"Dan Prof tidak terbiasa sama alkohol?"
Aku memalingkan pandang dari Prof. Krisna begitu mendengar suara Winner, sesaat nyaris lupa bahwa dia juga ada di ruangan ini.
Prof. Krisna memasang wajah menyesal. Tabletnya kini tergeletak di atas selimut rumah sakit. "Dulu saya peminum keras."
"Prof? Peminum keras?"
Prof. Krisna hampir tertawa kencang mendapati keterkejutan di balik suara Winner. "Saya selalu menemani ayah saya minum arak sejak SMA. Begitu lulus S1, saya dapat pekerjaan dengan bayaran bagus. Saya mulai menyelundupkan chardonnay, vodka, wiski, apa pun yang bisa saya temukan untuk diminum bersama, padahal Ibu sudah melarang kami. Lambat laun Ayah mulai gampang mengamuk dan batuk tanpa henti, tapi kalian harus lihat waktu dia memelas minta dibelikan anggur. Saya tahu, Nak," dia menunduk untuk menatap kami secara bergantian, "saya bodoh sekali dulu. Seandainya saya bisa lebih keras pada Ayah, mungkin beliau masih hidup sekarang."
"Saya berharap," Winner memecah keheningan singkat di antara kami, "Prof bisa menahan diri selanjutnya, berhubung lambung Prof sekarang menjadi lebih peka."
"Kalau begitu, kalian berdua harus menjauhinya juga. Jangan jadi gelap mata cuma karena mengejar kesenangan sementara. Apalagi kalau kalian jelas-jelas tahu efek negatifnya." Prof. Krisna kembali merenung. Saat bicara kemudian, tatapannya tidak berpindah dari atas telapak kakinya. Kata-katanya seolah melayang-layang saja di udara. "Sakit sekali. Waktu saya menunggu ambulans, yang ada di pikiran saya cuma kali berikutnya mata saya terbuka, saya pasti melihat istri dan anak-anak saya dari dunia yang berbeda."
Lalu mata berpelupuk tebal Prof. Krisna mulai berubah bentuk. Bola matanya melotot. Hidungnya yang bulat jadi bercuping lebar tetapi bertulang tinggi, mirip milikku. Bibirnya yang tipis kini mengembung di bagian bawah. Pipinya tidak lagi gemuk. Dan perlahan-lahan seluruh fitur wajahnya menyesuaikan rupa seseorang yang sangat kukenali dari kecil. Dia yang mengajariku cara membaurkan warna, memilih kain, menjahit dengan jarum, menggambar pola pakaian. Tubuh Prof. Krisna memendek dan melebar, perutnya bahkan membuncit.
Di atas brankar kasur di hadapanku dan Winner, bukan lagi Prof. Krisna yang bicara pada kami, melainkan Ayah. Ayahku.
"Kurasa aku menggeliat di sofa, atau meringkuk. Perutku sakitnya luar biasa, seperti ditombak. Aku mengerti, begitu rasanya kalau daging dijadikan satai. Aku tidak bisa berhenti membayangkan hewan ternak yang disembelih. Aku merasa begitu dekat dengan maut. Sebentar lagi aku akan meninggalkan keluargaku. Aku tidak akan sempat menemani anak pertamaku menggendong anak pertamanya, apalagi menyaksikan pernikahan anak keduaku. Aku mungkin akan menangis di samping Muna karena melihatnya menangis menginginkan kehadiranku di hari-hari bahagia seperti itu. Dia akan menemani Mula dan Abril melewati fasa-fasa membahagiakan dalam hidup mereka, tapi aku akan selalu jadi sosok yang dikisahkan tanpa pernah ditemui cucu-cucuku. Dan perlahan-lahan ... dilupakan. Walau aku tahu hidupku telah kusia-siakan selama ini, tak sedetik pun aku ragu dalam mencintai mereka. Aku menunggu ambulans, tapi bukan untuk mengantarku ke kamar jenazah, melainkan untuk mengantarku kembali ke rumah. Aku ... aku menginginkan kesempatan kedua."
Napas melesak keluar dari paru-paruku. Rasa-rasanya, aku adalah kain yang amblas ke tanah, tanpa ruang untuk dihinggapi. Kempis dan tanpa bobot.
Tahu-tahu ada tangan yang mengguncang pelan bahuku. Samar-samar aku mendengar namaku dipanggil dari kejauhan. "Kamu baik-baik aja?" tanyanya.
Aku berkedip. Air mata menggelinding jatuh dan aku menunduk, memeriksa berkas basah di kulot jeans-ku.
"Abril?" tanya seseorang yang lain.
Abril. Suaranya berbeda. Suaranya tidak malas dan besar. Tidak kukenal selama puluhan tahun lamanya. Air mataku bergulir makin deras, lebih parah dari badai yang biasa menyerang pada malam tahun baru. Perasaanku terobrak-abrik. Badai itu terjadi dalam dadaku, menghancurkan seluruh organ dan menggilas apa pun yang dapat ditemuinya. Aku merasakan bibirku bergetar dan perlahan-lahan tanganku digenggam oleh tangan yang sangat besar.
Mereka tidak mengatakan apa pun setelahnya. Yang kuanggap sebagai anugerah. Segelas minum yang disodorkan oleh istri Prof akhirnya membuatku tersadar bahwa situasinya jadi semakin rumit karena kehisterisan tangisku memancing perhatian keluarga Prof. Krisna di luar ruang rawat inap. Winner tetap menggenggam tanganku sewaktu kami menyusuri lorong lantai dua dan menuruni tangga. Dia memberiku helm sambil mengusap bahuku.
"Biarin motormu parkir di kampus malam ini. Aku bakal antar kamu pulang."
"Aku baik-baik aja, Winner."
"Tolong," katanya dengan tegas, "jangan pernah mengungkapkan kontradiksi ke aku. Sekalipun aku nggak akan pernah menanyaimu semua rahasia yang lebih senang kamu simpan sendiri, bukan berarti aku senang dibohongi."