I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #25

APRIL 2023 #1

Rutinitasku, Winner, dan Rosi terbarui secara drastis sejak semester dua. Winner sibuk dengan panitia inti pameran seni, aku menghadiri banyak pertemuan dengan panitia inti porseni, dan Rosi aktif dalam kepanitiaan bakti sosial yang diadakan oleh fakultas. Kami tetap berkumpul untuk makan malam kalau-kalau waktu luang kami sama. Namun, aku mensyukuri kerenggangan ini. Karenanya aku bebas mengatur ulang jadwal.

Aku merancang konsep untuk GT-ku yang baru. Banyak waktu yang kuhabiskan untuk berkeliling di sepenjuru kampus, mengamat-amati GT di seluruh dinding bangunan.

Aku jadi sadar bahwa kesalahan utamaku terletak pada kenyataan bahwa waktu itu, aku merasa tertekan oleh keadaan karena ingin memberikan yang terbaik demi bisa menyaingi GT Nelman yang kami buat dengan hati damai.

Bagaimana caraku menonjolkan fashion ke dalam GT yang cuma satu lembar? Satu lembar tapi luaaas, aku mengingatkan. Dan aku bisa membuatnya berlapis berapa pun yang kumau. Hanya tinggal meng-custom bingkai sendiri, kalau harus menggunakan bingkai yang diberikan panitia ospek pada hari penyerahan perlengkapan, pasti tidak akan muat.

Ide mengenai seorang gadis sebagai pemeran utama tak akan kuganti. Dan karena aku sudah memilih caraku bercerita ... aku akan memasukkan ciri khas itu ke dalam konsep GT.

"Seperti yang sudah pernah kita bicarakan di semester satu, tekstur memberikan kesan perbedaan kedalaman, kelembutan, kerapatan, dan tekstur bisa menjadi cara lain untuk menyampaikan karakter atau pesan suatu desain selain melalui warna, perspektif, dan arsiran. Tekstur juga merupakan jurus paling ampuh untuk memecah kemonotonan. Dalam bidang busana, tekstur ini banyak sekali digunakan."

Aku melipat bibir ke dalam dan berpikir. Tekstur pakaian. Satin yang licin dan berdesir tentu punya kerapatan benang dan lapisan yang berbeda dengan linen yang cenderung kasar dan berbintik-bintik.

Aku membuka-buka buku catatan. Prof. Krisna sudah pernah menjelaskan mengenai tekstur waktu semester satu, rupanya aku hanya perlu diingatkan sedikit. Aku pun mengambil buku sketsa dan mengangkat pensil. Beberapa menit kemudian, sambil mendengarkan penjelasan Prof. Krisna mengenai pola alami yang tampak di alam seperti pada galur kelopak bunga atau interseksi garis tajam pada permukaan granit mentah, aku memandangi 15 kotak terpisah-pisah di halaman buku sketsaku. Masing-masingnya terdiri dari tekstur yang berbeda, kubayangkan mereka adalah tekstur setiap kain yang bisa kuingat: satin, linen, katun, denim, sutra, sifon, beledu, wol, korduroi, baby terry, suede, woven, rayon, poliester, kulit.

"Murid Prof. Krisna memang beda, dia nggak cuma ngangguk-ngangguk kalau paham, dia langsung gambar 15 contoh tekstur di bukunya," bisik Winner di sebelahku.

Aku menunjuk halaman bukuku. "Tekstur beledu yang sangat rapat dan tebal memang beda sama sifon, kain itu tipis banget sampai gampang terburai."

"He-emmm." Dia mengelus dagu dengan terlalu serius.

Barulah aku teringat pada GT Winner. Dia mencampuradukkan cat minyak dengan pasir silika sehingga GT-nya punya dimensi ruang. Aku langsung bisa merasakan kedua mataku sendiri kena tabur bubuk ketakjuban. Sudah lama dia mengaplikasikan kegunaan tekstur, bahkan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. "Winner ... kamu memang jenius."

Bibirnya tertarik dengan kerut-kerut aneh seolah dia berusaha keras menahannya tetap lurus.

Sekeluarnya dari kelas, Winner langsung bergegas ke sekre BEM KM, sementara kelas Rosi masih berlangsung di lantai dua gedung pembelajaran. Aku menggendong tas dan memeluk buku sketsa menuju ruang rapat panitia porseni yang bertempat di gedung mata kuliah umum fakultas. Sambil menunggu teman-teman inti yang lain datang, aku mengeluarkan kotak pensil dari tas dan mulai mengisi satu halaman buku sketsa lagi. Tapi kali ini dengan konsep kasar GT.

Diskusi tentang detail mekanisme kompetisi peserta pameran seni menjadi selingan bagi konsentrasi penuhku terhadap rangkaian proses pewujudan konsep GT. Tapi karena kata-kata Rosi waktu itu, Nelman lagi-lagi menghindariku. Maka Winner melakukan dua sesi diskusi berbeda dengan aku dan Nelman.

Lihat selengkapnya