I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #32

SEPTEMBER 2023 #1

Sudah hampir lewat tiga minggu sejak tur GT, tetapi obrolan soal GT-ku dan GT Nelman belum surut juga. Itu bisa terjadi karena:

1. Malik dengan sengaja memotret GT milikku, Nelman, dan Winner, kemudian mengunggah foto itu ke media sosial pribadinya.

2. Kabar soal Abril Gabrina dan Nelman Kialo Sudrajat telah melegenda sehingga para mahasiswa baru berbondong-bondong ingin melihat GT kami dengan mata mereka sendiri.

3. Mereka memuji-muji GT-ku sampai-sampai mengunggahnya juga ke media sosial mereka.

4. Tampilan GT baruku dan Nelman dijadikan tolak ukur pemilihan kubu, antara yang mendukungku atau mendukung Nelman.

Dan masih banyak sekali faktor lainnya. Bahkan Prof. Krisna yang sudah dinyatakan pulih juga mengungkit soal GT-ku di depan semua mahasiswa tahun pertama yang diajarnya.

Menjadi pusat perhatian sudah biasa bagiku, bedanya kali ini, pusat perhatian positif. Adik-adik tingkatku yang manis itu memenuhi kolom komentar akun moonofabe dengan berbagai macam pujian dan dukungan.

Aku memanfaatkan ketenaran ini untuk mempromosikan akun Candleart Dinner dan LinkedIn milikku. Dalam deskripsi, aku menyatakan bahwa aku aktif sebagai ilustrator novel grafis, komik, dan kolom majalah. Aku mencantumkan tautan menuju akun Instagram dan situsku yang berisi portofolio. Pada Kamis malam, sepulangnya dari kampus, aku bersiap-siap membuka laptop yang selalu kusandarkan di meja belajar baru, tapi aku tidak bisa menemukan laptop itu. Panik menyerangku. Dugaan pertama yang melintas di kepala: laptop tua itu akhirnya rusak dan Mula pun membawanya ke tempat servis gawai. Padahal aku baru mendapat DM berisi permintaan untuk membuat ilustrasi sampul novel.

Dalam kepanikanku itu, Mula memasuki kamar sambil memeluk kardus putih besar. Dia meletakkannya di meja yang lapang. Foto laptop yang terbuka terpampang di sisi depan kardus. Aku menatap Mula.

"Buatmu," katanya, menyodok kardus itu main-main.

Laptop baru.

"Fajar yang milihin. Katanya ini bagus buat desainer. RAM-nya besar, prosesornya kuat. Dia juga udah bantuin install beberapa aplikasi desain yang menurutnya bakal kamu perluin. Kalau untuk tablet gambar baru, tunggu dulu ya. Masih nabung nih. Bingung mau beli Ipad atau tablet."

Aku masih memelototi foto laptop di kardus itu sewaktu dia melenggang keluar dari kamar. Buru-buru aku meraih bahunya. "Yang lama mana?"

"Masih dibawa Fajar, HDD-nya mau dicopot."

"Mau kamu apain?"

"Jual, lah! Habis itu beli lagi laptop yang baru buatku." Dia merentangkan senyum sambil menaikturunkan alis.

Aku pernah ditanya oleh Bu Darmani waktu kelas 2 SD. "Salah satu sifat air, yaitu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Namun, dalam beberapa kasus, air bisa mengalir dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi. Abril, coba beri saya contohnya." Karena terkejut menjadi pilihan pertama Bu Darmani pagi itu, aku pun cuma bisa melongo dan aku ingat betul dia mencebik sebelum melanjutkan. "Sudah saya duga kamu nggak akan bisa menjawabnya. Nelman? Beri saya contohnya."

Nelman pun menjawab, "Air mancur, Bu."

Bayangan mengenai aliran air yang menyembur ke atas langsung menyentakku waktu itu. Benar juga. Bagaimana bisa Nelman memikirkannya, tetapi aku tidak? Sensasi menyentak itu muncul lagi sekarang. Aku merasa bahwa akulah air mancur itu. Air menyembur dari dalam tubuhku dan keluar melalui celah-celah di mataku. Dengan tangan lemas aku menghambur untuk memeluk leher Mula. Di sana aku menangis sampai sesenggukan.

Dulu, aku pernah terbangun di sore hari karena mimpi buruk. Sepertinya waktu aku masih kelas empat. Hari-hari setelah aku difitnah oleh kakaknya Dwi Fernanda adalah rentang waktu terburuk dalam masa kecilku. Aku mimpi Mula dihajar Bu Darmani sampai dia diangkut ambulans. Aku pun terbangun dan langsung menangis sambil mencarinya di sekeliling rumah. Dia sedang duduk di teras belakang, melukis gubuk di sawah, waktu aku menemukannya. Percis seperti saat ini, aku lalu menggelayutinya sampai dia mau rubuh.

"Aku berubah jadi bego kalau lagi jatuh cinta."

Meskipun kata-kataku jadi terdengar seperti minyak meletup-letup dalam wajan, aku tetap berkata, "Kok baru sadar?"

Lihat selengkapnya