I Am Way Better than You, Nelman

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #33

OKTOBER 2023 #1

"... ngasihin kunci ke G."

"Padahal kan itu mobilnya K."

"Itulah, aneh banget kan? Kenapa si G yang ribet?"

Aku menghantamkan kunci pikap Nelman sampai permukaan meja panitia bergetar. Panitia dan penanggung jawab di sekeliling meja terlonjak di tempat.

Arah kedatanganku dari kamar mandi di sudut lapangan indoor, yang dapat diakses dari luar, tepat di ujung koridor sebelah halaman parkir. Mungkin itulah alasan mereka bertingkah seperti oknum-oknum yang terkena gerebek begitu aku sampai di meja tanpa diduga-duga.

Karena mereka sedang membicarakan aku.

Tadinya sedang membicarakan aku.

Lalu aku mendorong kunci ke arah Sul, ketua divisi prasarana dan transportasi, sambil menatap tajam semua orang. "Pikap K kuparkir di selasar depan. Kamu harus balik ke kampus buat ambil stand papan nilai, kan?" tanyaku dengan nada defensif.

Sul menggesek-gesek tengkuknya yang berambut lebat. "Aku jalan sama siapa?"

"Kamu kan ketua divisinya, kamu harusnya bisa nentuin sendiri, dong? Tapi sebaiknya kamu pergi sama siapa pun yang nggak bisa kamu ajak gosipin G sih, Sul, supaya kerjaanmu nggak ketunda-tunda terus kayak gini. Sekarang, bisa tolong gerak cepat, nggak? Mobilnya mau dipakai ambil kardus air di Sabda Abadi."

Porseni sudah mendekati puncak acara. Mungkin itulah sebabnya semua orang jadi semakin gencar merangkap seluruh gosip tentangku. Kali ini tentang apa, aku tidak tahu. Winner punya dugaan mereka mengganti namaku dengan inisial G untuk Gabrina dan K untuk Kialo karena dia juga sering mendengar gosip-gosip seperti itu di lingkungan kepanitiaan.

Kuawasi terus Sul, mulai dari bangkit dengan kikuk sampai melangkah meninggalkan meja. Tatapanku kemudian jatuh pada para panitia di meja.

"Abril," kata Amara, rambutnya pendek, berpotongan bob kasar. Aku menahan diri untuk tidak menjambak helai-helai rambut baru yang mencuat di kepala bulat kecilnya. "Kami cuma lagi ngomongin soal pikap Nelman, kok," katanya sambil tersenyum patah-patah. "Kalian udah kayak kakak adik aja tuker-tukeran nyetir mobil."

Dan itu sama sekali bukan urusanmu, kata tatapanku sebelum pergi. Coba saja dia bicara dengan Mula untuk mendapatkan jumpscared "tahi kucing" di setiap akhir kalimat.

Pada malam penutupan porseni, para panitia diwajibkan mengenakan pakaian adat Bali. Namun, aku, Winner, dan Nelman berangkat dari tempat tinggal masing-masing menggunakan pakaian bebas. Kami kemudian mempersiapkan panggung yang akan digunakan untuk menampilkan juara lomba cabang-cabang seni. Setelah semua beres, barulah kami berganti pakaian sesuai kode yang telah ditentukan.

Kebaya dan kamen terlipat rapi di lenganku. Aku mengempitnya menuju kamar mandi di bawah tribun lantai dua gedung auditorium. Durasi lumayan mepet, aku harus berdandan secepat kilat karena kebagian tugas menyerahkan piala penghargaan kepada juara pertandingan cabang-cabang olahraga.

Tepat saat aku membelok ke arah tangga utara di bagian pertengahan toilet perempuan dan laki-laki, lenganku diseret paksa seseorang.

"Kamu harus dengerin ini." Suara berat dan dalamnya lebih dulu kukenali daripada rambut jewfro tampak belakangnya.

"Hei! Aku cuma punya enam menit sebelum penyambutan ketua panitia. Bisa, nggak, kamu biarin aku ganti baju dulu?"

"Kamu nggak jelek-jelek amat meskipun nggak dandan. Tapi kamu harus ikut aku karena aku tahu dan yakin ini bakal menjawab rasa penasaranmu."

"Rasa penasaran apa?" Suara kami bergetar, seperti kalau ada puluhan apel yang menggelinding di atas bak pikap yang melewati jalan rusak. Tapi Malik kedengaran lebih tenang. Tentu saja. Dia kan tidak sedang diburu durasi. Selalu saja jaket dril jurusan yang dia banggakan. Pada segala kesempatan di kampus, dia selalu mengenakan itu. Bahkan di acara besar seperti ini.

Kami berjalan cepat memutari gedung, menuju lorong yang digunakan untuk naik panggung lewat belakang gedung. Untung saja aku belum mengenakan kamen dan wedges peach-ku. Kupikir kami akan menikung ke kiri lalu masuk ke panggung karena dia mau menunjukkan bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan.

Namun, ternyata dugaanku salah.

Malik mendorongku dengan cekatan ke arah toilet umum yang terlalu sering digunakan sampai bau pesingnya menyerang kepalaku tanpa tedeng aling-aling. Lampu toilet padam. Dia menutup pintu dan menguncinya. Mataku terbeliak.

"Mal—" mulutku dibekap olehnya. Aku mengepalkan tangan, bersiap melayangkan tinju ke kepala Malik, tapi dalam kegelapan, skleranya—bagian paling terang di tubuhnya ketika mulutnya tertutup seperti ini—mencolok sekali. Dia sedang memelototiku. Tatapanku beradaptasi. Garis kepalanya mulai terbentuk. Matanya melirik ke sebelah. Dia lalu melepaskan bekapannya untuk mendekatkan telunjuk ke mulutnya sendiri.

"Dengerin," bisiknya.

"... bodoh banget. Siapa yang nggak suka?" Sayup-sayup aku mulai mendengarkan suara yang tadinya tidak kusadari ada. Latar di belakang suara itu berupa alunan musik bernada gembira yang sengaja diputar untuk menemani tamu yang sudah datang sebelum acara dibuka. "Pikap sih bakalan senang-senang aja bisa dapat dua cewek. Komiknya aja yang keterlaluan bodohnya."

Lihat selengkapnya