I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #17

OKTOBER 2022 #3

Kami sama-sama terkejut mendapati Nelman sudah duduk di sudut kantin yang dekat dengan pintu masuk. Kursi itu tinggi, bersandaran pendek, dan berkaki empat. Kulit Nelman seolah berpendar karena kontras dengan warna hijau tua kemeja bermotif dedaunan outline putih yang dia kenakan. Warna-warna mencolok cocok di kulitnya yang keemasan, dan itu masih didukung dengan rambut cokelatnya yang lembut.

Dia sengaja duduk di kursi kedua dari pintu, aku yakin sekali, supaya posisinya berada di tengah kami sehingga dia leluasa mendengarkan dengan jaminan tak akan ketinggalan secuil informasi pun. Aku duduk mepet dengan pintu, Winner mengambil sisi satunya.

"Kita sampai di bagian hadiah untuk para juara malam ini." Nelman mengingatkan.

Winner, yang sedang mengubek-ubek isi ransel denimnya, mengangguk. "Sebentar, aku butuh bukuku." Buku catatan miliknya berukuran A5, tapi dengan garis-garis samar. Sampulnya keras, mampu membuat tengkorak Nelman retak, aku yakin. Begitu buku itu terbuka di atas meja yang menempel dengan dinding kaca, dia berkata, "Ya, kita sampai di sana malam ini. Ada saran?"

"Oh, banyak. Motor, laptop, kamera, voucher belanja di toko peralatan tulis atau toko buku, uang tunai, pertukaran pelajar, uang pembinaan, biaya perawatan studio," kata Nelman.

"Itu tertarik secara individu," Winner mengingatkan, "untuk menyita perhatian dalam skala yang lebih luas, kita butuh rekomendasi hadiah yang juga diinginkan banyak orang. Ibaratnya, hadiah itu bisa dirasakan juga oleh calon peserta kompetisi, atau bahkan civitas academica ISTB supaya kita mendapatkan dukungan mutlak dari pengajar dan staf."

"Hadiah apa yang kayak gitu?" tanyaku.

"Iya. Hadiah apa yang kayak gitu?" Nelman ikut-ikutan.

"Itulah yang aku mau kita pikirkan malam ini," jawab Winner. Dia membulatkan suatu kata di buku. Mataku bisa miopi memelototi tulisan dokternya.

Aku melirik Nelman. "Makanya mikir!"

"Hei! Kalau didengar sama penggemarku, bisa-bisa kamu difitnah lagi."

Keadaan kami pasti sudah sangat buruk sampai-sampai tragedi itu terdengar bagai komedi sekarang. "Malu-maluin banget sampai buat fanbase sendiri."

"Kok buat? Mereka sendiri yang berkumpul buat jadi penggemarku. Memangnya kamu nggak pernah iseng gitu lihat-lihat wajahku? Aku ini ganteng, Abril." Telunjuk Nelman mengarah ke dinding kaca yang memantulkan bayangan dirinya. Bodohnya, aku malah patuh menoleh ke depan sana.

"Memang enak ya, punya fanbase cuma gara-gara ganteng doang? Bukan karena keahlianmu yang dikagumi?"

"Lebih mending! Daripada nggak punya sama sekali?" Dia lalu berputar ke kiri. "Oke, Winner, bisa kita balik lagi ke pembahasan kita tadi? Orang sebelah ganggu terus."

"Saran untuk hadiah menyeluruhnya," kata Winner dengan sabar. Kalau jadi dia, minimal aku bakal menggebuki dua kudanil yang cekcok terus di dekatnya.

"Gimana kalau ... kita daftarin aja satu per satu secara bergantian, apa yang kita bertiga ingin dapatkan dengan diresmikannya kompetisi di pameran seni, yang menurut kita juga akan diinginkan oleh kebanyakan orang di ISTB. Dimulai dari aku ya," satu telunjuk Nelman terangkat, "semoga ISTB jadi punya pemasukan yang buanyak buat beli PS segede paus supaya kita bisa main game secara massal." Aku dan Winner memandanginya dan aku tahu Winner juga menganggapnya sinting, sama sepertiku. Nelman mengangkat bahu. "Winner, giliranmu."

Lihat selengkapnya