Rumah yang menjadi pilihannya memiliki sepetak halaman rumput tempat dia meletakkan stand kanvas, sepasang kursi lipat, dan peralatan memanggang. Dia bisa menyimpan semuanya di teras apabila cuaca berubah menjadi buruk. Di sebelah kanan teras ada jalan setapak yang menghubungkan halaman depan dengan halaman berlantai beton untuk menjemur pakaian di bagian belakang rumah. Pintu lain untuk menuju halaman belakang adalah melalui dapur.
Ruang tengahnya bisa dipakai untuk menampung empat tenda kemah yang ditata memanjang. Aku cuma bisa bilang waaah dalam hati waktu pertama kali memasuki pintu depan. Dua kamar tidur berjajar di sisi kanan setelah kita melewati pintu masuk. Kamar mandinya di dekat dapur, di belakang dinding ruang tengah. Siapa pun yang bertamu akan bisa melihat orang-orang yang berjalan ke kamar mandi dari kamar tidur. Aku memikirkan ini dengan sangat serius karena aku tipe gadis yang memakai kaus longgar lecak, celana senam, rambut-cepol-peduli-setan, dan malas mencuci muka kalau sudah di rumah. Tapi aku paling tidak bisa kelihatan kumal di depan orang selain keluarga atau orang-orang yang dekatnya sudah seperti keluarga. Tapi ya sudahlah. Di luar masalah keluar kamar langsung berpapasan dengan ruang tamu, rumah ini hebat.
Satu kamar tidur ditempati oleh Mama dan Ayah, sementara satunya lagi untuk aku dan Mula, tetapi dia sudah membeli kasur lipat. "Aku bakal lebih sering di ruang tamu atau halaman depan siang dan malam. Cuma baju sama barang-barangku aja yang kutaruh di kamar kita," katanya padaku sambil membukakan pintu kamar kami yang berbau seperti jamur dan pasir.
Aku kembali ke dapur, mengamati kompor tanam yang tampak praktis di dapur. Bentuk konternya L dan terhubung langsung dengan meja makan di luar bar. Entah kapan Mula membeli ini, tapi sudah ada dispenser digital, oven microwave konveksi, dan rak besi untuk sederet seri cangkir di atas bar.
Kalau sudah sampai ada barang-barang tersier baru di rumah kami, berarti ada uang lebih dari cukup untuk sekadar bertahan hidup.
Aku menoleh ke belakang. Mula dan Fajar sedang mengangkut rak sepatu ke dalam gerbang, mereka membelok ke garasi. Sempat kudengar Fajar berkata, "Buatin aja ruang lemari khusus sepatu. Iiiih, sepatumu banyak sekali, Mul, murah-murah semua lagi."
Di garasi, Mama sedang mencuci perabotan dapur yang berdebu, sementara Ayah mengecat kembali dinding kamarnya yang lembap. Lalu ada Nelman, yang memarkirkan pikapnya mepet dengan gerbang. Dia keluar, membanting pintu mobil, kemudian mendapatiku memperhatikannya dari dekat pintu rumah. Kepalanya lantas mengangguk padaku dan berpindah lagi ke bak pikapnya. Masih ada beberapa barang lagi di sana. Aku menghampiri Nelman. Kami mengangkat kardus buku-buku Mula yang jauh lebih berat dari koper-koper berisi pakaian ke ruang tengah.
Di depan pintu, kami berpapasan dengan Mula dan Fajar—Fajar mengoceh soal, "Ya udah, beli meja kerja baru, jangan kayak orang nggak punya uang gitu. Kamu mau aku kasih uang biar tahu rasanya jadi karyawanku?"
Kardus itu kami letakkan di lantai dekat meja televisi. Nelman lalu mundur dan mengamati rak buku yang kosong. "Kata Kak Mula, rak yang ini mau dijual. Dia mau beli set rak gantung. Tapi sekarang kamu tata aja dulu buku-bukunya, biar kardusnya bisa dilipat lagi."
"Hm," kataku dengan malas. Seharusnya kan aku yang memberi perintah di rumahku.
"Aku mau ke dalam, bantu Om Talas ngecat dinding. Barusan aku mampir ke toko cat beli kuas sama roll."
"Kenapa beli baru? Ayah kan udah punya."
"Iya, tapi itu kan lagi dipakai. Kalau Om Talas ngecat sendirian, kelarnya baru besok. Udah ya." Dia kembali dari pikapnya sambil menenteng kuas dan roll. Nelman lalu membelok masuk ke ruangan yang akan jadi kamar Ayah dan Mama. "Om, aku dari sebelah sini, ya? Oh, yang ini udah ditimpa pakai cat tahan bocor, oke."
"Kamu bisa ngecat?"
"Bisa-bisaan aja, Om. Asal hasilnya nggak diminta yang sempurna banget, aku percaya diri aja."
Aku berhenti menata buku untuk mendengarkan dengan lebih saksama.
"Untung dindingnya rata. Dinding lorong rumah kami dulu, sebelum pindah ke indekos, agak miring. Pakai roll jadi nggak rata, semua bagian harus dirangkap sama kuas. Kalau nggak, nanti jadinya kayak berpori."
"Om selalu ngecat rumah Om sendiri ya?"
"Dulu ... sama teman Om juga."
"Sama teman Om? Teman SMP, SMA, atau kuliah? Biasanya yang langgeng itu teman SMP ya, Om."
"Ya ...."
"Aku sama Abril teman SD. Mungkin kalau nggak ketemu waktu kuliah, kami nggak bakalan akrab kayak gini. Om sama temen Om masih tetap kontak sampai sekarang?"
"Nggak ... dia udah pergi."
"Pulang kampung?"
"Aku nggak tahu. Nggak pernah ada kabar lagi."
"Wah, sayang juga ya, Om? Kehilangan teman baik itu rasanya kayak kehilangan saudara. Tapi kalau kuperhatikan lagi, Om Talas sama Tante Muna aja udah cukup. Kalian itu gambaran sahabat sejati sesungguhnya. Kayak katanya Rahul Kanna waktu ditanya sama dosennya, apa itu cinta, Rahul bilang cinta itu persahabatan. Kalau cewek itu nggak bisa jadi sahabat Rahul, Rahul juga nggak akan bisa jatuh cinta sama cewek itu. Aku selalu berpikir seandainya aku berakhir sama sahabatku, pasti cinta kami bakalan abadi. Om sama Tante Muna kelihatan banget kayak gitu. Jadi sebanyak apa pun sahabat yang pergi ninggalin Om, akan ada satu yang tetap tinggal. Satu yang paling istimewa. Tante Muna."
Di luar dugaan, Ayah tertawa. "Aku nggak pernah melihatnya dari sudut pandangmu itu."
"Kalau gitu, bisa dilihat mulai dari sekarang. Itu Tante Muna lagi di depan, nyuci perabotan. Kalau Om mau bantu, bantu aja nggak apa-apa, nanti biar kupanggilin Abril buat gantiin bagiannya Om."
Ayah menggeram, tapi aku mendapati kesan jenaka dalam nadanya. "Itu sih maumu aja."
Nelman berdeham. "Kita sama-sama untung kan, Om?"
Tapi kemudian aku benar-benar mendengar langkah kaki khas Ayah yang sangat berat dan seolah berkecipak walau dalam keadaan kering sekalipun. Aku langsung menyambar banyak buku dari dalam kardus dan membelakangi pintu kamar untuk menata semuanya.
Sesaat langkah kaki itu terhenti. Aku bisa merasakan kehadirannya meskipun berjarak sekitar empat meter.
"Aabriiilll!" panggil Nelman dengan nada mengundang. Langkah itu pun kembali terdengar hingga keluar pintu utama.