I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #21

DESEMBER 2022 #1

Ada dua bentuk ujian mata kuliah: teori dan praktik. Teori biasanya dikerjakan di kelas dan praktik merupakan final project dari suatu mata kuliah yang telah diumumkan jauh-jauh hari. Aku tidak mengalami kesulitan menggarap semuanya, tetapi setiap kali mengunggah tugas-tugas ospek ke Instagram, aku masih bingung. Kenapa punyaku tidak dikunjungi orang kecuali mereka ingin membesar-besarkan isu buruk tentangku?

Pada minggu remidi, Malik tiba-tiba mendatangi jurusanku. Aku tidak tahu dia mau apa, jadi saat melewatinya di taman internet, aku tidak repot-repot menyapa, dan melanjutkan langkah menuju ruang rapat yang telah ditentukan ketua divisi humas dalam kepanitiaan PERUTA DKV atau Perayaan Ulang Tahun DKV. Dia pun membuntutiku di jalan setapak yang menghubungkan taman jurusanku dengan jurusan Desain Produk. "Oh, ada perlu sama aku?" tanyaku kemudian.

"Menurutmu, apa nggak aneh kalau aku ngaku-ngaku jadi temanmu, tapi kita nggak pernah kelihatan nongkrong berdua di sekitaran kampus?"

Malah aneh sekali dalam hidupku kalau dia tiba-tiba menempel seperti ini padaku. "Apa? Sekarang kita mau ngopi bareng?"

Malik menggigit bibirnya dan uh, untuk apa dia melakukannya? Lebih karena refleks, aku tahu, tapi ... aku pernah lihat artis-artis K-pop melakukannya dan Malik kelihatan seseksi mereka, aku berani bersumpah. "Ayok, kita mau kencan di mana?"

Pasti didatangkan fresh dari neraka, rasa panas yang menyiram kepalaku dari atas ini. Wajahku mungkin sudah kelihatan seperti sepanci darah. Aku mencoba menggeram dan mendongak untuk menatap kesal pada langit. "Kamu mau apa?" tekanku.

"Cuma mau bilang, habis ini liburan. Habis liburan, ada bagian yang paaaling seru."

"Apa?" Aku masih menggeram.

"Kita bakal berjumpa di pelantikan anggota BEM KM dan rapat-rapat sepanjang tahun 2023 dan 2024."

Alisku turun sampai hampir menutupi mata. "Kamu masih gabung di dewan, memangnya?"

Dia tergelak. "Hei, aku nggak perlu kursi dewan untuk membuat suaraku didengar sama siapa pun yang menjabat di sana. Kamu masih nggak paham cara kerjaku ya? Mereka selalu membutuhkan saranku, Abril Gabrina. Aku pun akan merenungkan, memikirkan baik-baik, dan mengolah masalah-masalah mereka jadi suatu output yang jauh lebih berguna; contohnya adalah masukan kompetisi akbarmu yang kuterima dengan syarat itu. Keputusan-keputusan brilian kayak gitu cuma bisa diperoleh setelah melalui proses panjang pengkajian."

"Dan kamu mau bilang, semua itu pun cuma bisa dilakuin sama kamu doang?"

"Sebut coba, siapa lagi yang bisa ngelakuin itu selain aku? Sebastian Winner? Oh, dia masih kalah dua langkah dari aku." Malik tertawa—itulah yang dijuluki tawa karir oleh orang-orang di media sosial. "Dia memang punya potensi untuk mengimbangi aku, tapi itu baru akan terjadi nanti, kalau umur udah ngebuat aku menderita demensia."

Ya ampun, sombong benar si rambut jewfro ini. Tapi sialannya, aku agak merasa dia sedang membeberkan kebenaran.

Di depan pagar besi yang membatasi DKV dan Desain Produk, aku berhenti melangkah. Malik mengikutiku. "Aku cuma berharap yang dikutuk jadi batu itu Malik Anggen, bukan Malin Kundang. Udah ya pura-pura akrabnya, capek aku."

Bahkan setelah menginjak teras gedung pembelajaran Desain Produk yang berada dalam jarak sekitar sepuluh meter dari gerbang, aku masih bisa mendengar gelak tawa Malik. Memang sinting.

Muncul satu ikatan aneh di antara kami berlima setelah semua kejadian ini. Mungkin karena biasa berkumpul, tiba-tiba saja tercetus ide untuk menongkrong bersama sebelum kami berpencar waktu libur semester. Rosi menolak ikut seleksi organisasi apa pun karena dia lebih memilih untuk pulang ke Kudus. Winner akan pulang sebentar ke Bandung sebelum pelantikan BEM dilangsungkan. Kafka mau menyewa vila di Ubud, menyesuaikan agenda hunting-nya dengan Nelman di wilayah Gianyar, agar mereka punya tempat singgah. Nelman kelihatan tidak nyaman waktu Kafka bilang begitu, tapi dia tidak menghalangi rencana itu.

Kami mengincar sudut favorit kami di meja fasad kaca. Dari situ kami bisa memandangi lapangan auditorium yang terbentang ke utara sampai berbatasan tembok dengan jalan raya. Aku duduk di kursi terujung yang paling dekat dengan pintu, seketika teringat Nelman sering memilih kursi di sebelah kiriku setiap kami berdiskusi, jadi aku meletakkan ransel di situ. Waktu mengeluarkan buku sketsa dari ransel, aku menangkap tatapan pengamatan Winner terhadap ransel itu. Mata kami bertemu. Sedetik, dua detik, sebelum aku sempat menawarinya kursi itu, Winner bergeser ke kursinya yang biasa.

Lihat selengkapnya