I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #20

NOVEMBER 2022 #1

Kamar indekos kami identik dengan jejak Mula. Dia meninggalkan ciri khas di setiap langkah. Novel telungkup di meja atau kasur dan pulpen atau spidol bisa menjadi indikasi tempat terakhir sebelum dia pergi ke dapur, kamar mandi, atau kamar Ayah dan Mama. Wangi bedak floralnya menempel pada pakaian di lemari dan di gantungan baju belakang pintu kamar. Teh melati kesukaannya dan Mama akan menyebarkan aroma menenangkan di seputaran kamar. Rambut pendek sebahu yang sering kali rontok juga bertebaran di lantai kalau dia lupa menyapu kamar.

Dia hampir selalu ada di kamar saat aku pulang dari bepergian. Itulah sebabnya sulit sekali bagiku mencuri selembar saja lukisannya untuk kubawa ke kampus dan kupindai dengan mesin milik perpustakaan.

Namun, setelah sabar menanti, akhirnya hari itu datang juga. Ketika Mula meninggalkan kastilnya untuk menghadiri wisuda kakak perempuan tertua Fajar yang berkuliah di ITEKES Bali. Aku tahu akan melewatkan satu kelas dengan menunggui Mula berangkat, tetapi kurasa itu akan sepadan dengan hasil yang nanti kuperoleh.

Dia pasti memandangiku seperti itu sambil mempersiapkan tas bahu hitam karena penasaran, kenapa aku masih menyampirkan handuk di leher sambil makan biskuit choco chips yang kupanggang beberapa hari lalu dan pura-pura merenungi layar televisi yang padam, padahal biasanya aku selalu panik siap-siap berangkat kuliah sejak pukul tujuh pagi. Tapi karena kami masih belum bicara lagi sejak aku menegurnya malam itu, dia mengurungkan niat untuk bertanya padaku.

Saat dia menghampiri Fajar yang sejak tadi duduk menunggunya di lantai teras, aku melambaikan tangan pada Fajar. "Tolong sampaiin salamku buat kakakmu ya, Kak Fajar. Selamat wisuda! Semoga Mula jadi termotivasi juga."

Fajar melipat bibir untuk menahan tawa. Terkadang Fajar bertindak kelewatan dengan gagal membedakan situasi bercanda dan serius. Mula berjalan lurus melewati gerbang tanpa menoleh lagi ke belakang. Fajar buru-buru menyusulnya. Aku menunggu sampai bunyi mesin CBR Fajar mengecil di kejauhan, barulah aku melompat ke depan lemari, berjongkok, menarik laci, mengeluarkan seluruh kertas lukisan A4 di dalamnya, dan membeberkannya satu per satu secara runut di atas kasur.

Sialan. Mula memang bagus sekali. Melihat koleksi lukisannya membuatku tidak sabar menghajar mulut pesimisnya yang suka meromantisasi kemelaratan kami. Kami bukan saja akan makmur kalau dia mau menjual semua ini, dia bahkan bisa menjadi ilustrator terkenal. Jadi, masalahku sekarang adalah ... harus memilih yang mana?

Yang mana yang mana yang mana? Aku mengusap wajah dan berdiri. Mungkin memandangnya dari perpektif jauh bisa membuatku memilih satu yang kelihatan paling menonjol.

"Mau kamu apakan lukisan kakakmu itu?"

Jantungku melompat sampai menonjok langit-langit mulut. Keringat dingin mengaliri tengkuk. Oh Tuhan oh Tuhan oh Tuhan.

Waktu melihat ke atas dan mendapati Ayah sedang berdiri di pintu kamar, kakiku langsung lunglai. Aku berpegangan dengan satu tangan ke pintu lemari untuk menopang tubuh. Bayangan Ayah bergerak mendekati kasur. Napasku perlahan-lahan mulai teratur. Kupikir tadi ... itu Fajar, kembali untuk mengambil barang yang tertinggal.

Ayah menunduk ke arah lukisan-lukisan Mula. Sesuatu melintasi wajahnya hingga membuat dahinya berkerut-kerut dalam. Ayah pun mendekati kasur dari sisi samping. Kakinya yang berbetis besar menyenggol stoples biskuitku. Dia mengambil satu lukisan. Seorang gadis yang kulitnya digerogoti oleh hewan-hewan mungil bersayap tipis dan bercahaya lembut; mereka bergigi tajam. Hewan-hewan itu beterbangan di sekitar kulitnya yang menyerupai kulit pohon tua. Digigiti tanpa henti oleh hewan-hewan bengis itu, kulit pohon si gadis mengelupas tanpa ampun, memperlihatkan daging hangus yang ditumbuhi jamur dan kudis. Mata gadis itu terpejam, air mata terbit di sudut. Dia seolah pasrah dirinya dihabisi. Rambutnya merupakan susunan ranting yang saling membelit, tetapi membentuk kesatuan yang berirama, mengalun mengelilingi tubuhnya dan memenuhi permukaan kertas. Dia terbuai di atas sarang rambut rantingnya sambil menunggu ajal datang menjemput.

"Kenapa dia membuat lukisan kayak gini?"

Benar. Kenapa dia membuat lukisan kayak gitu? Ini satu-satunya lukisannya yang cenderung bernuansa putus asa. Aku membalik kertas di tangan Ayah untuk mengidentifikasi tanggal pembuatannya. Pantas saja. Lukisan ini dibuat pada tanggal 2 Juni 2022, hanya lima hari setelah keberangkatan Ludwig ke Italia. "Karena dia mau mengabadikan apa yang dia rasakan saat melukis ini."

Kepala Ayah miring ke kiri, bibirnya merengut tak setuju. "Mula ternyata bisa sangat mengerikan."

"Filter emosinya rusak. Dia bisa menerjemahkan segala perasaan ke dalam lukisannya tanpa melakukan sensor," jawabku.

"Gimana bisa dia merasa sesedih ini?"

Aku mengangkat bahu. "Semua orang pernah ngerasa gitu." Bukannya Ayah juga?

"Seolah dia ini lagi dibunuh keadaan. Lihat warna-warna gelap yang dipilihnya. Mula biasanya melukis pakai warna-warna pastel atau sekalian aja warna yang komplementer. Perpaduan warna-warna gelap ini tetap harmonis, tapi terlalu ...."

"Putus asa?"

Dia mengangguk dengan terpaksa. Lalu Ayah mendongak dan menatapku dengan tegas. "Mau kamu apakan lukisan-lukisan kakakmu, Abe? Kamu belum jawab Ayah."

Aku bergegas mengembalikan lukisan-lukisan yang kubariskan di kasur dalam satu tumpukan sesuai urutan. "Mau kusebarluaskan. Mula nggak berhak menyembunyikan keindahan kayak gini dari dunia."

"Dia berhak."

"Tapi apa Ayah rela?" Aku berbalik dari lemari dan menatapnya lurus-lurus.

Ayah menunduk sebagai jawaban. Dia menyerahkan lukisan Mula yang tadi kami diskusikan kepadaku.

Kupikir Ayah sudah kembali ke kamarnya, tapi saat aku keluar dari kamar mandi, kutemukan Ayah sedang melamunkan sesuatu di tepi kasur. Pintu kamar dibiarkan setengah terbuka, seperti saat aku meninggalkannya untuk mandi. Ada sepiring nasi dengan sayur kacang dan tempe yang dibumbui kecap manis ditambah ayam goreng di meja televisi. "Mama suruh Ayah nganterin sarapan ke sini."

Lihat selengkapnya