I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #30

JULI 2023 #2

Sepuluh lapis kedalaman. Warnanya menjadi semakin gelap mendekati latar belakang. Setiap potong kusangga dengan tape berketebalan beda sesuai tingkat lapisan. Awalnya aku menggambar konsep seorang gadis yang sedang menatap kamera, tapi lalu aku merasa tidak cukup puas karena Mula selalu saja hadir memenuhi benakku, seolah menagih bagiannya sendiri.

Kemudian, hadir suatu konsep segar yang aku yakin belum pernah sebelumnya diterapkan pada GT mana pun di kampus ini. Aku terinspirasi dari lukisan dengan dua warna saling tindih. Dilihat menggunakan kacamata biru, maka figur merah yang tampak dan dilihat dari kacamata merah, figur biru yang tampak. Teknik itu kupelintir sedikit menggunakan bantuan konsep 3D sehingga menimbulkan ilusi mata.

Jadi kalau ada orang yang masuk ke lorong dari arah ekosistem kolam buatan, dia akan melihat Moon of Abe yang berambut pendek sebahu, sedang menatap ke dinding di seberangnya. Kalau orang tersebut masuk ke lorong dari kompleks dalam Sastra Inggris, yang dilihatnya adalah seorang gadis berambut panjang dan berhidung mancung yang begitu mirip aku, tetapi kunamai Beginna.

Dan kalau ada yang memandangi GT-ku dari arah depan seperti yang kulakukan bersama Nelman ini, yang mereka lihat dengan jelas hanya potongan-potongan kertas yang dimanipulasi hingga tampak seperti tekstur berbagai macam kain dan juga ketujuh tujuanku dalam gelembung percakapan. Aku mengatur sedemikian rupa potongan-potongan kertas itu dengan dua palet warna untuk masing-masing karakter.

"Ini sih nggak ada tandingannya." Nelman menggeleng-geleng sambil bertepuk tangan dalam ritme lambat. "Kalau berdasarkan ilmu tafsir GT yang kupunya, dalam GT-mu itu ada dua gadis yang hidup dalam satu jiwa. Masing-masing gadis punya kepribadian yang berbeda. Tapi tujuan mereka tetap sama, dilihat dari tatapan mereka yang serempak terarah ke depan."

"Aku memandangnya sebagai kemampuan, daripada kepribadian. Ada lebih dari satu kemampuan yang kukuasai, tapi menurutku dua adalah angka yang cukup untuk merepresentasikan itu. Basket, menjahit, menggambar, pastri, bahasa, desain. Aku adalah plural yang hidup dalam singularitas."

Nelman bersiul. "Aku merasa kompetisi di antara kita baru aja dimulai, Abril. Kurasa setelah ini posisi kita sama, nggak akan ada yang ngomongin keburukan GT-mu lagi."

Aku menolehnya untuk menunjukkan seringai setuju. Punya Nelman juga keren. Kamera masih menjadi fokus utama GT-nya. Memang dari seluruh bantuan yang kuberikan, kameralah satu-satunya elemen yang merupakan ide orisinalnya.

Replika kamera ini jauh lebih besar. Lensa eksternal kini menonjol dengan cara yang berbeda, tidak lagi berlapis seperti dulu. Dia menggulung beberapa kertas dan memasangkan semua itu hingga menjadi suatu silinder yang kemudian ditempelkannya ke bagian lensa kamera. Lensa itu cukup besar sehingga meskipun dibaginya menjadi lima seperti roda spektrum warna, orang masih dapat melihat gambar di masing-masing bagian tersebut. Rusa di padang rumput, seorang anak yang menerbangkan layang-layang, ikan dalam akuarium berbentuk bola, bayi dalam air dengan tangan dewasa mengawasi di belakangnya, dan kumbang merah di atas daun.

"Kamu mau aku percaya semua itu kamu gambar sendirian?"

"Nggak, lah. Masa aku tiba-tiba sehebat itu?"

"Tracing ya?"

"Yaaak, seratooos! Lagian ... nggak ada larangan tracing, kan?"

"Iya, asal bukan lukisan hasil cetakan aja. Gimana sama warnanya?" Kameranya masih berwarna menyerupai baja gelap, tetapi gambar-gambar di lensanya—yang kemudian dia bubuhkan garis lalu tujuan di setiap ujungnya—berwarna hitam dan putih.

"Masih sama."

"Tracing juga."

"Yes, jadi aku gambar kayak bocah, asal ikut garis aja."

Lihat selengkapnya