dia beradaptasi di tempat kerjanya?"

"Kalau nggak bisa, dia pasti udah pulang, Mula." Atau dipulangkan kalau dia buat masalah, lanjutku dalam hati. Tapi Mula sepertinya memang tidak membutuhkan jawaban orang lain. Dia hanya sedang, meminjam istilah Winner, berpikir keras-keras.

Tidak ada kopi giling di kantin. Mereka menjual kopi instan berbagai varian, tapi tetap manjur untukku. Kopi hitamku sudah hampir menyentuh dasar gelas, tetapi Nelman belum juga keluar dari kelas. Aku menanti-nanti salah satu dari ponselku atau Winner berbunyi. Sudah setengah jam lebih kami menanti, dia tak kunjung tiba. Padahal dia sudah berjanji akan datang. Aku mengembuskan napas dengan perasaan gusar.

Pikiranku jarang sekali mau beristirahat. Dalam penantian seperti ini, Winner menyarankan untuk tidur sebentar kalau terjemahanku sudah selesai, tetapi aku malah memikirkan Mula dan kesendiriannya. Aku tidak mau dia terlalu asyik sendiri, seperti lagunya Kunto Aji.

Mula bagus sekali dalam melukis. Untuk mencapai hasil sebaik itu, dia membutuhkan waktu khusus hanya bersama buku sketsa dan peralatan mewarnai. Kalau saja dia melakukan itu dengan tujuan menambah kas keluarga, aku tidak akan pusing. Masalahnya, belakangan ini dia menggambari buku jurnalnya hanya untuk meresapi perasaan kehilangan Ludwig. Aku sangat menyayangkan itu. Bakatnya yang meledak-ledak harus berakhir dalam susunan rapi kertas A4 di laci bawah lemari baju. Aku ingin dia memosting semua lukisan itu di internet. Sungguh, aku yakin dia tidak perlu mencari pembeli. Pembelilah yang akan berdatangan karena merasa diundang oleh sentuhan magis Mula.

Diam-diam aku sering merasa bersalah ingin kakakku jadi mesin pencetak uang hanya karena dia sebenarnya mampu. Dia bisa mendapatkan lebih dari hanya 500 ribu per bulan (hasil dari menulis resensi novel), tetapi dia memilih untuk tetap melarat. Apakah dia sebenarnya juga memikirkanku? Peduli padaku? Jika iya, kenapa dia tidak membantu? Kenapa aku dibiarkannya berjuang sendirian untuk mencukupi kebutuhan hidup kami? Kenapa dia tidak meminta Mama beristirahat saja dan mulai mengambil alih tugasku dan Mama sebagai tulang punggung keluarga?

Karena Ayah sudah kupastikan tidak akan bangkit lagi.

"Istirahatlah." Sebentang kain menyelimuti bahuku.

Mataku terbuka dan barulah aku sadar kalau setengah badanku sudah bertumpu ke meja. Kedua tanganku terlipat dan aku menyembunyikan wajah di dalamnya.

Bau kolonye di jaket denim Winner pekat sekali. "Aku udah hampir mimpi barusan."

Pintu kantin terbuka. Kami, yang tak kehilangan harapan, serempak menoleh ke belakang. Tangan Nelman terjulur di gagang pintu kaca. Perhatiannya langsung tertuju pada tangan Winner yang masih menumpang di punggungku. Dia buru-buru mendatangi kami, menyeret satu kursi dari sebelahku ke antara aku dan Winner.

"Ayo," katanya, mengangguk pada kami berdua. "Sekarang kita bisa mulai."

"Bisa mulai." Aku mencibir. "Seharusnya diskusi ini udah kita mulai sejam yang lalu. Kamu ke mana aja, sih?"

"Minta daftar beasiswa ke pembimbingku, mumpung dia ngawas praktikum di studio."

"Beasiswa? Tuan Muda Sudrajat minta beasiswa?"

"Informasi buat Hima, Abril. Ketua Hima yang minta tolong langsung ke aku. Winner, ayo mulai diskusinya."

Winner pun berdeham. "Jadi ... tentang kompetisi pameran seni akbar, kita bertiga udah menyetujui ide utamaku. Tinggal mikirin mekanisme penilaiannya aja."

"Kurasa kita harus menghindari penilaian berbasis digital," kata Nelman. "Dari pengalamanku, para hacker bisa ngelakuin apa pun buat menerobos sistem keamanan suatu aplikasi atau web. Satelit aja kena bajak."

"Tapi masa iya ada yang seniat itu buat main curang? Ini kan bukan kompetisi internasional atau apa."

Lihat selengkapnya