I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #29

JULI 2023 #1

Seluruh furnitur dari indekos masih kutitipkan di rumah Nelman.

Itulah yang muncul pertama kali di kepalaku setiap kali terbangun dari tidur.

Pak Lik baik sekali mau menerima kami di rumahnya. Dia hanya tinggal bersama Mbak Rumi yang berkuliah kedokteran hewan di Kampus Sudirman. Istri dan anak kedua Pak Lik, Buk Novi dan Dek Gita, menempati rumah mereka di Genteng, Jawa Timur. Rumahnya sudah sangat lengang sejak dulu, begitu alasan Pak Lik ketika meminta kami untuk menyamankan diri tinggal di rumahnya. "Abril dan Mula bisa tidur sama Rumi. Dia kan jarang di rumah, lebih sering keliling cari kasus untuk nyusun laporan."

Aku selalu bicara pada diriku. Jangan berlarut-larut terpuruknya, Abe, fokus! Ada GT yang harus kamu kerjain sebelum akhir Juli. Ada Nelman yang harus kamu kalahin. Ada kuliah yang harus kamu jalanin. Ada kerjaan yang harus kamu selesaiin. Ada keluarga yang harus kamu hidupi. Tapi ingatanku tetap saja kembali pada malam itu, ketika aku tantrum sampai membahayakan nyawa keluargaku. Rekaman live Winner sungguhan, bukan sekadar ancaman. Keluargaku dan perumahan tempatku tinggal dulu jadi topik berita. Di Bali Post, Nusa Bali, Detik Bali, Tribun Bali, Info Denpasar. Aku nyaris tertawa karena sinting. Keadaanku sudah tidak memungkinkan untuk bicara banyak, tapi beberapa wartawan tetap saja mendesakku dengan pertanyaan-pertanyaan. Mulai dari apakah aku aktivis antiminuman beralkohol sampai apakah aku mengidap ADHD.

Orang yang melempar batu itu adalah Pak Sindu, sahabat karib Ayah dari indekos belakang. Dia menyasar kepala Winner yang melangkah mundur menuju indekos kami. Winner mau memberi tahu bahwa keadaan di luar menjadi tidak kondusif dan sebaiknya kami berhati-hati. Tapi batu itu melayang lebih dulu sebelum dia mencapai gerbang. Syukurnya tidak mengenai dia. Pak Sindu dan Pak Made dibawa bersamaku ke kantor polisi untuk diinterogasi. Pihak penengah mengajukan saran untuk menyelesaikan masalah kami secara kekeluargaan. Aku harus membayar ganti rugi seluruh minuman yang kubuang, sementara Pak Sindu mengurus biaya perbaikan gerbang indekos, dan Pak Made mewakili teman-temannya harus membuat video permintaan maaf karena telah menyebutku jalang kecil dan kata-kata makian lainnya.

Sekali-kalinya aku dibela massa. Orang-orang di media sosial yang menonton rekaman live Winner lah yang memaksa agar Pak Made membuat video permintaan maaf tersebut. Hatiku terenyuh. Masih ada yang membelaku padahal mereka juga tahu akulah yang pertama kali cari gara-gara. Tapi kata-kata makian itu tidak sepadan, kata mereka.

Di luar masalahku, dunia masih terus berjalan tanpa peduli apakah aku butuh hibernasi atau tidak.

Liburanku didominasi oleh rapat porseni. Kami sedang menentukan bulan pelaksanaannya. Ujian tengah semester akan diadakan pada bulan Oktober, maka seluruh persiapan harus sudah selesai pada Agustus atau September.

Beberapa hari ini rasanya lebih seperti mimpi yang mengambang. Semua aktivitas yang kulakukan hanyalah sesuatu yang kusaksikan, tidak benar-benar kurasakan. Aku dapat melihat tanganku dan orang-orang yang melintas di hadapanku, tapi lebih pas rasanya jika semua itu kusaksikan lewat rekaman kamera yang tertancap di dadaku.

Perasaanku jadi semakin amburadul ketika mengingat Ayah. Aku meninggalkannya begitu saja untuk tinggal di rumah Pak Lik, sementara aku menumpang di indekos Rosi. Beberapa hari lagi Rosi akan pulang ke Kudus, tapi dia mengizinkanku untuk tetap tinggal di indekosnya. Aku tak pernah mengabari orang rumah kecuali Mama dan aku pergi tanpa sepatah kata maaf pun. Sudah begitu, aku masih mengharapkan Nelman akan meminta maaf padaku atas kesalahan yang telah diperbuatnya bertahun-tahun lalu? Kini aku tahu rasanya.

Perasaan enggan memintaa maaf itu bukan disebabkan oleh tidak adanya rasa bersalah. Sebaliknya, aku merasa kesalahanku sudah tidak bisa lagi ditoleransi, bahkan tidak sepantasnya aku dimaafkan sehingga meminta maaf akan terasa sangat memalukan. Aku merasa rendah dan kecil.

Sebisa mungkin aku mengurangi kunjungan ke rumah Pak Lik kecuali untuk menjemput martabak Mama dan mengantarnya ke Padangsambian pada pagi buta. Pernah suatu siang aku pergi ke sana untuk mengambil jas almamater karena aku tahu dari Mama bahwa Ayah sedang pergi bersama Pak Lik mengantarkan karangan bunga pesanan di Tabanan. Tapi kemudian, aku malah menemukan Mula duduk di halaman belakang rumah Pak Lik. Tatapannya terpaku pada rerumputan hijau yang tumbuh di antara ember-ember penuh air yang digunakan sebagai tempat menampung berikat-ikat bunga dari pemasok toko Pak Lik. Dia tidak kelihatan hidup. Hanya rongga yang dilalui angin dan dibelai rerumputan.

Aku akhirnya berhasil mengalihkan pikirannya dari Ludwig. Tapi haruskah dengan cara seperti ini?

Sulit berkonsentrasi pada kegiatan yang sedang kulakukan. Dokumen-dokumen terkait kepentingan porseni yang dikirimkan padaku untuk diperiksa kuteruskan lagi pada mereka tanpa pernah kubaca. Rugi juga mencoba, aku akan selalu kembali ke paragraf atas setelah setengah halaman.

Media sosial terlalu ribut. Mahasiswa ISTB menghubung-hubungkan ketantrumanku yang tampak di rekaman live Winner dengan isu-isu buruk tentangku di kampus. Aku mengubah pengaturan audio ponsel menjadi senyap agar tidak perlu mendengar dentingan notifikasinya berulang kali. Tapi dengan kehadiran Rosi dalam hidupku, sejujurnya, tindakan itu sia-sia saja. Dia tidak pernah mau repot-repot menikmati liburannya di Kudus dan pura-pura melupakanku. Malahan, itulah alasan utamanya rajin menghubungiku. Kalau aku mengabaikan teleponnya, dia mengancam akan membacakan seluruh komentar buruk yang ditemuinya di media sosial pada Mama.

Jadi aku terpaksa mendengarkan semua ocehannya.

"Ini, komentar terbaru dari joelcarpenter. Bawa dia ke psikeater, dia butuh obat atau sekadar plasebo buat jiwanya yang terganggu. Ih, amit-amit aku ketemu sama orang kayak Joel Carpenter. Dikit-dikit bergaul sama obat gangguan jiwa."

"Dengar katanya sanamochi123, eh, tapi kok bisa ya dia percaya diri banget komentar di postingan orang lain padahal namanya sanamochi123? Dengar ini. Memalukan institusi pendidikan sekelas ISTB, tantrum tanpa alasan jelas bukan sikap orang yang berpendidikan. Lah, memang orang berpendidikan menamai akun Instagramnya sanamochi123? Gak waras."

Lihat selengkapnya