I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #19

OKTOBER 2022 #5

Kertas itu panjang sekali, mungkin merupakan kertas A0 yang ditempel sampai 4 meter. Petra dan kelima temannya memegangi kertas itu di depan dada mereka. Begitu aku dan Winner melangkah masuk ke gedung pembelajaran jurusan, mereka yang berbaris di samping aula mengguncang-guncangkan kertas itu sampai kami berdua menoleh. Muncul lagi beberapa orang lain dari lorong kiri dan kanan, seperti air sungai yang bermuara di laut. Mereka memandangiku sambil menggeleng-geleng.

Keningku mengernyit. Itu kolase gambar sandi tangan Pramuka dan aku langsung tertampar rasanya membaca rangkaian kata di dalamnya.

K-I-T-A T-A-H-U S-I-A-P-A Y-A-N-G B-E-R-A-M-B-I-S-I

Tatapanku terangkat pada Petra yang berdiri paling ujung, dekat dengan bibir tangga. Dia merangkai sebuah kalimat dengan tangan. U-P-S K-E-T-A-H-U-A-N D-E-H.

Mereka melihat Malik dan Delio bicara padaku kemarin. Aku langsung mencari wajah si Gadis Angsa, yang rupanya tepat berada di hadapanku, di tengah-tengah barisan. Matanya menyipit tajam dan bibirnya dikerucutkan sampai jadi satu titik di bawah hidungnya yang runcing.

"Kamu nggak sadar ya? Dengan besarnya usahamu membuat semua ini cuma demi bisa ngejek aku, kamu sekarang ini jadi tontonan? Inget, nggak, kamu sama masukanmu sendiri kemarin? Dewan harus mengawasi mahasiswa-mahasiswa yang suka cari sensasi?" Aku menunjuk orang-orang di sekitar kami yang berada di luar panggung pertunjukannya. "Lihat sendiri, kan, siapa yang lagi cari sensasi sekarang?"

Aku berani bertaruh, mereka mengharapkan respons yang lebih dramatis. Melihatku mengamuk barangkali, atau berteriak histeris seperti orang kesurupan. Tapi aku langsung berputar ke arah tangga dan berlari mendakinya bersama Winner. Sangat percaya sendiri sampai antek-anteknya Petra dan Rere buru-buru menyingkir karena tidak ingin kutabrak.

Di kelas, saat sedang mendengarkan penjabaran Bu Karin mengenai penugasan ujian tengah semester Pengantar Seni Rupa dan Desain yang akan dia berikan minggu depan, aku menerima tautan dari Rosi. Sebaris pesan mengiringinya.

Aku hidup di tengah masyarakat ISTB yang gila gosip.

Aku pun membuka tautan tersebut. Tautan itu mengarahkanku ke aplikasi X dan menampilkan sebuah cuitan dari akun Curhatan Insted—yang setelah kuteliti di bio profilnya merupakan kepanjangan dari Institut Seni dan Teknik Badung. Ya Tuhan.

Cuitannya berbunyi P E N G E C U T dan emotikon wajah merah menahan marah. Di bawahnya terlampir sebuah video. Sekilas tampak seorang gadis sedang duduk menulis di meja pojok panggung. Aku memastikan volume suara ponselku nol, meletakkan ponsel di kolong meja, baru kemudian memutar video itu.

Fahri dan Samantha berdiri bersebelahan di podium, tegap seperti tentara. Sekretaris sedang mencatat sesuatu di meja, dan agak jauh di sebelah kanannya, agak ke belakang, berdiri berdua di ambang gapura tripleks, Malik dan Delio. Aku menghentikan video tersebut untuk mengingat-ingat posisi tribun kemarin. Kalau orang yang merekamnya duduk di sebelah kiri gedung dan dekat dengan panggung ... kelompok Petralah yang duduk di tribun itu. Aku yakin sekali. Aku kembali memutar video.

Tangan Malik terentang dan kejadian hari itu terulang kembali. Tangannya membentuk kata A-B-R-I-L G-A-B-R-I-N-A untuk mendapatkan perhatianku. Lalu K-A-M-U B-E-N-A-R B-E-N-A-R K-E-J-U-T-A-N U-N-T-U-K K-A-M-I. K-A-M-U I-K-U-T K-O-N-G-R-E-S. Giliran Delio, K-A-M-U M-E-N-G-G-U-N-A-K-A-N S-U-A-R-A W-I-N-N-E-R. Akhirnya kalimat itu, yang menjadi sumber masalahku hari ini. K-I-T-A T-A-H-U S-I-A-P-A Y-A-N-G B-E-R-A-M-B-I-S-I.

Sudah ada 304 komentar di postingan tersebut sejak diunggah semalam. Belum lagi puluhan orang memilih untuk meneruskan cuitan itu. Aku membuka kolom komentar dan seketika mendengar geraman tertahan di sebelahku.

"Dia kurang bijak menggunakan panggung umum," kata Winner.

PARAMITA ARORA

Bukankah yang seperti ini sudah termasuk sebagai ancaman bagi pihak kampus? Membiarkan seorang mahasiswi berambisi memaksakan suaranya kepada orang lain?

Wadim Jamrud

Pantesan ada yang sampai minta dewan mengawasi mahasiswa/i yang berpotensi memecah belah kekeluargaan kampus. Ternyata ini toh yang dimaksud. Sampai kepala penasihat ketua bem pun bilang dia berambisi.

LeonardMica SZS

Usulan sanksi bagi mahasiswa yang cari sensasi itu tolong diterima, anggota dewan. Lihat sendiri kepala penasihat ketua BEM sama ketua DPM aja udah gak sanggup menangani dia.

Anastasii-Perwira

Bukannya seharusnya konten yang kayak gini jangan disebarluaskan ya? Sama aja kayak menjelek-jelekkan nama kampus sendiri, terlepas dari sifat buruk si mahasiswi yang dibicarakan dalam video. Kalau masih bisa menempuh cara adem kayak mediasi, kenapa harus diviralkan kayak gini?

Lihat selengkapnya