Mula terang-terangan bersikap ragu mengizinkan Ayah untuk bekerja di garmen milik orang Suwung. Dia yakin bisa memenuhi kebutuhan hidup kami sekarang. Lukisannya laku keras seperti dugaanku, tapi jauh melebihi apa yang berani kuekspektasikan pada awalnya. Namun, sifat keras kepala pada diriku ternyata diturunkan dari Ayah sehingga Mula yang mewarisi hati rapuh Mama menyerah menahan Ayah.
"Janji cuma sampai apa yang Ayah inginkan itu kebeli?" tagihnya. Ayah sengaja tidak memberi tahu Mama rencananya membeli gerobak. Biar itu jadi kejutan yang manis.
"Iya, Mulaaa."
Jadi, Mula menunda agenda membeli tablet gambar demi memesan satu motor yang akan digunakan Ayah untuk pulang-pergi kerja, padahal baru dua bulan lalu Mula membeli motor khusus untuk digunakan Mama di rumah, sementara dia sendiri mengalah dengan berangkat ke Bukit Jimbaran menumpang bus trans.
Pertanyaanku malam itu masih membekas dalam ingatan. Dan setiap kali itu terjadi, kepalaku akan panas sekali karena malu. Mungkin karena cara Nelman memalingkan wajah dengan raut terganggu setelah mendengarnya. Aku sudah lancang. Berteman dengannya saja seharusnya sudah cukup, kan? Kenapa pula aku sangat mau tahu urusan pribadinya? Mau Nelman punya pacar, punya alien simpanan, punya kambing yang bisa salto, bukan urusanku.
"Kafka sama Nelman udah di kantin nih." Rosi membacakan pengumuman di grup kami yang beranggotakan lima orang. "Kelas pertama mereka diganti online, mau kuliah di kantin sambil makan, katanya."
Aku menggaruk-garuk kepala belakang. "Nanti aku nyusul deh ya, mau ngejar tenggat terjemahan nih, di perpus. Aku mulai dikasih soal-soal biologi, harus serius belajar hangeul."
"Kamu bawa laptop, kan?" Winner bertanya. "Di kantin aja yuk."
Aduh ... tumben aku mengeluh karena punya laptop baru. Aku jadi tidak punya banyak alasan untuk menghindar dari Nelman. "Tapi aku udah janjian sama Delio." Sebenarnya kami tidak pernah membuat janji, tapi aku tahu Delio sangat senang menghabiskan waktu di perpustakaan. Dia selalu menyisakan ruang untukku atau untuk Samantha kalau pacarnya itu masih di kampus.
"Ajak aja tuh ketua DPM ke kantin. Sekali-kali merakyat kenapa?" Rosi mengerutkan hidung. Kutil kecil yang ada di ujung kanan hidungnya jadi kelihatan seperti paku payung.
"Aku temuin dia dulu di perpus. Kalau dia mau gabung di kantin, nanti kami nyusul. Dah! Aku duluan ya, biar Delio nggak kelamaan nunggu." Langkah seribuuu! Heran, cuma mau menyendua saja susahnya minta ampun. Tapi bagusnya dengan Delio adalah aku bisa tetap merasa sendirian walau sedang duduk di sebelahnya. Dia orang yang tenang, hanyut dalam dunianya sendiri, murah tawa, mudah diajak bersekongkol, dan tidak suka bertanya macam-macam, walau terkadang suka menggoda.
Delio melambai tinggi-tinggi waktu aku mendorong pintu kaca perpustakaan. Tempat favoritnya di perpustakaan adalah sofa hitam dekat pintu keluar belakang. Aku duduk di sebelahnya dan langsung mengurai kabel charger laptop. Dia membantuku memasang kabel baterai, sementara aku memasang steker di sebelah pilar.
"Kupikir hari ini aku bakal nongkrong sendirian."
"Samantha nggak ke kampus lagi?"
"Mata kuliahnya sisa sepuluh SKS aja semester ini. Dan lebih sering online."
"Kenapa nggak kamu aja yang main ke Uluwatu?" Samantha hanya tinggal berdua dengan saudara kembarnya, orang paling menyenaaangkan di Tata Surya.
"Sering, tapi di luar hari aktif kuliah. Jadwal DPM nggak bisa ditawar-tawar."
"Apalagi ketua ya, aku yang cuma anggota BEM aja kadang sulit napas."
Delio tergelak. Kami lalu tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Delio menghadiri rapat UKM Wushu, aku melengkapi catatan hangeul. Perhatian kami baru teralihkan ketika ada seseorang yang bergabung dengan kami di sofa seberang meja kaca. Haaah ... bukan sembarang orang kalau dia adalah bocah Kialo Sudrajat itu. Aku menggaruk-garuk tepi rambut hitam yang kugerai setengah bagian.
"Halo!"
Aku menuding Delio. "Rapat," bisikku kepadanya.
"Oh," kata Nelman. Dia mencondongkan tubuh menyeberangi meja. "Habis, aku nungguin di kantin, tapi kamu nggak datang-datang. Kata Winner, kamu ada janji sama Delio di perpus."
Aku cuma meliriknya saja, sebelum kembali pada buku dan laptop di meja. Kalau tahu begini mending aku dan Delio membuat janji temu di Colorado atau Pluto sekalian.