I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #24

MARET 2023 #1

Oleh karena penjurusan baru akan berlangsung pada semester empat, kami mengambil mata kuliah paket dari semester satu sampai tiga. Aku membawa KRS ke ruangan Prof. Krisna, pembimbing akademikku, untuk meminta tanda tangan persetujuannya. Masih ada kakak tingkat waktu aku mengetuk pintu ruangannya yang berbau seperti jambu.

"Abril Gabrina?" tanyanya untuk memastikan.

Aku mengangguk kemudian duduk di hadapannya sewaktu kakak tingkatku meninggalkan ruangan.

"Semester dua?" Dia bertanya lagi. Aku mengangguk lagi. Dia mengecek terlebih dahulu daftar mata kuliahku. Setelah menandatangani KRS-ku, dia agak menunduk untuk menatapku dari tepi kacamata. "Setahun lagi sudah penjurusan. Kamu punya gambaran mau mengambil apa?"

Inilah jenis pertanyaan yang ingin kuhindari sampai tiba waktunya aku tak lagi bisa mengelak. "Belum, Prof. Saya agak bingung karena ingin mempelajari semuanya. Animasi, periklanan, komik, desain game, desain grafis. Semua itu keahlian idaman anak-anak DKV."

"Tapi akan sangat menghabiskan waktu untuk mempelajari semuanya, betul?" Dia menggulir kursor dengan mouse yang tersambung ke laptop yang terletak di antara kami. "Sudah saya kirimkan RPS setiap penjurusan ke nomormu, silakan dibaca sekeluarnya dari ruangan saya."

"Baik, Prof." Kupikir semua ini sudah selesai, jadi aku meraih KRS-ku, tapi Prof. Krisna menyatukan jemari di meja sambil menatapku lagi dari tepi kacamatanya.

"Kamu berencana untuk bergabung sebagai peserta pameran seni 2024, betul? Saya dengar kamu yang menyarankan gagasan kompetisi akbar seluruh peserta pameran?"

Selama ini aku terlalu sibuk penasaran pada reaksi para mahasiswa sampai lupa bahwa antusiasme seluruh civitas academica yang disasar Winner melibatkan dosen juga. "Ya, Prof? Ya, saya ikut menyarankannya bersama Winner dan Nelman, mahasiswa Fotografi."

"Saya tahu. Saya mengikuti kabarnya dari Stanley." Stanley adalah sekretaris kajur yang masih muda, mungkin berumur awal 30-an, tidak heran dia mengikuti isu-isu yang sedang tren di kampus. "Kamu dan anak Fotografi itu yang awalnya mau berkompetisi di pameran seni."

Sejauh itu kabar berembus. Nice.

"Saya menyukai gagasanmu itu, Abril. Salah satu tujuan dalam Goals Tracking-mu adalah meningkatkan standar kualitas seni anak bangsa, bukan begitu?"

Nah, ini baru luar biasa. "Bagaimana Prof mengetahui itu?"

"Saya membacanya di media sosialmu, seperti saya membaca seluruh Goals Tracking murid-murid yang saya bimbing."

"Oh ... ya, benar." Aku jadi merasa tolol karena sempat berpikir Prof. Krisna mungkin saja menguntit GT-ku di Sastra Inggris. "Itu memang salah satu tujuan yang saya tuliskan di GT saya."

"Sekadar dituliskan untuk melengkapi komposisi?" Kedua alis gemuk Prof. Krisna naik.

Aku buru-buru melambaikan dua telapak tangan. "Tulus ingin mewujudkannya, Prof."

"Maka kamu sudah mewujudkannya bahkan sebelum lulus dari sini." Kini kedua bahunya yang kelewat lurus yang naik. "Dengan menggagas pelaksanaan kompetisi dan menjadi wajah kompetisi ini sendiri, kamu telah menetapkan standar tanpa menyadarinya."

Ada yang mengetuk pintu, Prof. Krisna meminta muridnya untuk menunggu sebentar di luar, sementara aku masih tertegun. Prof. Krisna adalah seorang akademisi. Akademisi mengamati kejadian-kejadian di lingkungannya dan terbiasa membuat sebuah karya ilmiah berdasarkan suatu masalah yang dia temukan. Aku tak akan heran kalau tahu dia telah merancang sebuah esai atau jurnal yang mengkritisi kompetisi akbar ini.

"Sejak kamu mencetuskan gagasan kompetisi itu, orang-orang akan menyoroti setiap karya yang kamu dan anak Fotografi itu ciptakan." Ya, aku ingin membantah, tapi cuma untuk membanting harga diri saya. "Dan sejak disetujuinya gagasan kompetisi itu, yang kemudian akan resmi dilaksanakan pada pameran seni 2024, mereka akan berkarya dengan berkaca pada karya-karyamu dan siapa namanya itu?"

"Nelman."

"Nelman. Semua ini bisa saja bergantung pada kalian. Mampukah kalian menggiring mahasiswa lain pada tren baru yang akan meledak di pasar? Atau mengikuti pola terdahulu dan menciptakan kemonotonan sehingga kalian akan ditinggalkan oleh komunitas lainnya yang terus bergerak maju?"

Selagi dia bicara, aku malah memandangi cincin emas yang tersemat di jari kanannya. Jujur saja, penjabarannya ini membuatku takut melebihi prediksi-prediksi tajam Winner dan Malik karena yang dibicarakan Prof. Krisna bukan sekadar probabilitas masa depan yang misterius. Dia menawarkan realita dari mata tuanya yang telah berpengalaman di bidang itu.

Prof. Krisna bersandar dengan tenang di punggung kursi besi berbantal. Wajahnya kotak dengan sudut membusur, dan bisa kulihat kedut samar di rahangnya. "Menguasai banyak keahlian itu bagus, saya setuju denganmu, tetapi sedikit sekali orang yang bisa melakukannya. Kita harus mengakui bahwa kalau orang memutuskan untuk mempelajari banyak keahlian, dia cenderung hanya akan mempelajari setengah-setengah saja dari setiap keahlian tersebut. Berbeda lagi dengan orang yang memutuskan untuk mempelajari satu atau dua keahlian, dia akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menguasai keahlian itu sampai menurutnya tuntas."

Kok aku jadi merasa deja vu ya?

Lihat selengkapnya