I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #16

OKTOBER 2022 #2

Batas peminjaman komputer di perpustakaan hanya sampai pukul tujuh malam. Di luar waktu tersebut, aku harus meminjam laptop Winner atau Rosi untuk mengerjakan terjemahan. Namun, itu mengharuskan mereka berdua secara bergantian menggunakan laptop yang tidak sedang kugunakan untuk menyelesaikan tugas masing-masing.

Aku jadi merasa tidak enak. Bagaimana mungkin anak desain tidak memiliki laptop yang portabel? Tabunganku baru saja dipakai Mula melunasi UKT. Tersisa tabungan beasiswaku. Apakah aku harus menggunakannya untuk membeli laptop? Bagaimana kalau motor kami rewel? Bagaimana kalau ada tambahan sewa kos? Bagaimana kalau aku harus mengeluarkan uang untuk kegiatan kepanitiaan? Bagaimana kalau ada yang tiba-tiba sakit di antara kami? Aku dan Mula belum mengurus asuransi kesehatan.

Aku sampai di rumah pukul satu malam. Pintu kamar Mama belum tertutup, tapi aku mendapati kakinya terjulur di atas kasur, saling bertindihan di balik daster hijau. Aku bergegas masuk ke kamarku dan Mula. Dia menjawab salamku, tetapi tidak memalingkan pandang sama sekali dari buku jurnal hitam yang sedang ditulisinya.

Aku meletakkan ransel di sebelah meja televisi, membasuh wajah dan kaki, lalu minum air dari teko sambil melirik kakakku. Dengan gerakan samar aku duduk di dekat kakinya di atas kasur, menghadap televisi, memilih kata-kata yang paling pas untuk diutarakan padanya. Sebab, dia mudah sekali tersinggung. Pada akhirnya dia selalu pulih, kembali tertawa dan berkreasi, tetapi aku mendapat kesan Mula selalu menikmati setiap perasaan yang melintasi hatinya. Dia membuka peluang untuk semua perasaan sehingga mudah sekali baginya berganti suasana hati.

"Aku udah ke Center, casing untuk tipe laptop kita harganya 3 juta, belum biaya pemasangannya."

"Mahal sekali," jawabnya, tapi tidak kedengaran tertarik.

"Ya. Aku nggak bisa kayak gini terus, Mula. Pergi pagi pulang malam. Kamu tahu laptop siapa yang kupakai buat ngerjain terjemahanku? Laptop teman-teman sekelasku. Lama-lama aku sungkan. Mereka juga perlu pakai laptop itu untuk diri mereka sendiri. Nggak seharusnya aku pakai laptop mereka terlalu lama."

Mula langsung menunduk. Aku menembak tepat sasaran. Ternyata dia langsung paham ke mana aku membimbing percakapan kami ini.

"Kalau kamu memang nggak mau menjual karya-karyamu, biar aku aja yang ngelakuin itu." Aku benci mengakui ini karena aku jadi kedengaran seperti adik tukang mengeluh. Tapi Mula lelet sekali dalam mengurus segala hal. BPJS, seandainya dia bergerak lincah mencari informasi dan tidak selalu menghalang-halangiku untuk bergerak cepat, mungkin saat ini kami sudah memilikinya. Dia selalu ingin kelihatan berguna dan menonjol dengan cara menenggelamkan orang-orang di sekitarnya. "Biarin aku yang memindai lukisan-lukisanmu lalu nawarin semuanya di media sosial. Aku janji bakal nyantumin namamu. Anggap aja aku cuma sebagai makelarmu."

"Itu yang aku khawatirin."

"Apa? Aku ngambil uang lukisanmu?"

Kepalanya menggeleng lemah. Dia berhenti menulis, hanya memandangi bukunya dengan tatapan tak berarti. "Aku takut mereka bakal beramai-ramai memburu media sosialku buat mengkritikku."

Aku langsung menyugar rambut lurus yang beruraian membingkai wajahku. "Udah berapa kali aku bilang, Mula? Nggak akan ada yang bilang karyamu jelek. Kamu ini ... kamu ... astaga, Mulaaa ...."

"Aku takut, Abe. Aku nggak mau karena pikiran-pikiran buruk yang mereka utarakan di kolom komentar ngebuat aku jadi berhenti melukis, aku—"

"Kenyataannya kamu memang udah berhenti melukis!" teriakku. "Setiap hari yang kamu lakuin cuma nulis buku yang kamu sebut jurnal harian itu! Apa untungnya sih, Mula? Ya, bagimu menguntungkan dari segi terapi emosi atau apalah yang dulu pernah kamu bilang ke aku, tapi memangnya itu bisa ngubah hidupmu? Hidup orang-orang terdekatmu? Orang-orang yang kamu sayangi? Mama, Ayah, aku, Fajar, atau bahkan Ludwig?

"Menulislah sesukamu, aku nggak akan melarang, tapi tulislah sesuatu yang bisa dimanfaatkan! Ubah rutinitas jurnalmu itu jadi sebuah konten, misalnya? Orang pasti tertarik ngelihat kamu ngisi penuh halaman per halaman. Lihat kamu nggambar, mencurahkan apa yang ada di dalam kepalamu karena kamu ... karena ... kamu aja udah ... apa pun yang tanganmu hasilkan adalah keindahan, Mula. Nggak mengertikah kamu? Kapan kamu bakal menyadari itu?"

"Abe ...." Kata-kata kembali hilang dari mulutnya. Air mata sudah menetes. Dia punya kebiasaan bagus duduk berjarak dengan tepian meja dan merentangkan tangan ke atasnya sehingga dia tidak membasahi apa pun yang ada di meja karena dia memang sering sekali menangis. "Kamu ... bisa jahit, desain pakaian ... kamu bisa dan berani nyetir truk atau bahkan bus, kamu atlet basket yang berprestasi, kamu bisa buat roti, kue, kamu pintar masak, kamu melakukan segalanya. Kamu ... aku nggak akan bisa mengejarmu. Kalau kamu pikir aku bisa menghasilkan banyak uang cuma karena aku melukis sesuatu yang bagus, sebaiknya kamu berhenti berpikir kayak gitu. Karyaku nggak ada apa-apanya dibandingkan karya mereka di luar sana. Coba lihat konten-konten seniman di Instagram atau Pinterest dan kamu pun bakal tahu. Cuma karena aku bisa melakukan hal yang nggak pandai kamu lakukan, bukan berarti aku bagus dalam hal itu."

"Siapa sih yang membuatmu berpikir kayak gitu? Ayah? Ini semua karena Ayah bilang aku jagoannya?"

Wajahnya menengadah padaku. Saat itulah aku tahu aku menembak sasaran kedua dengan telak. Air mata berkilauan di pipinya. Kedua mata dipenuhi oleh bayang-bayang air yang akan tumpah. "Memang benar, kan? Ayah tahu kamu cepat sekali mempelajari sesuatu. Ayah tahu kamu adalah anak yang akan diidam-idamkan semua ayah di dunia. Aku cuma bisa mendekam di kamar, ngerjain satu hal yang kusuka dan melakukannya terus-menerus. Karena ... gimana kalau lukisanku pun dibanding-bandingkan sama lukisan orang lain di luar sana? Lukisan para master? Aku melukis apa yang kusuka, bukan untuk mendapatkan simpati dari orang-orang. Aku nggak mau komentar mereka membuatku berpikir aku adalah pelukis yang buruk, nggak ngikutin tren masyarakat karena sebenarnya aku memang nggak peduli! Lukisan-lukisan itu dari hatiku untuk diriku sendiri karena aku butuh melakukannya, butuh mewujudkannya, dan butuh memandanginya!"

"Kamu boleh bilang gitu kalau kerjaanmu berguna!" jeritku. Tangisku pun akhirnya pecah. "Berapa uang yang kamu hasilin dari nulis resensi novel? Kamu baru di dunia itu, masih harus manjat sampai ke puncak buat dapetin banyak uang dari sana, padahal kamu saat ini ada di puncak kalau mau fokus melukis.

Lihat selengkapnya