Belakangan aku menyadari suasana hati kakakku mulai membaik. Kurang lebih dia tidak tiba-tiba menangis di malam hari dan makannya juga lumayan lahap. Jadi aku mencari waktu yang menurutku tepat. Fajar masih belum kelihatan lagi batang hidungnya dan lewat media sosialnya, aku tahu mereka masih bertengkar. Fajar terus membagikan postingan lewat ceritanya yang berkata bahwa dia hanya menginginkan yang terbaik untuk sahabatnya.
Aku menghela napas dan mengembuskannya lalu menatap Mula yang sedang membaca novel di atas kasur. Kubetulkan letak handuk yang terpelintir membungkus rambut lalu berjalan mendekatinya. Ponselku ada di atas meja televisi. Aku mengambilnya lalu membuka Candleart Dinner dan langsung mengarahkan navigasi ke koleksi karya. "Mula ...," panggilku. Dia berdeham untuk menyahut. Kudekatkan ponsel padanya.
Dia melirik sebentar dan kembali lagi kepada novelnya sebelum menyadari apa yang baru saja dilihatnya.
Saat itulah Mula kembali mengangkat tatapan ke arah ponselku dengan mata terbeliak.
Mau mati rasanya aku melihat keterpukulan di wajahnya. Sekujur tangan dan kakiku lemas. Tiba-tiba saja aku merasa konyol dengan handuk terpelintir di atas kepala dan menyodorkan layar ponsel pada kakakku yang rentan, padahal tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.
"Itu ...."
"Lukisanmu." Kata-kataku hampir kedengaran seperti cicit tikus. Aku tetap memegangi ponsel selagi dia membaca komentar untuk lukisannya satu per satu.
Mata nanar Mula seperti dipecahkan hantaman kuat. Bibirnya bergetar dan hatiku mencelus melihatnya. "Kamu ...." Air mata jatuh di pipinya. Satu. "Kamu tahu aku nggak pernah suka karyaku diekspose ke luar." Dua. "Kenapa kamu tetep nekat ngunggah karyaku ke internet?" Tiga. "Abe, aku tanya kenapa?" Empat. "JAWAB AKU!"
Maka tangisku pun juga pecah. Badanku terkulai lemas di lantai. "Terus aku harus apa? Aku udah bilang aku capek, Mula. Aku capek! Kapan kamu bakal ngerti kata-kataku, sih?" Aku benar-benar lupa terakhir kalinya pernah menangis sampai meraung seperti ini. Mungkin dulu waktu umurku tiga tahun, saat kupikir Mama terkunci di balik rolling door minimarket karena belanja terlalu malam. "Aku udah pernah bilang, lukisanmu bakal laku terjual kalau kamu unggah semuanya ke internet. Kenapa kamu egois banget, sih? Mentingin diri sendiri padahal kondisi ekonomi kita lagi kesusahan kayak gini? Terus kamu mau bantuin aku sama Mama dengan cara apa? Atau sebenarnya kamu memang nggak pernah punya niat buat bantuin kami?"
Melalui pandanganku yang memburam, aku dapat melihat suatu gerakan dari arah teras kamar kami. "Abe, Mula ...." Mama melenguh. Aku tahu apa yang dia rasakan. Dia selalu marah kalau dengar Ayah membeda-bedakan kami. Baginya, kasih sayang terhadap kami sama rata karena dia tidak pernah ingin kami bertengkar dan merasa tidak mendapatkan keadilan.
Berapa kali lagi kami harus mengecewakan Mama?
"Karyamu laku 1500 USD. Tapi apa kamu peduli?" raungku. "Kamu cuma peduli sama perasaanmu sendiri. Kamu nggak pernah mikirin kami! NGGAK PERNAH!" Aku menyambar handuk di kepala dan membantingnya ke lantai. "Aku dihujat di media sosial, sedangkan kamu dipuja-puja di Candleart Dinner. Tapi apa aku terus mutusin buat berhenti berkarya? Enggak, Mula. Kalau aku berhenti, apa jadinya?" tanyaku.
"Aku nggak mau mereka menciptakan ekspektasi buatku. Aku nggak mau harus memuaskan ekspektasi mereka, aku nggak mau diatur mereka, aku adalah aku dan aku nggak akan pernah jadi siapa pun yang mereka mau. Juga ... juga Ayah. Aku dan kamu beda. Seharusnya Ayah tahu itu dari dulu." Mula tersengguk-sengguk sampai kulitku merinding. Pipinya berkedut dan wajahnya basah. Seandainya bukan aku yang menyebabkan turunnya air mata itu, aku pasti akan memeluknya. "Kamu istimewa, kamu cepat sekali mempelajari segala hal dan menguasainya dengan baik. Tapi aku juga istimewa. Aku bisa jadi istimewa tanpa harus ngikutin standar keistimewaan yang Ayah buat berdasarkan kemampuanmu."
Mula lalu berjalan ke lemari dan membuka laci, meraup seluruh lukisan lalu memasukkannya ke dalam ransel sewarna krim, membawanya pergi ke kamar Mama yang masih berdiri dengan tatapan sayu di teras kamar kami.
Aku menyerah, Mula. Maafkan aku karena nggak bertahan lebih lama lagi. Kamu selalu saja sakit hati soal sesuatu yang bahkan tidak pernah kupikirkan dan sesuatu itu ada di luar kuasaku sama sekali.
Ini sudah ketujuh kalinya—benar, aku menghitungnya—Ayah merancang desain gaun untuk gadis kecil tanpa kehadiran Mula. Berulang kali aku memintanya menunggu karena Mula belum pulang dari sekolah, tapi Ayah bilang Mula tak akan tertarik pada apa yang akan kupelajari ini. "Kakakmu tertarik pada hal yang berbeda sekarang. Dia nggak mau gambar pakaian lagi. Dia cuma mau gambar orang."
"Tapi orang kan juga butuh pakaian, Ayah?" Kecuali Mula mau tokoh yang dia gambar telanjang?
"Orang memang butuh pakaian, tapi kakakmu nggak peduli sama esensi pakaian itu sendiri. Udahlah, Abe, biarin aja Mula ngurus dirinya sendiri. Sekarang ... kita fokus sama apa yang ada di depan kita aja. Klien kita ini adalah bocah-bocah gadis berumur tujuh tahun. Mereka mau mengenakan sebuah gaun untuk pergi ke acara yang dihadiri sama anak-anak seumuran mereka. Tema acaranya adalah pesta taman. Mereka ingin kelihatan seperti putri yang anggun. Mereka berambut panjang dan lurus kayak kamu. Kemungkinan, mahkota dan kalung adalah aksesori yang paling bagus dikenakan sama gaun ini. Gaun seperti apa itu menurutmu, Abe? Kamu mau yang lengannya berbentuk kayak gimana?"
Aku pernah melihat lengan seperti itu di katalog perusahaan yang jadi klien tetap dari konfeksi tempat Ayah bekerja. Aku menggambarkannya di kertas. Ayah menjauhkan kepala dan mengamatinya sejenak, sebelum mengangguk puas.
"Berlengan Sabrina? Oke. Kerahnya?" Aku menggambar lagi. "Rata di atas dada dengan kerutan? Baiklah. Dan kita mau gaunnya sepanjang apa? Hm, dua sampai lima senti di atas lutut? Sempurna. Sekarang warnanya. Warna apa yang akan kamu pilih untuk gaun rancangan pertamamu?"
Mataku melebar dan aku tersenyum sampai kedua pipiku berkedut. Aku tak ragu-ragu membayangkan warna-warna langit lukisan Mula. "Pink, ungu, dan biru tua!"
Ayah seketika tertegun. Kemudian dia menggeleng dengan tegas. "Warna lain. Warna itu terlalu mentereng untuk gaun seanggun ini."