I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #23

FEBRUARI 2023 #1

Terjadi suatu perubahan di antara aku dan Nelman.

Halus sekali, seperti bedak yang dibubuhkan ke kulit. Lama-lama baru terasa makin tebal sampai mengendap dan kami baru menyadarinya setelah melihatnya di mata orang lain.

Pada hari pelantikan waktu itu, kecerewetan Nelman seolah-olah hanyalah dongeng. Wujudnya ada, tapi kebenarannya sulit sekali dipastikan. Kami tetap bermain dengan Winner, tapi Nelman lebih banyak menunduk. Dia sendiri juga memisahkan diri dari kami waktu di bus. Duduk agak jauh di belakang dengan seorang laki-laki yang senang sekali mengoceh padanya sampai-sampai dia batal mengenakan headphone putih nirkabel yang sudah dipangkunya. Dia berusaha mendengarkan, walau sering kali kudapati tatapannya kosong dan akhirnya leherku sendiri yang pegal karena kelamaan terpelintir ke belakang.

Aku berusaha mengajaknya bicara, tapi dia hanya menjawab seperlunya. Dan itu sangat bukan Nelman versi 2022. Aku punya firasat Nelman disetel ulang ke versi 2009.

Muncul perasaan yang lagi-lagi aneh. Kupikir bisalah kalau kusebut kemarin-kemarin itu aku mulai nyaman bergaul dengannya. Karena dia tidak lagi terasa bagai bocah sombong pembohong. Melihatnya kembali jadi pendiam memacu perasaan lamaku yang ingin terus-terusan menyerangnya. Dia adalah rusa dan aku buaya yang berada di balik permukaan air.

Rapat perdana Kabinet Garda Kreasi diadakan pada siang hari di awal Februari. Namun, aku datang lebih awal karena tahu antrean di pom bensin sudah akan memanjang di jam makan siang. Pintu ruang rapat telah terbuka sewaktu aku tiba. Hanya ada tiga orang dalam ruangan: Nelman, Winner, dan seorang gadis yang tengah mengutak-atik kamera Nelman. Mereka mendongak ke pintu.

Mataku tertuju lurus pada Nelman. Kerai rambutnya langsung jatuh sewaktu dia menunduk.

"Rajin banget datang jam segini." Satu tangan Winner terentang di punggung kursi Nelman, satunya lagi mencengkeram tepi meja. "Mau cari Wi-Fi ya?"

"Iya." Aku mengangguk, lalu berpaling tanpa tedeng aling-aling pada Nelman. "Kuliahmu belum dimulai kan, Nelman? Kenapa kamu nggak ngajak aku berangkat bareng kayak dulu waktu kita ospek? Lebih praktis gitu, kan?"

Rambut depannya mengayun lagi. Matanya terpaku pada layar laptop di hadapannya. Tangan Nelman menggeser-geser mouse. "Aku harus mampir dulu ke cabang Laveland, nggak enak kalau ngajak kamu muter-muter."

Gadis itu mendongak padaku. Aku tetap mengunci tatapan pada Nelman. "Ah, tapi tetap sejalan sama ISTB, kan? Ujung-ujungnya juga ke sini. Nggak apa-apa padahal kalau kamu mau ngajak aku bareng. Kamu kan tahu motor keluargaku cuma satu."

Darah bercokol di seluruh kepalanya, mengisinya dengan warna merah terang seolah-olah kulit Nelman transparan. Mouse-nya diputar-putar ke segala arah di atas meja.

"Itu, Nelman, opening yang kubilang ada di video yang tadi. Kamu kelewat," kata Winner sambil menunjuk layar laptop.

"Oh, yang ini?"

"Atasnya lagi."

Rambut di dahinya mulai basah. Dia memutar kursor berulang kali sampai membuat Winner meliriknya sebelum dia menekan tombol kiri. Terdengar lagu pembukaan yang sering sekali diputar waktu ospek institut, saat sedang istirahat dan gedung auditorium hampir dalam keadaan kosong.

"Kalau gitu kita berangkat bareng di rapat kedua ya? Kamu bawa pikapmu, kan? Aku bisa gantiin nyetir kalau kamu capek atau apalah."

Nelman menggaruk pipi. Jakunnya naik turun berulang kali. Tatapannya terlalu serius untuk ukuran menonton dokumentasi ospek.

"Nelman?" panggil Winner.

Lihat selengkapnya