Petra datang dengan sekelompok teman, yang sama sepertinya, meyakini semua hal yang kulakukan adalah dosa besar. Mereka duduk di tribun lantai satu, bagian kiri auditorium, dekat dengan panggung. Ada gunanya juga dia hadir di sini. Masukan darinya adalah perpanjangan batas waktu peminjaman komputer di perpustakaan demi kepentingan akademik. Dia juga menyampaikan saran tambahan, yaitu peminjaman di atas pukul tujuh malam sebaiknya mendapatkan pengawasan dari staf yang berjaga.
Tapi kemudian berdirilah Rere, yang tidak tahan lama-lama menyimpan bisa mematikannya sendirian. "Saya Regina Respati, mahasiswi DKV angkatan 22. Saya berada di sini siang ini untuk menyampaikan pendapat saya, yaitu agar mahasiswa atau mahasiswi yang terkenal suka mencari sensasi diawasi pergerakannya ...."
"Seperti buron," sahut Rosi. "Atau mangsa."
"Oleh karena mereka memiliki potensi kuat untuk mempengaruhi teman-teman civitas academica sekalian. Saya khawatir apabila mahasiswa dan mahasiswi ISTB tidak dapat mengendalikan emosi dan ambisinya," dia menekankan kata terakhir itu dan aku langsung mencurigai sesuatu, "dia mungkin saja mengucapkan atau melakukan sesuatu yang dapat memecah belah kekeluargaan ISTB. Dilihat dan didengar pun tidak nyaman karena kita masuk ISTB untuk belajar, menimba ilmu, dan berguru. Kita ingin memperoleh suatu kebaikan, bukannya terus-terusan diasupi doktrin negatif. Dewan harus secara tegas mengenai sanksi jika mereka terbukti melakukan provokasi. Jadi itulah masukan dari saya, saya mohon agar dipertimbangkan dengan amat sangat. Terima kasih."
"Jangan sampai deh dia masuk pemerintahan mana pun." Rosi mengetuk-ngetuk kepala kemudian kursi plastik tribun.
Kepala-kepala saling menoleh, mereka mencari mulut lain untuk beradu argumen, mencari telinga lain yang mau mendengarkan teori konspirasi mereka sendiri.
"Miris sekali memang." Winner berkata. "Seorang provokator meminta dewan melakukan pengawasan terhadap mahasiswa yang punya potensi memprovokasi disintegrasi warga kampus."
Aku penasaran apakah dia masih naksir Rere atau tidak.
"Siapa yang dia maksud?" tanya Nelman. "Tunggu. Anak DKV katanya tadi? Berarti dia teman kalian?"
"Amit-amit deh berteman sama otak busuk kayak dia," sahut Rosi.
"Otak busuk." Kafka bersiul. "Dia cuma iri. Selama kita berteman sama selebriti kampus, sensasi akan mengejar-ngejar kita, Rosi. Banyak penggemar, banyak musuh. Kayak peribahasa padi itu, kan?"
"Padi? Peribahasa padi yang mana?" Rosi mengerutkan hidung. "Kelapa nggak, sih? Semakin tinggi pohon kelapa, semakin kencang angin menerpa?"
"Kalau yang padi bunyinya gimana?"
"Semakin berisi padi, semakin merunduk, Bloon!"
"Oh."
Aku mengalihkan perhatian ke arah panggung. Baik Malik maupun Delio tak lagi berdiri di ambang gapura sana. Di sekitaran panggung juga tidak ada. Sekretaris masih mencatat poin-poin penting dari permintaan Rere di meja pojok panggung yang khusus disediakan untuknya.